“Kalau kamu bisa memutar waktu, kamu ingin kembali ke masa apa?”

Awalnya saya membuka laptop untuk memindahkan data dari handphone ke laptop. Apa daya ternyata free disk space drive D saya hanya tinggal 192 MB. “Wah memang sudah waktunya beli laptop baru”, batin saya yang memang sedang ingin. Tapi tentu sebenarnya bukan laptop yang sudah terlalu lama yang jadi penyebab. Melainkan karena memang sudah terlalu banyak data yang saya simpan di dalamnya. Akhirnya saya pindahkan sebagian data ke drive E, salah satunya saya memilih folder skripsi.


Jadi teringat saat saya sedang melakukan penelitian tugas akhir ini. Prosesnya menyenangkan dan alhamdulillah Allah izinkan saya untuk bisa menikmati setiap momennya. Sambil me-recall pengalaman saya saat lalu, tiba-tiba saya menjadi semangat karena sepertinya hasil penelitiannya bisa menjadi lebih bermanfaat selain menjadi syarat kelulusan saya kemarin. Hasil penelitiannya bisa saya bagikan di sini dengan tentu harus diolah dengan menggunakan diksi yang ramah dibaca dan dipahami. Kalaupun ternyata tidak sebermanfaat itu bagi orang lain, izinkan ini menjadi bermanfaat bagi saya pribadi yang sedang mencoba memenuhi kebutuhan tertinggi menurut Abraham Maslow dalam teori The Hierarchy of Needs-nya yaitu self-actualization needs (Taormina & Gao, 2013). Kebutuhan untuk aktualisasi diri.



Secara singkat penelitian saya saat itu berjudul “Pengaruh emosi akademik dan school belonging terhadap kepuasan hidup siswa”. Walau sudah saya singkat ternyata masih panjang juga ya. Anggaplah tidak apa-apa. Pertimbangkan saja sebagai usaha untuk memperbanyak kata dalam tulisan ini. Kembali ke penelitiannya, respondennya adalah 471 siswa SMP Negeri di kota Bandung yang berbaik hati mengisi beberapa halaman kuesioner online. Saya tidak akan menceritakan hasil penelitian saya secara keseluruhan. Saya akan menceritakan salah satu poinnya saja, yaitu


“47.60% school belonging yang dirasakan siswa dapat memengaruhi kepuasan hidup siswa”


Makhluk apa itu school belonging? Menurut Goodenow (1993) school belonging adalah perasaan di mana siswa merasa diterima, dihargai, dan didukung oleh seluruh anggota lingkungan sekolah. Ya. Seluruh anggota lingkungan sekolah. Yang berarti bukan hanya guru dan teman di sekolah. Tapi lebih dari itu. Termasuk staf tata usaha, penjaga kantin, petugas keamanan, juga tentu petugas kebersihan. Masalahnya school belonging ini bisa dikatakan sebagai perasaan yang siswa rasakan secara pasif karena menekankan pada bagaimana siswa merasa bahwa ia diterima, dihargai, dianggap penting, dan didukung. Kalau siswa sebagai pihak yang pasif, lalu siapa yang berperan aktif? Tentu anggota lingkungan sekolah.


Ada satu variabel lagi yang belum saya ceritakan. Kepuasan hidup. Diener dan koleganya menceritakan bahwa kepuasan hidup ini adalah proses evaluasi kognitif di mana seseorang menilai kepuasan yang dirasakannya dengan cara membandingkan keadaaan dirinya dengan standar tertentu yang ia yakini (Diener, Emmons, Larsen, & Griffin, 1985). Kepuasan hidup pada siswa berbeda dengan kepuasan hidup pada orang dewasa. Kepuasan hidup siswa banyak dibahas oleh Huebner (1994) yang menjelaskan bahwa kepuasan hidup siswa dapat dilihat dari lima domain yaitu kepuasan terhadap keluarga, teman, sekolah, lingkungan tempat tinggal, dan diri sendiri. Siswa akan melakukan perbandingan, baik itu ia lakukan secara sengaja, maupun tidak sengaja. Baik itu ia lakukan karena disuruh, atau karena sedang ingin saja. Mereka akan melakukan perbandingan antara apa yang dirasakan saat ini dengan keadaan yang dianggap sebagai kondisi ideal untuk dapat dikatakan sebagai merasa puas akan hidupnya.



Seperti yang kita lihat pada poin yang diceritakan oleh Huebner bahwa kepuasan hidup terhadap sekolah menempati satu dari lima domain yang memengaruhi kepuasan hidup siswa secara keseluruhan. Hmm, serasa kembali diingatkan bahwa peran kita sebagai guru, sebagai salah satu anggota lingkungan sekolah yang paling banyak berinteraksi dengan anak, adalah peran yang tidak mudah walau tetap menyenangkan.


Lalu ada apa kalau school belonging memengaruhi kepuasan hidup siswa hingga 47.60%?


47.60% bukanlah angka yang kecil untuk menentukan kepuasan atau ketidakpuasan siswa terhadap hidupnya secara keseluruhan. Atau itu menurut saya saja ya bahwa angka itu besar? Kalau dilihat sih memang sebenarnya masih ada 52.40% faktor lain yang memengaruhi kepuasan hidup siswa, tapi saya juga tidak bisa menganggap tidak penting angka 47.60% ini. We have to realize that we have big impact to students’ life satisfaction. Bagaimana jika ternyata kita, sebagai salah satu komposisi yang ada pada “anggota lingkungan sekolah” tidak menghargai anak, tidak mendukungnya dengan maksimal, tidak menjadi seseorang yang bisa menerimanya dalam segala keadaannya. Ternyata kita yang tidak menyenangkan bisa membuat anak merasa tidak puas akan hidupnya. Khususnya kepuasan terhadap sekolah.



Jadi apa yang bisa kita lakukan?


Sebagai salah satu anggota lingkungan sekolah terdekat, yang setiap harinya berinteraksi dengan anak, tentu ada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi sosok yang menyenangkan bagi anak. Yang semoga bisa berdampak pada meningkatnya kepuasan hidup mereka. Mungkin bisa dimulai dengan berusaha menjadi pihak yang mendengarkan. Mendengarkan apa yang mereka rasakan, pikirkan, dan alami. Mendengarkan yang terdengar juga yang tidak terdengar. Mendengar hal yang paling penting hingga yang paling tidak penting. Mendengarkan segala hal tanpa terkecuali termasuk yang orang lain tidak mau dengar.


Kita juga bisa berupaya menjadi sosok yang tidak menghakimi. Setiap manusia mempunyai motif, mengapa ia melakukan hal tertentu. Motif ini merupakan untangible trait. Posisikan diri kita sebagai siswa. Hal ini akan sangat membantu untuk dapat memahami dan tidak menghakimi. Saya biasa menyebutnya dengan “mengalam” dengan maksud ikut mengalami apa yang orang lain sedang alami. Mungkin nanti kita akan menemukan fakta “receh” dan dalam hati mengatakan “Ya Allah, kayak gini doang mah bukan masalah atuh”, tapi bagi mereka mungkin hal semacam itu adalah masalah terbesar dan terberat yang pernah mereka alami. Who knows?


Terakhir, yang walau saya tahu sebenarnya masih banyak sekali yang bisa kita lakukan untuk menjadi sosok yang menyenangkan bagi siswa adalah, izinkan siswa untuk mengeksplorasi dirinya. Dukung tapi tentu tetap arahkan. Sayangi juga doakan.



Saya pribadi juga masih jauh dari sosok menyenangkan yang saya ceritakan di atas. Tapi saya masih mau coba, masih mau belajar, masih mau berdoa. Sesederhana karena saya suka sekolah. Saya juga ingin anak-anak saya, anak-anak kita, tahu bahwa sekolah itu sangat menyenangkan. Sangat mungkin untuk bisa jadi faktor penentu kepuasan hidupnya. Yang nantinya ketika ia dewasa ia bisa bercerita bahwa masa sekolahnya adalah masa yang menyenangkan. Yang jika ditanya, “Kalau kamu bisa memutar waktu, kamu ingin kembali ke masa apa?”. Dan ia akan menjawab “Ke masa sekolah”, karena memang menyenangkan.


REFERENSI

Diener, E., Emmons, R. A., Larsen, R. J., & Griffin, S. (1985). The Satisfaction with Life Scale. Journal of Personality Assessment, 49(1), 71–75.

Goodenow, C. (1993). the Psychological Sense of School Membership Among Adolescents: Scale Development and Educational Correlates. Psychology in the Schools, 30, 79–90. https://doi.org/10.1177/095968369100100211

Huebner, E. S. (1994). Preliminary Development and Validation of a Multidimensional Life Satisfaction Scale for Children. Psychology Assessment, 6(2), 149–158.

Taormina, R. J., & Gao, J. H. (2013). Maslow and the Motivation Hierarchy: Measuring Satisfaction of the Needs. American Journal of Psychology, 126(2), 155–177.

0 tampilan

Mutiara Bunda Group of Schools

Head Office : Jl Padang Golf No. 11, Arcamanik, Bandung

admin@sekolahmutiarabunda.com

Telp : (022) 721-1200

©2019 by Mutiara Bunda.