Mengapa Karakter Joker Berbahaya bagi Generasi Penerus Kita

VPP SMP-SMA Notes: Edisi November 2019

By M. Ariefianto





Joker dan Selebrasinya Atas Kegetiran Hidup

Dalam sebuah teaser film terbaru Joker yang baru saja dirilis menonjolkan elemen terpentingnya yaitu bagaimana kekejaman masyarakat Gotham menyebabkan Arthur Fleck muak dan berubah menjadi sosok yang keji. Semuanya terangkum melalui kata-kata yang diucapkan Fleck: “I used to think my life was a tragedy, but now I realize it’s a comedy.” Ditimpali latar lagu “Smile” karya Charlie Chaplin yang dipopulerkan oleh Nat King Cole dengan aransemen yang lebih gelap membuat perasaan iba sekaligus ngeri ketika menyaksikan teaser film tersebut. Film ini segera menjadi buah bibir masyarakat ketika dirilis pertama kali dalam bentuk teaser, tentu saja hal ini menjadi senyum bagi sang produser karena semakin viral dan jadi perbincangan khalayak maka membuat rasa penasaran bagi siapapun untuk menontonnya langsung di sinema. Namun perbincangan masyarakat terkait dengan film Joker ini lebih ke layakkah film ini ditujukan untuk semua kalangan usia, dimana isi dari film tersebut sungguh sulit untuk dicerna bahkan oleh orang dewasa sekalipun yang terkadang bingung apa maksud dan tujuan dari film ini sebenarnya?


Karakter Joker yang digambarkan lemah, inferior dan jadi bahan bullyan sepanjang waktu lalu kemudian berubah menjadi sadis, kejam dan cenderung psikopat tentu bukan sebuah tontonan wajar untuk kita apalagi anak-anak. Sebagian orang dewasa saja terkadang belum merasa siap untuk mencerna dengan utuh apa yang dilihatnya karena membutuhkan kesiapan mental dan daya analisis prima tuk tidak ‘terganggu” dengan karakter yang sedang ditontonnya. Namun tetap saja ada yang dapat mengambil pelajaran positif dari film ini. Joker memiliki gangguan pada otaknya ditambah lagi ia memiliki masalah bersosialisasi dengan masyarakat, kasih sayang yang tidak murni dari hati orang-orang disekitarnya dan kekerasan berikut penolakan dari orang tuanya. Kesemua faktor tersebut memberi kontribusi bagi penciptaan karakter Joker yang sakit mental karena tidak ditangani sejak dini oleh psikiater atau ahli kejiwaan. Hal ini membuat kita sadar bahwa sekecil apapun potensi gangguan kejiwaan pada seseorang perlu segera diintervensi dan ditangani secara bersama oleh orangtua, ahli kejiwaannya, juga masyarakat umum agar tidak tercipta karakter yang sadis, kejam dan cenderung balas dendam karena ketidaktauan apa yang harus dilakukan oleh dirinya, seperti halnya karakter Joker.


Joker Dalam Diri Kita Semua

Heath Ledger seorang aktor Hollywood asal Australia tewas di apartemen rumahnya wilayah Manhattan, New York Amerika di suatu sore di awal tahun 2008. Menurut investigasi pihak kepolisian aktor muda berbakat tersebut meninggal akibat overdosis 6 jenis obat yang berfungsi untuk menenangkan diri akibat rasa stress dan depresi yang berlebihan. Ironisnya kepergian aktor muda ini kurang lebih 6 bulan sebelum film terakhir yang dibintanginya yaitu Batman: The Dark Night, di film itu dia memerankan tokoh Joker. Saking hebatnya peran Joker yang dimainkan Heath Ledger, dia diganjar penghargaan Piala Oscar di tahun 2008 untuk pemeran pembantu terbaik. Aktor muda asal Perth Australia ini sungguh-sungguh mempersiapkan diri memerankan tokoh Joker dengan cara mengurung diri di kamar hotel selama berminggu-minggu untuk menyelami karakter serta membuat hidup peran Joker yang total dari mulai hiasan wajah sampai seringai tertawanya yang menyeramkan. Semua pendalaman karakter itu ditambahkannya dengan menemui aktor legendaris Jack Nicholson yang juga pernah memerankan karakter Joker di era tahun 1980 an. Pesan sang legenda pada sang aktor muda berbakat saat itu sangat jelas, “Peran sebagai Joker akan menghantuimu. Peran itu sangatlah kelam, hingga mungkin kamu tidak akan bisa tidur. Tapi, nikmatilah peranmu sebagai pangeran badut kriminal, karena hal itu sangatlah menyenangkan.” Faktanya Heath Ledger paripurna memerankan karakter Joker, bahkan saking sempurnanya ia pun sama sekali tidak bermasalah dengan tidur, bahkan ia pun melakukan tidur selamanya.


Terlepas apakah kematian aktor Heath Ledger adalah akibat terlalu dalam menyelami karakter Joker yang sakit mental mendalam ataukah bukan, tidak menafikan bahwa karakter yang ada dalam diri Joker sangatlah memprihatinkan. Faktanya suka tidak suka, karakter Joker dekat dengan kita bahkan terkadang juga ada dalam diri kita. Siapa yang tak punya trauma?. Siapa tak punya luka jiwa?. Semua pernah atau bahkan sering memilikinya. Karena Janji Tuhan tak selamanya langit selalu biru, atau hidup selalu mudah. Kemampuan menangani diri sendiri, mengenali kelemahan dan kelebihan diri, akan membuat seseorang terhindar menjadi Joker. Kuncinya adalah tidak menyalahkan keadaan untuk membenarkan kejahatan. Tidak akan berkata, "Orang jahat adalah Orang baik yang tersakiti." Hal ini adalah prinsip utamanya. Joker terlahir dan dibesarkan tanpa kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri. Realitanya jangankan tuk mengenal kelebihan dan kekurangan dirinya, untuk mengenal siapa dirinya saja dia tidak mampu. Oleh karena itu sebagai manusia yang telah diciptakan sempurna oleh Tuhan sudah sewajarnya kita pun senantiasa membekali diri kita dengan kemampuan membaca diri atau kenal dengan diri kita sebelum mengenal orang lain. Sampai tahapan ini jadi semakin yakin dengan sebuah hadits Rasulullah yang walaupun derajatnya masih diperdebatkan kesahihannya namun sangat relevan dengan bahasan kali ini, “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.”


Antitesis Karakter Joker: Generasi Penerus Sehat Mental, Jiwa dan Tubuh

Sehat sering kali dipersepsikan dari segi fisik saja. Padahal sehat juga berarti tentang kesehatan Mental, Jiwa juga Tubuh. Sayangnya, persoalan kesehatan jiwa masih dianggap kalah penting dibandingkan kesehatan Tubuh. WHO menyebutkan, anak muda alias generasi milenial saat ini lebih rentan terkena gangguan mental. Terlebih masa muda merupakan waktu di mana banyak perubahan dan penyesuaian terjadi baik secara psikologis, emosional, maupun finansial. Misalnya upaya untuk lulus sekolah dilanjutkan proses kuliah, mencari pekerjaan, juga proses hidup lainnya yang sangat kompetitif. Selain perubahan hidup, teknologi juga turut berkontribusi terhadap kesehatan mental generasi muda. Salah satunya adalah penggunaan media sosial. Media sosial seakan menciptakan gaya hidup ideal yang sebenarnya tidak seindah kenyataan. Hal inilah yang menciptakan tekanan dan beban pikiran pada generasi muda.


Gangguan mental, karena gejalanya tidak seperti penyakit fisik, acapkali terlambat disadari. Padahal di Indonesia, jumlah penderitanya terbilang tidak sedikit.

  1. Setengah dari penyakit mental bermula sejak remaja, yakni di usia 14 tahun. Menurut WHO, banyak kasus yang tidak tertangani sehingga bunuh diri akibat depresi menjadi penyebab kematian tertinggi pada anak muda usia 15-29 tahun.

  2. Merujuk data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi penderita skizofrenia atau psikosis sebesar 7 per 1000 dengan cakupan pengobatan 84,9%. Sementara itu, prevalensi gangguan mental emosional pada remaja berumur lebih dari 15 tahun sebesar 9,8%. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2013 yaitu sebesar 6%.

  3. Masih berdasarkan data Kementerian Kesehatan Indonesia, masyarakat perkotaan lebih rentan terkena depresi, alkoholisme, gangguan bipolar, skizofrenia, dan obsesif kompulsif. Meningkatnya jumlah pasien gangguan jiwa di Indonesia dan di seluruh dunia disebabkan oleh pesatnya pertumbuhan hidup manusia, serta meningkatnya beban hidup, terutama yang dialami oleh masyarakat urban.

Namun jika dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia patut berbangga. Pasalnya tingkat stres masyarakat Indonesia ternyata tidak setinggi negara lain. Jika dibuat perbandingan, ada 3 dari 4 responden yang merasa stres. Meski persentase tersebut terkesan tinggi, tingkat stres ini merupakan tingkat stres terendah dari seluruh negara yang disurvei. Persoalan keuangan dan pekerjaan merupakan penyebab stres yang utama. Sedangkan 25% sisanya mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak merasa stres.


Sebagai penutup kita tidak boleh memandang sebelah mata akan bahaya gangguan mental dan kejiawaan karena dampaknya lebih hebat disbanding sakit fisik ternyata. Karakter Joker cukup memberi kita semua peringatan tuk mulai peduli pada perkembangan mental juga kejiawaan anak-anak didik juga generasi penerus kita. Didalam Badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Hal ini harus berimbang senantiasa. Don’t miss it.


Wassalam

0 tampilan

Mutiara Bunda Group of Schools

Head Office : Jl Padang Golf No. 11, Arcamanik, Bandung

admin@sekolahmutiarabunda.com

Telp : (022) 721-1200

©2019 by Mutiara Bunda.