ROMANTISME CILEUEUR

Diperbarui: 26 Jun 2019

By : M. Agung iskandar


Hari masih pagi dan berkabut ketika kami baru saja menginjakkan kaki di kawasan perbukitan Kebun Teh Patuha. Udara segar begitu nikmat masuk ke hidung, kerongkongan hingga dada kami. Udara yang jarang sekali kami hirup di Kota Bandung yang penuh dengan asap-asap pabrik dan kendaraan. Walaupun sudah pukul 07.00 pagi matahari belum begitu terlihat karena tertutup kabut tebal pegunungan. Hawa dingin mulai terasa menusuk badan hingga tulang-tulang kami. Untuk menghangatkan diri maka kami harus terus bergerak. Ini juga dilakukan agar tubuh kami bisa beradaptasi dengan lingkungan di sekitar sini. Setelah dua jam perjalanan lebih dari Bandung dengan Bekang (transportasi perbekalan dan angkutan milik TNI) yang cukup melelahkan akirnya kami tiba dengan selamat tepat di gerbang perbatasan antara Kawah Putih dan Kebun Teh Patuha. Petualangan LCSW (Leadesrship and Community Study Work) kami di sub Cileueur akan segera dimulai hari ini, Rabu 31 Oktober – 2 November 2018.


“Ayo semuanya semangat!”, salah seorang panitia memberi motivasi agar kami bersemangat menjalankan kegiatan ini.


Dengan tas ransel yang dipenuhi perbekalan mulai dari pakaian hingga makanan menempel erat di punggung, kami segera memulai perjalanan menuju kawasan rumah karyawan perkebunan teh Sub Cileueur. “Hari ini kita akan mulai hiking dari sini hingga ke Cileueur”, terang panitia.


“Ini memang perjalanan yang cukup jauh. Mungkin beberapa kilometer. Tapi ini berguna untuk menghangatkan tubuh kita di saat kondisi dingin seperti ini”, terang panitia lebih lanjut.


Awalnya kami merasa cukup berat ketika harus berjalan begitu jauh untuk sampai ke tempat tujuan. Namun setelah perlahan-lahan kami mulai berjalan ternyata sebenarnya sangat menyenangkan. Di sepanjang perjalanan kami bisa melihat keindahan pemandangan kebun teh yang menakjubkan. Ibarat hamparan karpet hijau yang terhampar luas semuanya begitu asri sejauh mata memandang. Ini adalah salah satu kekayaan alam di antara ribuan kekayaan lain yang merupakan anugerah dari Allah SWT untuk Indonesia. Perjalanan ini bukan hanya sekedar berjalan agar bisa sampai ke tempat tujuan semata tetapi lebih dari itu ini adalah perjalanan mentafakuri nikmat Allah yang begitu luar biasa.


Begitu nikmatnya perjalanan ini hingga tak terasa akhirnya sampai juga kami ke tempat tujuan. Sebuah perkampungan karyawan kebun teh yang dihuni kurang lebih 40 kepala keluarga. Barisan rumah semi permanen dengan bahan bilik bambu berjejer cukup rapi. Jalan-jalan di sini berbatu dan licin. Mungkin itu pula yang menjadikan kawasan ini disebut Cileueur.


Para karyawan penghuni rumah di sini masih bekerja di kebun teh ketika kami sampai. Maka kami pun dikumpulkan bersama di sebuah tanah lapang untuk mendapatkan pembekalan. Mulai dari pemakaian atribut hingga berbagai peraturan yang harus kami ikuti semuanya disampaikan dengan baik oleh panitia dan guru yang bertugas. Ada juga beberapa peraturan yang disampaikan oleh perwakilan tuan rumah.


Setelah selesai sosialisasi dan waktu dhuhur hampir tiba, kami kemudian menuju rumah-rumah yang akan kami tempati selama berkegiatan di sini. Hampir sebagian besar tuan rumah juga sudah kembali dari tempatnya bekerja. Kami pun mengenalkan diri. Penerimaan mereka begitu ramah dan terbuka. Kami senang mendapat sambutan yang baik dari mereka.


Banyak kegiatan yang kami lakukan selama LCSW berlangsung. Hari pertama kami bersosialisasi dengan warga setempat melalui keterampilan membuat aksesoris dari barang bekas bagi ibu-ibu. Sementara yang lain bermain bersama anak-anak Cileueur. Antusiasme mereka untuk ikut terlibat cukup tinggi sehingga hal ini sangat membahagiakan kami. Hari pertama diakhiri dengan kegiatan tadarus dan sholat Isya berjamaah.





Tiba di hari kedua. Sejak dini hari sepertiga malam terakhir, kami sudah berada di masjid untuk melaksanakan Qiyamul lail. Di tengah suhu dingin dan rasa kantuk, alhamdulillah semuanya larut dalam doa yang dipanjatkan dalam sholat-sholat kami.


“Ya Allah, seharusnya kami menjadi manusia yang selalu bersyukur. Jika selama ini kami begitu nyaman terlelap dalam mimpi di atas kasur yang empuk dan hangat namun di sini kami bisa merasakan betapa sulitnya mata terlelap karena begitu dinginnya udara dan hanya berselimutkan sleeping bag yang tipis. Padahal baru satu hari kami berada di sini. Sementara masyarakat Cileueur telah lama tinggal selama bertahun-tahun. Ya Allah, kami hanya bisa berdoa: berikan keberkahan pada setiap rezeki yang Engkau anugerahkan kepada mereka”. Itulah doa yang bisa kami panjatkan.


Pagi, hari kedua di Cileueur. Anak-anak Cileueur terlihat begitu ceria dengan seragam putih merah bersiap menyambut Pak Guru yang akan datang memberi ilmu untuk mereka hari ini. Kami pun mendekati mereka. “Adik-adikku sekalian, hari ini kalian belajar bersama kakak ya!”, ujar panitia. Anak-anak itu sempat bingung. Kami pun menjelaskan bahwa hari ini mereka akan belajar bersama kami dan kami sudah meminta ijin kepada Pak Guru. Anak-anak itu pun akhirnya mengerti. Kami membawa mereka naik ke atas bukit kebun teh yang cukup tinggi. Pagi ini begitu cerah meski sekali-kali kabut tipis sempat turun. Di atas puncak kebun teh ini, lagi-lagi kami disuguhkan pemandangan yang sangat menakjubkan. Hamparan kebun teh beserta lekuk-lekuk konturnya yang menawan. Tak pernah bosan rasanya jika kami harus berlama-lama di tempat ini. Hampir saja kami lupa bahwa kami di sini ada tujuan lain bersama anak-anak Cileueur.


Maka kami pun berkegiatan bersama atau lebih tepatnya berbagi keceriaan dan menghabiskan waktu bersenang-senang bersama sambil tentunya memasukkan nilai-nilai moral dan pendidikan bagi anak-anak Cileueur. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Hari menjelang siang saat kami bersiap untuk sholat Dhuhur dan makan siang bersama. Setelah sholat, dimulailah kegiatan kaderisasi organisasi sekolah kami yaitu SAMBA dan MPK. Melalui lima pos yang dibentuk, kami diajak untuk mengenal seluk beluk organisasi dan bagaimana menjalankannya ketika kami nanti terlibat di dalamnya. Ditemani kabut tebal dan hujan, alhamdulillah, kami dapat mengambil pelajaran penting nilai-nilai sebuah organisasi di antaranya kemandirian, tanggung jawab, disiplin, kerja sama, kebersamaan, dan kekeluargaan. Hari kedua pun diakhiri dengan kegiatan keagamaan selepas Sholat Isya di masjid.


Hari ketiga: ini adalah hari terakhir kami merasakan romantisme Cileueur dengan berbagai kenangan dan pengalaman berharga dari program LCSW. Rasanya baru saja kemarin menginjakkan kaki di tanah ini dan kini kami harus kembali ke tempat asal kami. Rasa rindu tentu akan terbawa seiring dengan perjalanan kami selanjutnya. Di hari terakhir ini, ingin kami mempersembahkan sesuatu yang bisa dikenang oleh warga Cileueur terutama untuk anak-anak Cileueur yang begitu ceria. Dalam keterbatasan sarana prasarana sekolah yang ada, mereka masih begitu gigih mencari ilmu untuk bekal kehiupan mereka kelak. Begitu pula untuk Pak Guru, meski jauh perjuangan dan pengorbanannya tak bisa diabaikan begitu saja. Ia dengan rela berjalan jauh dengan motor kesayangannya memberi ilmu buat mereka tanpa pamrih. Terima kasih semuanya! Kalian telah memberiku pelajaran berharga. Pelajaran kehidupan yang akan menjadi bekal bagiku selamanya. Terima kasih Cileueur!!!


0 tampilan

Mutiara Bunda Group of Schools

Head Office : Jl Padang Golf No. 11, Arcamanik, Bandung

admin@sekolahmutiarabunda.com

Telp : (022) 721-1200

©2019 by Mutiara Bunda.