Mutiara Bunda Group of Schools

Head Office : Jl Padang Golf No. 11, Arcamanik, Bandung

admin@sekolahmutiarabunda.com

Telp : (022) 721-1200

©2019 by Mutiara Bunda.

Bahaya Laten Itu Ternyata Sikap Egois Kita Dalam Bermasyarakat

VPP SMP-SMA Notes: Edisi Januari 2020

By M. Ariefianto

Mayoritas Bencana Akibat Ulah Kita

Awal Tahun 2020 selepas pesta pora di malam pergantian tahun yang seringnya meriah biasanya menjadi momen yang membahagiakan, namun tidak yang dirasakan oleh saudara kita di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Air yang melimpah dari hujan berkepanjangan sepanjang malam tak mampu ditampung oleh badan-bada sungai serta saluran air lainnya. Imbasnya air melimpah ruah dengan meriah ke pemukiman warga tanpa terkecuali sehingga merendam hampir 11 kelurahan di seluruh wilayah DKI Jakarta, sebagian di Kabupaten Bogor, beberapa wilayah di Depok, Bekasi serta Tangerang.


Foto : BNPB


Banjir di awal tahun 2020 ini ditenggarai lebih dahsyat dampaknya daripada banjir-banjir besar di tahun sebelumnya. Hal ini dihitung tidak hanya dari dampak banjir yang dihasilkannya namun juga kerugian materil yang terjadi dari berbagai wilayah yang terdampak. Berbagai diskusi di level warung kopi sampai melibatkan para pejabat publik tak terelakkan terjadi dengan akhirnya lebih ke menunjuk satu pihak untuk dijadikan penyebabnya lalu dimintai pertanggungjawabannya, dalam hal ini semua seolah setuju ke satu pihak saja.


Kalau kita mau jujur perilaku sebagian besar kita sangat signifikan menyumbang pada akibat yang ditimbulkannya. Perilaku buang sampah sembarangan adalah satu diantaranya. Bukan jadi rahasia umum bahwa sungai di Indonesia khususnya di perkotaan bukan hanya berisi ikan serta biota sungai saja, melainkan kita bisa dapatkan semua hal dari sampah plastik, limbah rumah tangga, kotoran manusia bahkan peralatan rumah tangga serupa kasur juga kursi sofa pun ada. Begitu menyedihkannya wajah sungai kita karena perilaku membuang sampah semabarangan dari mayoritas kita tidak terselesaikan dengan pendidikan yang selama ini dilakukan. Bahkan penulis pernah menyaksikan sendiri bagaimana tukang angkut sampah keliling komplek yang membuang satu gerobak sampahnya ke sungai saat hujan deras berlangsung, ketika ditanya mengapa dibuang ke sungai? Jawabannya daripada saya harus bawa ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang jauh sambil diminta iuran, tentu lebih mudah buang ke sungai. Ketika selanjutnya ditanya bagaimana jika menyebabkan masalah di daerah lainnya di hilir sungai? Jawaban mang Sampah sederhana saja, itu urusan mereka nanti di hilir sungai. Hmmm…memang selesai urusan untuk mang sampah karena gak perlu berkeringat lebih ke penampungan, namun akan jadi masalah bagi orang lain, ah egoisnya mang sampah juga mayoritas dari kita tentunya.


Masih tentang Kita dan Egonya

Beberapa bulan lalu viral sebuah video tentang pemukulan seorang anggota polisi oleh oknum anggota TNI di Pekanbaru, Riau. Setelah ditelusuri masalahnya sepele saja yaitu sang polisi mengingatkan sang oknum TNI untuk memakai helm ketika berkendaraan motor di jalanan. Sang oknum TNI tidak terima dengan teguran sang polisi lalu meluapkan amarahnya dengan membentak sang polisi lalu memukul kepala polisi yang masih berhelm, lalu menendang motor sang polisi. Selanjutnya sang oknum TNI mungkin puas sudah meluapkan emosinya walau memang salah karena tidak mematuhi aturan berlalu lintas, namun yang tidak beliau sadari bahwa ada ratusan pengendara bermotor yang tentu kesal karena kemacetan yang ditimbulkan akibat aksinya, bahkan mungkin satu atau dua pengendara motor yang kesal itu lalu mengumpat, berkata kasar, lalu siapa yang menanggung dosanya? Ah lagi-lagi ego kita yang menang, orang lain sih masa bodo amat pikirnya saat itu, pikir sang oknum TNI.


Berikutnya berita viral yang beredar adalah tertangkapnya anggota KPU (Komite Pemilihan Umum) aktif terkait dengan proses pergantian anggota DPR RI antar waktu. Hal ini dipicu ketika ada anggota DPR RI terpilih yang meninggal dunia, selanjutnya partai pengusung mencalonkan anggota baru penggantinya walau secara urutan ketika pemilu lalu di peringkat paling bawah. Hal ini membuat anggota yang peringkat terbawah memberikan uang suap pada anggota KPU aktif yang memproses kegiatan pergantian anggota tersebut. Walau pada realitasnya di rapat pleno KPU diputuskan bahwa yang menggantikan adalah anggota yang peringkatnya satu tingkat dibawah anggota yang meninggal. Namun transaksi suap terlanjur terembus oleh pihak berwenang dalam hal ini, KPK lama. Drama hukum ini bergulir menjadi drama politik yang menghebohkan karena melibatkan partai pemenang pemilu di Indonesia, tentu saja ada nama-nama tertentu yang terkait kasus ini. Pertanyaannya adalah kenapa anggota partai itu ngotot untuk jadi pengganti walau sangat sadar peringkatnya jauh dibawah? Ah ternyata kembali hanya ego dirinya yang bisa menjawabnya. Perkara sekarang banyak orang yang jadi terkait kasus yang ditimbulkannya? Masa bodo amat, pikir sang anggota yang saat ini pun masih buron di luar negeri yang entah kapan akan kembali.


Supaya lebih ganjil kita telaah kasus yang viral juga terkait kemunculan pihak-pihak yang mengklaim sebagai “raja dan ratu” dari Keraton Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah. Aktivitas “Kerajaan” ini sudah lama meresahkan masyarakat karena ada ritual di malam tertentu yang berlangsung sampai pagi dan menimbulkan suara yang membuat istirahat masyarakat sekitarnya terganggu. Selain memiliki “raja dan ratu”, “kerajaan” ini juga memiliki “istana” di sebuah lahan kosong di salah satu desa, kabupaten Purworejo. Setelah viral di medsos maka pihak polisi segera mengusut “kerajaan” itu lalu kabarnya menangkap “raja dan ratu” berikut beberapa anggota “kerajaan” lainnya. Sungguh ironis nasib keduanya, di saat Pangeran Harry dan Meghan Markle ingin keluar dari anggota kerajaan yang sah, “raja dan ratu” dari Purworejo malah mengklaim diri anggota kerajaan, berakhir di terali besi penjara. Lagi-lagi ego aktornya.


Refleksi Diri Untuk Kita

Kasus-kasus yang dibahas sebelumnya tidak akan muncul jika yang jadi landasan adalah apa yang akan diterima oleh orang lain ketika kita melakukan suatu hal? Bukannya apa yang akan diri kita terima saja. Ketika kita menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri maka dijamin masyarakat akan aman, tertib, nyaman juga terkendali dari berbagai masalah yang mengelilinginya.


Sebuah contoh masyarakat yang berhasil menata kehidupannya dengan drastis adalah masyarakat Islam di Madinah ketika Rasulullah Muhammad SAW hijrah ke sana. Dalam jangka waktu tak lebih dari 10 tahun saat itu, masyarakat Madinah di Jazirah Arab yang tidak diperhitungkan sebelumya apalagi jika dibandingkan dengan 2 kekaisaran besar yang bersaing saat itu yaitu Imperium Persia di Timur dan Imperium Romawi di Barat, bisa makmur, tentram serta berhasil. Perlahan namun pasti Rasulullah dan para sahabatnya membuat masyarakat yang progresif didasari saling sayang, mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan dirinya, berjamaah bersama-sama. Prinsip-prinsip ini dijalankan dengan konsisten melalui kepemimpinan yang paripurna sehingga menghasilkan masyarakat Madinah yang bisa bersanding dengan 2 imperium besar saat itu.


Puncak dari rasa saling mengutamakan kepentingan orang lain adalah dikisahkan setelah usai perang Uhud yang menjadi pelajaran penting bagi kaum muslim ada 3 orang sahabat Rasul yang sedang menjelang wafatnya dan kehausan minta seteguk air minum. Sahabat yang memegang kendi air menghampiri seorang sahabat ke 1 untuk menuangkan air ke mulutnya, namun sesaat akan menuangkan, ada sahabat lainnya yaitu sahabat ke 2 yang juga kehausan lalu minta seteguk air, lalu sahabat ke 1 yang sedang butuh air itu mempersilahkan sahabat ke 2 yang baru memohon air tuk diberi terlebih dahulu. Berbaliklah sahabat yang akan memberi air ke sahabat ke 2 yang juga kehausan, sesaat akan memberi minum maka terdengarlah sahabat ke 3 juga memohon air karena sangat haus. Mendengar hal itu sahabat ke 2 mempersilahkan tuk sahabat ke 3 yang baru kehausan tuk diberi air minum lebih dahulu. Sesaat akan diberi air minum maka terdengarlah permohonan sahabat ke 1 yang juga masih kehausan. Mendengar hal itu maka sahabat ke 3 mempersilahkan tuk sahabat ke 1 diberi air terlebih dulu. Maka saat sahabat pemberi air sampai ke hadapan sahabat ke 1, sahabat ke 1 ternyata telah mati syahid, teringat sahabat ke 2 yang juga kehausan ternyata sahabat ke 2 pun telah mati syahid. Sampai di sahabat ke 3 pun ternyata Allah telah memanggilnya ke alam barzah dengan menyisakan rasa haus dan mengutamakan kepentingan saudaranya terlebih dahulu. Kita belum bisa jadi bangsa besar yang mampu bersaing dengan Amerika atau Rusia, bahkan pula hanya untuk bersaing dengan Singapura dan Malaysia, karena kita belum seperti para sahabat di Madinah saat itu, kita masih egois, hal itu harus diakhiri saat ini, oleh kita sendiri untuk generasi terbaik esok nanti. Mau? Harus tentu saja.

17 tampilan