Bel.. Mana Suara Bel?

1001 Cerita di Mutiara Bunda

By. Dian Risma



Eh, geningan kecil ini mah sekolahannya juga!” yappp ini omongan pertama ketika 5 tahun lalu menginjakkan kaki di depan gerbang SD Mutiara Bunda. Omongan kedua yang terucap “Eh, aku gak salah masuk tempat kan? Masuk gerbang udah disapa sama satpam. Iya ditanya ramah semacam satpam di Bank-Bank terkenal itu loh. Untung gak ditanya udah makan apa belum!


Obrolan dalam hati dengan diri sendiri ketika mencoba masuk ke yang namanya sekolahan itu ya seperti itu, ada rasa was-was, bingung, senang, dan tenang. Ada prasangka, kayaknya sekolahnya biasa aja, guru-gurunya pasti jutek-jutek, tempatnya juga kecil ternyata jreng.. jreng.. jreng.. SEMUANYA LUAR BIASAAAAAA….


Beda banget tampilan dari luar Jl Arcamanik Endah no 3 Bandung ini. Ini sekolahan SD Luas banget. Tahun 2015 masih disambut dengan lapangan yang super luas, kelas yang banyak, playground, rumah pohon, lapangan basket, gazebo mushalla, dan toilet yang bersih. Guru-guru, staff sekolah, petugas kebersihan, sampai satpamnya pun ramah, murah senyum, dan sopan banget. Ini sekolahan kan? Aku masih di Bandung kan? Tentu sajaaa…


2 Cycling kring.. kring… Oke” ini lucu jarang banget ada sekolah yang manggil anak-anak kelasnya pakai yel-yel kayak gini. Tiap kelas yel-yelnya berbeda loh, oh ya nama kelasnya disini unik-unik pakai nama olahraga semua. Ada kelas hoki, basket, polo, berenang, berkuda, kano, bowling, futsal, ada hamper lebih dari 20 kelas pokoknya. Pertama ngajar pakai perlengkapan formal, kan mikirnya kayak sekolah-sekolah pada umumnya. Tapi oh tapi salah besar, baju pakai blazer (x) tetott.., pakai sepatu high heells (x) tetottt juga. Anak-anaknya luar biasa aktif banget, bergerak kesana-kesini, naik turun tangga playground, lab komputer, lari di lapangan atas yang besarnya kayak lapangan PERSIB wadidaw ini kaki udah cangkeul pisan, baju? udah pasti kesangan alias hareudang. Tapi itu dulu sekarang tidak lagi, sekarang pakaian yang aku gunakan tetap rapi, sopan, menutup aurat, dan pakai sepatu slip on andalan supaya dapat bergerak leluasa. Tenang aja, disini kalian akan heran kok ada guru pakai celana jeans, sepatu boots, dan tas ransel. Sampai suka ditanya “kamu itu guru? Mau ngajar atau main? Jawabannya simple mau bermain, belajar, dan ketemu keluarga”.


Sekolah Inklusi? Sekolah apa sih ini? Pernah denger sih tapi mungkin karena aku short memori (ngelesss terus) jadi lupa-lupa inget. Menurut Wikipedia (bacanya kayak mba-mba google), sekolah inklusi adalah sekolah yang memiliki sistem layanan pendidikan yang mengatur agar difabel dapat dilayani di sekolah terdekat, di kelas regular bersama-sama teman seusianya tanpa harus dikhususkan kelasnya. SD Mutiara Bunda ini unik, takjub, kita bakalan susah ngeliat mana anak-anak yang berkebutuhan dengan yang normal seperti yang lainnya. Semua berbaur jadi satu, gak ada pandangan-pandangan atau omongan-omongan aneh, anak-anak main dan tertawa bersama. Kalau kita mengulik lebih jauh terlihat berbeda ketika program pembelajaran yang diberikan kepada anak yang berkebutuhan khusus disesuaikan dengan kebutuhannya. Gak ada tuh yang namanya anak berkebutuhan yang hanya mampu menghitung sampai 50 tapi dipaksakan harus menghitung sampai 200. Ini sekolah bener-bener keren, jadi pengen mengulang SD lagi.


Keseharian di sekolah inklusi membuat kenangan yang teramat banyak. Dari anak yang mulai tantrum, tendang-tendang, pengen sekolah ditemani sama mamahnya, pengen renang terus, gak bawa tas atau perlengkapan apapun, sampai kaget melihat anak yang di antar menggunakan ambulance sambil tertidur membawa balon spongebob. Kalau di sekolah lain pasti udah ada konsekuensinya, kalau disini kita ketawa dulu dan pendekatan dong pastinya sama anak. Ingat selalu pesan Psikolog andalan kita Ibu Nia Raihana “Mendengar aktif”.


Sekolah Mutiara Bunda suka disingkat dengan Sekolah Mutbun punya 5 Tagline (Culture) yang mak jlebb banget dengan keseharian kita. Grateful, bersyukur sekali dan harus selalu bersyukur. Bersyukur memiliki kesehatan yang baik, mempunyai teman-teman guru yang selalu saling support. Support pengetahuannya dan juga support keriweuhannya. Acceptance menerima perbedaan satu sama lain. Setiap perbedaan membuat kita semakin menerima terhadap keberadaan diri kita dengan lingkungan sekitar kita. Caring & Sharing saling berbagi ilmu, pengalaman, dan makanan. Disini mah kalau urusan makanan mah juara, banyak chef handal. Kalah chef Juna yang kayak di tipi-tipi mah. Pantry bisa disulap menjadi dapur ala Nasi Liwetan, dapur korea atau jepang-jepangan, sampai mirip warunk upno*mal. Selain jam makan siang kita makan bersama anak-anak di kantin, biasanya ronde ke-2 kita makan di jam-jam kritis after school. Udah izin kok boleh dipakai, asal bisa menjaga kebersihan yak!! Continuous Improvement, belajar sepanjang hayat dan tetap rendah hati. Diatas langit masih ada Hotman Paris langit, itu benar adanya. Bersyukur sekali dikelilingi oleh teman-teman yang memiliki pengetahuan berlimpah, pengalaman hidup, jangan salah anak-anak pun dapat memberi pengetahuan baru dan pembelajaran sendiri buat gurunya. “Apalah aku yang tidak ada apa-apa ini, tidak ada yang bisa disombongkan”. Terakhir Persistence, alias bertanggung jawab. Amanah yang cukup berat, belajar untuk bertanggung jawab untuk hal apapun. Anak-anak ataupun guru memiliki tanggung jawab minimal untuk dirinya sendiri. Proses tidak pernah menghianati hasil, belajar bertanggung jawab seperti seoarang ksatria dan menunjukkan yang terbaik sampai akhir.


Rapotan? Ah apaan sih paling cuman masuk-masukin nilai tuga aja. Eitsss tidak semudah itu Marimar.. Mengolah nilai check (ü) tidur disekolah gegara rapot? Iya dan itu terjadi loh, apa-apaan ini rapotan sampai tidur disekolah segala? Di Mutbun sistem rapotannya seperti sekolah di luar negeri loh (kalau sekarang alhamdulillaah sudah dipakai hampir di seluruh Indonesia) ada rapot yang berisi nilai angka dan ada rapot yang berisi eksposisi. Rapot eksposisi kita benar-benar menilai dari ketercapaian anak, bukan asal mengarang bebas, apalagi pakai sistem yang udah jadi. Kita seperti flash back kembali kegiatan yang telah dilakukan bersama anak-anak, ketercapaian mereka, sampai apa yang harus mereka perbaiki untuk kedepannya. Menghadirkan mereka seperti kenangan yang tidak akan pernah lupa. Kembali lagi tidur disekolah, setelah mengprint rapot tugas selanjutnya ada menyusun rapot eksposisi yang kurang lebih isinya ada sampai 6-7 lembar kedalam map-map yang sudah disediakan, mengarsipkannya, menunggu sertifikat prestasi/eskul datang, hingga malam menjelang. Ini gak kerasa bisa sampai jam 10-11 malam (terjadi ketika pertama kali rapotan). Strategi selanjutnya agar tidak terulang kembali adalah management waktu. Kejar dan pepet terus guru bidang studi, menyicil portofolio (hasil karya) anak-anak jauh sebelum rapotan tiba, dan terakhir adalah berdoa agar senantiasa sehat wal afiat.


Jalan-jalan… Jalan-jalan… ini namanya fieldtrip kalau di Mutbun. Ada ya belajar sambil tour ketempat-tempat jauh. Mirip bahkan seperti film dokumenter Laptop si Unyil. Anak-anak dan gurunya belajar langsung dari sumbernya dari integrasi pelajaran-pelajaran dikelas seperti belajar Sains (Flora&Fauna), PLH (pembuatan kaos kaki), Sosial (Musyawarah langsung di Gedung DPR RI) masih banyak lagi. Sempat tertinggal dari rombongan bus? Ssttt… Aku telah merasakannya.. eumm 2x tertinggal dari rombongan bus. Rasanya seperti mati lampu ya….


14 Maret 2020, obrolan santai di playground jadi hening. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) tiba-tiba dating di negara kita tercinta. Semua berubah, hampir merubah semuanya, belajar yang biasanya di sekolah jadi mengharuskan kita di rumah, kegiatan kelas yang biasanya sampai sore harus tergantikan dengan lelahnya mata yang berada di depan gawai. Kita dan semua saling berintropeksi diri kepada Yang Pemberi Segalanya. Ada hikmah dari semua ini, pasti. Mutbun pun begitu bangkit dan berjuang, membuat pembalajaran jarak jauh (secara online) menggunakan teknologi internet. Guru dan anak-anak beradaptasi menggunakan belajar daring. Belajar yang menyenangkan menggunakan video, bertatap muka secara virtual, dan yang pasti Gak Banyak Tugas untuk anak-anak. Kita bisa membuktikan Belajar dapat dimana saja & kapan saja.


Bel.. mana suara bel?


Hampir 8 bulan tidak pernah terdengar suara bel sekolah, bahkan itu yang membuat rindu kalau berada di sekolah. “Hadapilah Kabut Tebal yang Menghalang, Yakinlah Tuhan bersama Kita..Insyaallah, pelangi sudah siap terpancar setelah badai ini berlalu. Kita dapat berjumpa & membuat cerita yang lebih seru kembali.


Bandung, November 2020

Dian Risma

18 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Mutiara Bunda Group of Schools

Head Office : Jl Padang Golf No. 11, Arcamanik, Bandung

admin@sekolahmutiarabunda.com

Telp : (022) 721-1200

©2019 by Mutiara Bunda.