Mutiara Bunda Group of Schools

Head Office : Jl Padang Golf No. 11, Arcamanik, Bandung

admin@sekolahmutiarabunda.com

Telp : (022) 721-1200

©2019 by Mutiara Bunda.

Belajar Kehidupan dari sang virus Corona

VPP SMP-SMA Notes: Edisi Februari 2020

By M. Ariefianto




Mulutmu, Virus Coronamu

Dalam sebuah kesempatan, Presiden China Xi Jinping mengatakan dalam pidatonya bahwa tidak ada kekuatan yang dapat menghentikan perkembangan Tiongkok. Hal itu disampaikannya untuk memeringati HUT ke-70 RRC atau Hari Nasional China di bawah pemerintahan Partai Komunis Tiongkok. "Tidak ada kekuatan yang dapat mengguncang pondasi negara besar ini," kata Xi dalam naskah pidato berbahasa Mandarin, yang diterjemahkan secara resmi oleh media pemerintah. Lebih lanjut presiden Xi menyatakan, "Tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan orang-orang China dan bangsa China untuk terus maju,". Beliau menyatakan itu medio Oktober 2019 tahun lalu. Tak dinyana 2 bulan setelah pernyataan beliau tersebut secara perlahan namun pasti diawali dari pedagang di pasar hewan wilayah Wuhan China, bertambah terus warga yang sakit sejenis flu dengan gejala mirip wabah SARS yang melumpuhkan bangsa China sekitar 18 tahun lalu. Bagaikan sebuah mimpi buruk yang ingin dihindari oleh rakyat China, peringatan seorang dokter di Rumah Sakit Pemerintah di Wuhan akan wabah yang menyerang warganya lalu mengingatkannya pada wabah SARS sebelumnya dianggap sebagai provokasi juga berita bohong semata. Ironisnya dokter yang memberi peringatan awal tentang bahaya yang mengancam warga Wuhan saat itu malah diinterogasi pihak kepolisian lalu diberi peringatan lisan untuk tidak mengulangi perbuatannya, walau yang dilakukan sang dokter adalah memberi informasi di grup terbatas para dokter di rumah sakit yang beliau mengabdi. Selanjutnya liburan awal tahun yang diikuti tahun baru China membuat tingkat kewaspadaan China berkurang, semua warga sibuk pulang kampung juga pergi liburan keluar negeri, tak terkecuali warga Wuhan. Justru dari sinilah bencana dimulai yang saat ini diketahui akibat virus yang bernama Corona. Diduga penyebarannya dari kelelawar yang dijual bebas di pasar hewan Wuhan. Kombinasi antara kelalaian dibalut kesombongan membuat bangsa China sampai saat ini terhambat roda ekonominya, warganya berikut barang produksinya dilarang masuk oleh mayoritas negara di dunia. Bangsa China memang berusaha dengan sangat keras untuk mengatasi dampak dari virus Corona ini, termasuk segera membuat Rumah Sakit khusus menangani wabah saat ini dalam waktu 2 hari saja, sama persis dengan Rumah Sakit saat mengatasi wabah SARS dahulu yang sukses. Namun jeda waktu sekitar 25 hari sejak peringatan awal sang dokter yang malah dikriminalisasi membuat jumlah korban semakin massif dan menyebar ke berbagai tempat, korban meninggal dunia terus berjatuhan, puncak kesedihannya adalah ketika sang dokter yang beri peringatan dan membantu para korban di awal wabah justru menjadi korban hingga akhirnya harus wafat bersama korban warga lainnya. Ternyata ada kekuatan yang mampu mengguncang pondasi China, kekuatan itu ternyata sangat mikroskopis dan mustahil dilihat mata langsung, yaitu Coronavirus. Presiden Xi Jinping harus menarik kembali pernyataannya, seperti kata pepatah dahulu, “mulutmu, harimaumu”, maka pepatah baru yang tepat untuk menggambarkan pernyataan presiden Xi Jinping di awal tulisan ini adalah, “mulutmu, virus Coronamu.”


Berpacu dengan Virus Corona

Bangsa China saat ini memang sedang diuji ketangguhannya. Mereka mampu menghadapi perang dagang yang sangat dahsyat dengan Amerika yang dikawal oleh presidennya Donald Trump. Bangsa China juga terus mengembangkan pengaruhnya secara ekonomi, finansial berikut teknologinya ke semua penjuru dunia tak terkecuali di negeri kita, Indonesia. Bahkan di beberapa negara Afrika saat ini mata uang yang dominan digunakan adalah Yuan China, saking masifnya pengaruh di benua Afrika. Produk ekspor China ke semua negara hampir semuanya surplus perdagangannya. Semua kedigdayaan yang sedang bangsa China tunjukkan seolah-olah tidak ada apa-apanya ketika harus berhadapan dengan Virus Corona. Namun bukan bangsa China namanya jika tetap tidak menampakkan kehebatan yang dimilikinya. Setelah wabah virus Corona diakui sebagai bencana nasionalnya, maka pemerintah China bergerak cepat dengan mengumpulkan para dokter ahli penyakit wabah, khususnya yang pernah sukses menangani wabah SARS puluhan tahun lalu. Selanjutnya pemerintah China juga membangun Rumah Sakit khusus wabah virus Corona ini yang dilakukan secara spektakuler hanya dalam jangka waktu 2 hari. Bahkan untuk membuktikannya dilakukan siaran langsung bagaimana proses pembangunan Rumah Sakit khusus tersebut dibuat. Walaupun sifat bangunan ini sementara artinya ketika wabah selesai maka bangunan Rumah Sakit ini akan dibongkar kembali, tetap saja jangka waktu 2 hari menjadi sebuah hal yang patut dipuji oleh semua pihak. Inilah salah satu kelebihan bangsa China tuk senantiasa propaganda kehebatannya walau di saat menyedihkan juga duka nestapa.


Selanjutnya sepanjang hari terus berpacu antara yang terkena virus Corona dengan yang kembali pulih. Faktanya memang yang terjangkit virus Corona lalu meninggal dunia cenderung meningkat, namun jumlah yang sembuh dari penyakit saluran pernafasan itu juga terus meningkat. Korban yang meninggal didominasi oleh para warga lanjut usia, sementara yang sembuh didominasi anak muda. Hal ini setidaknya memberi gambaran bahwa harapan untuk selesainya wabah ini sangat tinggi. Hal yang paling dramatis adalah dampak dari pertumbuhan ekonomi bangsa China yang tinggi berakibat terhadap penghasilan masyarakatnya yang cenderung meningkat. Dampak selanjutnya adalah semakin banyaknya masyarakat China yang mampu untuk melakukan perjalanan liburan keluar negaranya, termasuk warga Wuhan yang menjadi asal muasal virus Corona ini muncul. Liburan tahun baru China yang memang jadi momen libur nasional benar-benar dimanfaatkan oleh semua masyarakat China tuk berlibur, dari pulang ke kampong halaman sampai berlibur ke seluruh penjuru dunia. Dari sinilah awal mula wabah virus Corona secara internasional dimulai. Satu persatu negara lain melaporkan bahwa ada warganya atau warga asing yang sedang berada di negaranya terjangkit penyakit akibat virus Corona, semua sumbernya sama berawal dari orang yang dari Wuhan atau pernah berkunjung ke kota Wuhan di China. Mulailah Singapura, Thailand, Malaysia, Jepang, Korea, Prancis, Inggris bahkan Amerika melaporkan adanya virus Corona di negaranya masing-masing. Selanjutnya seperti efek domino maka negara-negara tersebut menerapkan kebijakan masing-masing untuk penanganan wabah virus Corona ini. Uniknya Indonesia belum menyatakan bahwa ada virus Corona yang masuk sampai saat ini, hal ini memicu kecurigaan negara lain bahkan WHO bahwa Indonesia belum mampu mendeteksi adanya virus tersebut, faktanya negara lain tidak mengakui kehebatan Indonesia, minimal virus Corona pun segan masuk, hanya saja virus koruptor yang merajalela di sini.


Kembali pada Allah lewat Makhluk mungilnya

Sejarah sudah banyak mencatat bahwa banyak para pemimpin besar di zaman dahulu yang angkuh dan merasa semua kekuasaan ada di tangannya pada akhirnya “ditegur” oleh Allah melalui makhluk-makhluknya yang mungil berupa burung ababil, sejenis nyamuk malaria atau lebih kecil lagi sejenis bakteri yang mematikan. Betapa gagah perkasanya Raja Abrahah yang memiliki kerajaan besar di sekitar Yaman saat ini. Karena kesombongannya tuk memiliki wilayah yang lebih luas juga memindahkan rumah Allah di sekitar Makkah, maka raja Abrahah menyerang kota suci Makkah dengan pasukannya yang sangat banyak dikenal dengan pasukan berGajah. Namun akhir dari penyerangan itu sangat tragis karena digambarkan dengan detail di surat Al-Fiil. Raja Abrahah dan pasukannya hancur lebur oleh serombongan burung ababil yang melempari pasukan tersebut dengan batu-batu yang memancarkan rasa panas tak terhingga ke tubuhnya. Akhir dari kisah tersebut adalah selamatnya rumah Allah di kota Makkah dari serangan raja Abrahah yang angkuh dan ambisius ingin menantang Tuhannya sendiri.


Selanjutnya kisah raja Namrudz di zaman nabi Ibrahim remaja juga tidak kalah dramatisnya. Raja yang sangat berkuasa penuh saat itu yang dikisahkan dibuat sangat marah oleh nabi Ibrahim karena “tuhan-tuhan” berupa patung-patung batu yang mereka sembah dengan takzim setiap saat sepanjang waktu harus hancur lebur dihancurkan dengan kapak oleh nabi Ibrahim, lucunya kapak yang digunakan oleh nabi Ibrahim menghancurkan “tuhan-tuhan” mereka disimpan di patung yang paling besar, seolah-olah patung besar itulah yang menghancurkan patung-patung lainnya jika mereka percaya bahwa patung itu hidup dan layak menjadi “tuhan”. Lebih lucunya lagi raja Namrudz tidak percaya bahwa patung itu bisa hidup dan menghancurkan patung lainnya. Nabi Ibrahim memberikan logika dasar yang paling menghujam pikiran mereka, kalau memang percaya bahwa patung itu tidak hidup juga tidak berguna, mengapa mereka menyembahnya sebagai “tuhan” yang menciptakan. Tidak masuk logika benda mati menciptakan benda hidup. Sayangnya logika nabi Ibrahim ini diganjar oleh raja Namrudz dengan membakar beliau hidup-hidup. Namun atas izin Allah nabi Ibrahim selamat sekaligus membuktikan mukjizat yang Allah berikan pada nabi Ibrahim. Akhir kisah raja Namrudz yang gagah perkasa tidak mati di pertempuran atau dengan senjata, melainkan dengan gigitan seekor nyamuk, makhluk Allah yang sangat mungil. Seolah Allah ingin menyampaikan pesan bahwa sebesar apapun manusia menyombongkan dirinya tidak akan mampu melawan makhluk Allah yang sangat mungil sekalipun yaitu nyamuk.


Bercermin dari kisah-kisah terdahulu, maka virus Corona berikut virus ataupun bakteri-bakteri lainnya yang muncul tentu adalah makhluk Allah. Pasti juga ada hikmah dan maksud Allah memunculkan makhluk-makhluk mungil tersebut terutama bagi orang-orang yang berakal diikuti dengan merenung (bertafakur). Ketika manusia sudah melewati batasnya sebagai makhluk maka Allah akan menegurnya dengan makhluk-makhluk Allah yang mungil saja. Pernyataan presiden China Xi Jinping bisa jadi sudah melampaui batas-batas sebagai makhlukNya, sehingga diperingatkan dengan virus Corona. Pelajaran bagi kita semua tuk lebih berhati-hati dalam niat, lisan dan perbuatan. Kita selamanya adalah makhlukNya dan tidak akan pernah akan mampu melawan sang pencipta kita semua. Sampai kapanpun.



81 tampilan