“Berjuang Menebar Ilmu Tanpa Lelah (Rekognisi Sahabat Guru Semua di Masa Pandemi)”

By M. Ariefianto




Apapun Masalahnya, Guru Prima Tetap Sama

Ini sudah menjadi sebuah fenomena, para siswa, orangtua, dan terkhusus guru berjuang keras mengikuti proses belajar jarak jauh via daring selama pandemi COVID-19. Di daerah-daerah terluar dari pusat kekuasaan, bahkan di dekat pusat wisata terkenal di Indonesia sekalipun, para murid harus mencari cara yang tak masuk akal demi mendapatkan sinyal internet. Di sekitar kita juga, ada keluarga-keluarga yang tak punya ponsel sama sekali, ada juga yang bergantian memakai satu ponsel milik orangtuanya. Dan, sekalipun mudah mendapatkan akses internet dan punya ponsel, banyak keluarga yang kerepotan membeli kuota, di saat ekonomi keluarga tergulung pandemi saat ini.


Sebagai guru yang sehari-hari mengalami proses belajar mengajarnya yang terkadang membuat jungkir balik, kita bisa mendengarkan cerita kolega kita di beberapa wilayah lainnya, diantaranya Imam Aji Subagyo, guru usia 30 tahun, yang mengajar di sebuah sekolah dasar di Kepulauan Riau. Nama sekolahnya SD Negeri 004 Mantang. Sekolah induknya di Pulau Siolong, sementara tiga sekolah cabangnya di Pulau Sirai, Pulau Telang Kecil, dan Pulau Telang Besar. Keempatnya berada di Kabupaten Bintan, daerah andalan pariwisata, yang dihubungkan lautan. Menjadi guru di SD tersebut, ujar Imam, bak mengajar di empat sekolah berbeda karena di tiap pulau punya kelas satu sampai kelas enam. Tinggal di Pulau Siolong, Imam harus naik perahu selama 30 menit menuju Pulau Sirai; 1 jam menuju Pulau Telang Kecil; dan 1,5 jam menuju Pulau Telang Besar. Di tiga pulau ini, jangankan sinyal internet, sinyal telepon pun senyap. Warga harus pergi ke pelabuhan jika ingin menikmati sinyal “agak lumayan,” kata Imam. “Hanya sekolah di Pulau Siolong yang punya sinyal memadai. Itu pun hanya provider IM3,” ceritanya. Akhirnya, ia terpaksa menggelar proses belajar tatap muka terbatas di tiga pulau tersebut—yang sebenarnya agak mengkhawatirkan mengingat Kabupaten Bintan pernah menjadi zona merah Covid-19. Bisa kita bayangkan bagaimana menjadi guru Imam di Bintan.


Keluhan serupa datang dari Ramayana, guru usia 27 tahun untuk SMP Negeri 4 Satap Pulau Komodo. Mengajar Seni Budaya Dasar, ia kesulitan menerapkan belajar daring. Sinyal internet amburadul. Tak semua siswa punya gawai. Kampung Komodo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, hanya dialiri provider Telkomel. Total ada 10 rukun tetangga: jaringan internet acak-adut; sekalipun sinyal bagus, banyak siswa tak punya ponsel. Rama berkata di tempatnya, “kalau mau telepon atau internet, saya mesti ke dermaga. Repot!” Itu kebalikan dari citra Pulau Komodo, yang digembar-gemborkan oleh pemerintah sebagai ikon wisata nasional dan dunia, yang menyumbang miliaran rupiah bagi pendapatan provinsi dan nasional setiap tahun. “Setidaknya pemerintah sediakanlah wifi untuk setiap sekolah di Pulau Komodo atau mungkin di titik-titik tertentu sediakan wifi gratis,” saran Rama, lirih. Rama berkata hanya sekitar 25 siswa dari 100-an siswa di sekolahnya yang bisa mengikuti belajar jarak jauh karena mereka memiliki gawai. “Ada juga siswa punya ponsel, tapi enggak ada pulsa paket,” keluhnya. Sebuah kondisi ironis di pulau Komodo bagi guru Ramayana sampai saat ini.


Setidaknya di Bandung ini kita tidak mengalami seperti kolega Imam dan Ramayana akan perjuangan serta kondisi di lapangan yang tidak mendukung pembelajaran dalam jaringan atau pembelajaran jarak jauh. Namun hakikatnya perjuangan seorang guru akan sama, selalu berupaya memberikan ilmu dan pengetahuan yang terbaik untuk anak didiknya, sehingga ketika ada kondisi yang membatasinya seorang guru prima akan selalu mencari cara/metode terbaik tuk mengatasinya walau tanpa disadari proses itu membuat masalah dalam dirinya sendiri juga berupa tekanan psikologis laten, bahkan pada akhirnya imbasnya akan terbawa sampai keluarganya yang tentu tidak bersalah apa-apa. Berjuang memang selalu menyertakan pengorbanan diri, termasuk menebar ilmu menjadi guru, namun yang kita harapkan tentu seminimal mungkin dampak yang terjadi pada diri. Kunci utamanya adalah mengetahui apa saja hal yang menjadi tekanan pada diri sebagai guru berikut bagaimana cara mengatasinya.


Tekanan Diri pada Guru dan Bagaimana Mengatasinya

Pembelajaran Jarak Jauh yang harus tiba-tiba dilakukan medio Maret 2020 ini ketika pandemi terjadi dimana setiap individu minimal berperan sekaligus secara online menjadi guru di sekolah dan orangtua di rumahnya masing-masing bisa memicu stres tinggi yang bisa berakibat pada burn out yakni kondisi saat seseorang merasa gagal, lelah, dan tidak percaya diri akibat tuntutan yang berlebihan. Situasi ini diikuti dengan berbagai masalah ketika proses Belajar Jarak Jauhnya yang terkait sinyal buruk, juga alat penunjang belajar terbatas yang dapat menguras energi dan menyebabkan ketegangan emosional. Jika dibiarkan terlalu lama, akan mengakibatkan kelelahan yang tak berkesudahan. Maka dari itu, sebelum terlambat, kita perlu kenali beberapa gejala stres pada guru sehingga bisa memetakan solusi yang harus dibuat untuk mengatasinya. Dikutip dari tulisan rekan Halimatus Sya’diyah di Ruang Guru ada beberapa ciri utama ketika seorang guru mengalami stres juga tips sederhana untuk mengatasinya, diantaranya adalah:

  • Perlahan-lahan menghilang dari kehidupan sosial

Menghadapi stres, ibarat seseorang sedang bertarung melawan diri sendiri. Guru yang sedang dilanda stres, biasanya menghindari perkumpulan sosial karena merasa orang-orang di sekitarnya baik-baik saja dengan pekerjaannya, sementara ia tidak.


Jika hal itu terjadi, sebenarnya tidak masalah jika menghindari perkumpulan seperti makan-makan di luar jam kerja, asal katakan dengan bahasa yang sopan. Tak semuanya harus disanggupi. Lupakan hal-hal yang dapat membuat diri lebih terbebani dengan mengatur prioritas kegiatan yang perlu dan harus dilakukan.


  • Sulit mengeluarkan ide baru untuk mengajar

Stres dapat menyebabkan otak tidak jernih karena terlalu banyak yang dipikirkan. Ide baru untuk menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman pun seringkali terhambat karena khawatir gagal dan malah membuat masalah baru. Di sekolah pun guru tidak bisa fokus dan hanya ingin menghabiskan hari sekedarnya saja. Mengajar menjadi hal menakutkan bagi guru.


Jika seorang guru merasa suntuk, maka lakukan relaksasi setelah melewati hari-hari yang padat. Luangkan waktu untuk diri sendiri di akhir pekan dengan aktivitas kesukaan Anda demi menyegarkan pikiran dan jiwa. Tidak apa-apa untuk memikirkan diri sendiri terlebih dahulu sementara waktu demi kesehatan mental.


  • Menghabiskan waktu dengan mengeluh

Guru yang sedang ditimpa stres jarang mengungkapkan kepada sekitar karena menurutnya hal itu melelahkan. Namun, sekalinya berbicara ia akan memulai dengan macam-macam keluhan, seperti masalah kelas, murid, atau wali murid. Sikap tersebut bisa berlangsung sampai akhir tahun ajaran sekolah.


Berkomunikasi dengan teman bisa menjadi solusi untuk mengeluarkan unek-unek. Coba temukan teman yang bisa menampung keluh kesah Anda di awal tahun ajaran sekolah. Tidak perlu banyak, cukup beberapa yang bisa Anda percaya untuk berbagi kisah. Namun ingat, jangan hanya mau didengarkan, tapi Anda juga ha