Cileueur, Negeri Sejuta Kabut

By M Ariefianto

 

Saya termasuk satu diantara yang sangat mengapresiasi juga bangga pada pernyataan MAW Brouwer, budayawan asli Belanda yang sangat cinta pada bumi Priangan. “Bumi Priangan diciptakan Tuhan Ketika Tersenyum”. Setidaknya ada 2 hal yang membuat bangga pada pernyataan itu, pertama pengakuan akan bumi Priangan, berikutnya Tuhan yang Bahagia pada bumi Priangan. Rasa bangga itu bukan saja karena saya tinggal di bumi Priangan, namun juga karena pengakuan dari orang yang jauh dari benua Eropa, negeri 4 musim yang tidak asing dengan hujan, dingin dan kabut. Secara perbandingan wilayah pegunungan di bumi Priangan setara dengan kondisi cuaca juga kondisi geografis di Eropa, penuh kabut. Satu diantaranya di Cileueur, Negeri Sejuta Kabut.


Wilayah Cileueur terletak di kaki gunung Patuha, Ciwidey-Kabupaten Bandung. Wilayah di bagian selatan kota Bandung ini memiliki sejarah Panjang sebagai lokasi perkebunan Teh yang sejak awal dikelola oleh pihak Belanda. Diantara beberapa pemukiman para pemetik teh di kaki gunung Patuha, ada sebuah pemukiman yang dinamakan Cileueur. Pemukiman Cileueur ini menjadi lokasi bagi siswa-siswi SMA Mutiara Bunda khususnya kelas 10 dan 11 melakukan kegiatan Community Study Work (CSW). Program belajar langsung ke masyarakat dengan memberikan berbagai hal yang sudah dipelajari di sekolah untuk berbagi kepada masyarakat. Program CSW ini menjadi sebuah program unggulan SMA yang selalu dinantikan oleh siswa-siswanya. Setidaknya ada 3 hal yang mendasarinya, pertama siswa-siswi langsung berinteraksi dengan masyarakat, kedua setiap siswa-siswi memiliki proyek berbagi masing-masing, ketiga kebersamaan selama program berlangsung yang tidak terlupakan.


Setelah 3 hari 2 malam siswa-siswi SMA Mutiara Bunda tinggal dan beraktivitas bersama warga Cileueur, ada 5 fakta yang ditemukan, diantaranya satu warganya sangat ramah, dua Udaranya dingin namun sejuk, tiga Pemandangannya sangat indah, empat Tempatnya bersih, lima airnya dingin menyegarkan. Kelima fakta yang ditemukan dipadu dengan berbagai keunikan selama di Cileueur, terutama lokasi tertentu yang bisa memancarkan sinyal menambah keseruan pengalaman hidup Bersama warga di sana. Di ujung perpisahan setelah beberapa hari bersama warga, tetesan air mata dan lambaian tangan persaudaraan diantara kabut yang selalu turun menjadi saksinya. Kapan pun semua akan Kembali, warga Cileueur akan senantiasa menyambut sepenuh hati. Ke Cileueur Aku kan Kembali.

26 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua