Indonesia Merdeka Belajar Balada Pendidikan Nusantara

Ditulis oleh : Prana - XI Valiant


Sudah 75 tahun Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya, tapi benarkah demikian? Tentunya bangsa ini sudah tidak lagi dijajah oleh bangsa asing, setidaknya tidak seperti dulu. Kehidupan di negeri ini, kini jauh lebih makmur dibandingkan dengan masa kolonial. Namun, layakkah Indonesia dikatakan sebagai negara yang benar-benar merdeka dalam urusan belajar?

Mayoritas “masyarakat tanah air” akan mengiyakan, sama sekali tidak salah, tapi masih bisa digali lebih dalam lagi. Diksi “merdeka belajar” bisa ditafsirkan secara luas dengan banyak sudut pandang dan perbandingan. Sederhananya, merdeka belajar dapat disinonimkan dengan kebebasan dan mendapatkan hak belajar.


Indikator yang paling mendasar dari pernyataan tersebut, ialah ketersediaan pendidikan itu sendiri. Indonesia dengan belasan ribu pulau, ratusan juta penduduk, ditambah dengan profil geografis yang sangat beragam, tentunya merupakan rintangan yang tak mudah untuk menyediakan pendidikan secara merata di seluruh penjuru tanah air, let alone berkualitas dengan penuh fasilitas. Namun, ini bukan berarti berita buruk. Bila melihat profil tersebut, Indonesia sudah terhitung berhasil dan berkembang ke arah yang baik, apalagi bila dibandingkan dengan masa kolonial.


Lantas, bila indikator fundamental tadi sudah terpenuhi, maka tahap selanjutnya ialah memberikan pendidikan yang berkualitas. Di sini kita kembali bertemu dengan sebuah abstraksi, pendidikan berkualitas. Sebuah kalimat dua kata cliché yang selalu menimbulkan beragam opini. Realistis saja, merupakan rahasia umum bahwa tak sedikit pemuda-pemudi yang beranggapan bahwa pendidikan di Indonesia ini berada jauh di bawah ambang batas berkualitas. Opini tersebut sebenarnya sah-sah saja, banyak data yang berkata demikian. Ibarat langit dan bumi bila dibandingkan dengan – sebut saja Finlandia. Padahal secara kurikulum, bila ada penghargaan nobel terhadap negara dengan kurikulum tersusah, mungkin Indonesia akan menjadi nominasi terkuat.


Kembali ke laptop, apa saja yang membuat pernyataan tersebut begitu banyak dilontarkan oleh kalangan muda – bahkan akademisi? Tentunya yang pertama adalah kurikulum. Kurikulum di tanah air lebih mementingkan kuantitas dibanding kualitas. Mengapa demikian? Pertama, kurikulum yang memiliki sangat banyak materi tentunya akan memperberat siswa dalam memasukkan semuanya ke dalam kepala. Kedua adalah metodenya, sedemikian banyaknya materi perlu dicerna oleh siswa dalam waktu yang relatif singkat dengan berbagai mata pelajaran, hal ini mengakibatkan siswa kehilangan orientasinya dalam belajar. Selain itu, metode belajar yang bersifat menghafal (dibanding memahami) secara empiris tidak efisien maupun efektif. Ketiga, berkaitan dengan indikator selanjutnya yaitu fasilitas.


Fasilitas yang menunjang merupakan salah satu syarat dari dari terpenuhinya pendidikan yang berkualitas. Satu ‘fasilitas’ yang paling krusial ialah tenaga pengajar. Tenaga pengajar yang mumpuni adalah hal yang wajib dalam menyampaikan materi. Ibarat mobil, kurikulum adalah mesinnya, ban adalah tenaga pengajarnya, dan jalan adalah siswanya. Percuma bila mesin tersebut memiliki tenaga besar, namun ban tersebut tidak ada tekanan angin; tenaga dari mesin tersebut tidak akan tersalurkan ke jalan dengan optimal. Seringkali kita mendengar tentang berita buruk dari dunia pendidikan, khususnya terkait tenaga pengajar. Tentu kita familiar dengan istilah guru honorer bukan? Kata yang terlintas pertama kali di benak adalah gaji/upah yang kurang, kebutuhan guru tersebut yang tidak terpenuhi, dan lain sebagainya. Bila kembali dianalogikan dengan mobil: saat kita ingin melakukan perjalanan jauh dengan lancar, kita perlu memastikan agar mesinnya dalam kondisi prima serta bannya tidak kurang angin, gundul, atau tertusuk paku. Mobil tidak akan berjalan dengan baik bila salah satunya tidak baik. Selain itu, fasilitas lain yang juga tidak kalah penting ialah suasana pembelajaran yang nyaman. Hal ini secara tidak langsung berpengaruh terhadap kinerja siswa dan bahkan guru. Memang hal ini terkendala akan anggaran yang tentunya tidak akan murah dengan sekian banyak sekolah negeri yang masih terbelakang.


Di luar itu, kita juga sering mendengar tentang masalah anak yang kemerdekaannya terhalangi oleh kehendak orang tua (memaksa jurusan contohnya), dan lain sebagainya.


Semua ini adalah ilustrasi ‘sederhana’ dari balada pendidikan di Nusantara tercinta. Memang tak semudah dan semurah membalik telapak tangan. Tetap saja, kita perlu melihat sisi baiknya; setidaknya sistem pendidikan kita sedang lepas landas menuju cahaya yang terang, apalagi melihat bangsa kita saat zaman penjajahan. Kita juga jauh dimudahkan dengan adanya teknologi yang menghadirkan informasi di genggaman kita. Lakukanlah yang terbaik, ini adalah proses.

23 tampilan

Mutiara Bunda Group of Schools

Head Office : Jl Padang Golf No. 11, Arcamanik, Bandung

admin@sekolahmutiarabunda.com

Telp : (022) 721-1200

©2019 by Mutiara Bunda.