Jembatan Komunikasi

1001 Cerita di Mutiara Bunda

by. Tantan Guntana



Memasuki sebuah lembaga pendidikan yang memiliki keunggulan lebih dibandingkan lembaga pendidikan lainnya, merupakan suatu hal yang membanggakan dan membahagiakan. Sekolah Mutiara Bunda, sekolah unggul dengan karakter yang khas melekat kepada seluruh individu yang berada di dalamnya. Sekolah yang memiliki berbagai sumber untuk mengembangkan potensi diri. Bukan hanya yang sudah terlihat, yang tersembunyi pun dapat tergali sehinga menjadikan individu di dalamnya memiliki daya tahan mental dari berbagai terpaan persoalan.


Awal tahun 2005 atas kehendak-Nya dengan berbagai problematika persyaratan yang harus diselesaikan, akhirnya dapat juga diterima di Sekolah Mutiara Bunda. Bermula memasuki area SD Mutiara Bunda yang memiliki lahan yang luas dan latar belakang para penghuninya yang beragam menjadikan semakin betah untuk terus bertahan. Guru-gurunya yang memiliki karakter intelektual humoris, siswa-siswanya yang selalu ingin bertebaran bebas “kumalayang” di alam sekitar sekolah, begitu pun dengan staff nya yang setia melayani kami para guru dan orang tua. Dan banyak hal lagi mengenai SD Mutiara Bunda ini. Namun demikian, cukup sampai di sini saja dulu sebab mulai tahun 2010 amanah baru menanti di depan, menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu SMP Mutiara Bunda.


Menginjakkan kaki menuju ranah baru dalam jenjang pendidikan, tentu saja amat berpengaruh terhadap mental dan kekuatan jiwa. Dengan suasana baru, lingkungan baru, teman baru, dan pastinya dengan siswa yang baru. SMP Mutiara Bunda memiliki budaya yang sedikit berbeda saat di SD dulu, yang pasti budaya dari siswa –siswanya. Salah satu budaya yang paling dapat diukur adalah budaya komunikasinya.


Menjadi seorang HBT, yang saat itu HBT merupakan sebuah kata yang asing bagi orang yang baru masuk. Meski malu-malu, dalam bersosialisasi dan interaksi tetap ditunjukkan seolah mengerti tentang makna kata HBT tersebut. Home Base Teacher, ternyata itulah kepanjangan dari HBT.


Kelas 8 Strive adalah lahan baru yang harus dikelola bersama tim kelas saat itu. Ditemani Ibu Ima dan bapak Wahyu Nugroho, kami bersama mencoba berupaya untuk mengelola dengan sebaik mungkin untuk memfasilitasi siswa agar menjadi siswa yang diharapkan bersama, yaitu siswa yang Islamic, Smart, Global. Di samping itu, terdapat pula tim sebelah yang berada di kelas 8 Keen. Ms. Yuli dan Bapak Deden, menjadi teman kolaborasi yang asyik untuk bersama mengelola kelas.


Di kelas ini lah, di saat inilah, ketika itulah, sebuah arena pacuan adrenalin mulai meningkat disebabkan kondisi siswa yang memiliki budaya remaja yang penuh dengan semangat aktualisasi diri. Meski tidak semua, namun proses aktualisasi diri dan pengakuan dari lingkungannya merupakan hal yang menjeneral muncul di permukaan di kalangan siswa remaja ini. Pada prosesnya, aktualisasi diri tidak seu atampak dan ditunjukkan oleh siswa.


Desta adalah seorang siswa kelas 8 strive. Ia siswa yang cenderung pendiam, tidak banyak berbicara, apalagi bertanya dengan inisiatif dari dirinya. Secara sosial ia lebih melekat dengan teman yang terdekatnya. Meski tidak sering, sesekali Desta berbaur dengan temannya yang lain. Selama bergail dengan teman-temannya tidak pernah terjadi percekcokan, pertentangan, apalagi sampai berujung pertikaian dan perkelahian. Ceria, gembira, berbagi, dan solid tampaknya pertemanan Desta dengan yang lainnnya di kelas.


Beberapa nilai sains dan math yang dibagikan seusai quiz atau formatif, Desta selalu mendapatkan nilai yang baik, cukup, bahkan sesekali lebih dari batas minimum ketuntasan akademik. Dalam pelajaran lain pun secara akademik, ia memiliki kemampuan yang bagus, meski sesekali mendapatkan nilai yang pas-pasan. Intinya dalam hal kemampuan akademik dari sudut pandang proses mengingat sebuah konsep cukup mampu ia pahami.


Dengan karakternya yang pendiam dan lebih besar rasa malunya, Desta berusaha untuk bekerjasama dalam kelompok dan berdiskusi membahas penugasan yang harus diselesaikan secara bersama. Tugas secara berkelompok, Desta terbilang selalu mengumpulkan sesuai dengan waktu yang ditentukan.


Pernah suatu waktu Ms.Yuli meng SMS mengenai Desta yang belum mengumpulkan tugas bahasa Inggris. Berharap adanya motivasi dari HBT tentang permasalahan Desta ini. Setelah disampaikan kepada Desta tentanng tugas bahasa Inggrisnya yang belum, ia hanya menjawab “Iya pa”. “Baiklah jika begitu, segera diselesaikan dan dikumplkan yah”, dengan penuh keyakinan bahwa Desta akan menyelesaikan tugasnya itu.


Saat ini menjelang ujian semesteran, hampir semua guru bidang studi melakukan manuver ke para HBT untuk membantu penugasan yang belum tuntas. Selama dua minggu lebih, sejak SMS dari Ms.Yuli yang berpesan mengenai tugas Desta ini, dan beliau pun biasa melakuakan belajar mengajar di kelas 8 strive, ternyata belum juga diselesaikan oleh Desta. Sampailah suatu saat dalam telpon, “Sebaiknya bapa telpon saja ibunya”. Pesan Ms Yuli, inti dalam telponnya. “Baik Ms. In sya Alloh”.


Arena baru, semester baru, suasana baru, rekan baru, pokonya serba baru, hanya bu Lala, pa Uus dan PaYudi Karviandi yang saat itu bukan hal baru di SMP Mutiara Bunda sebab mereka sudah dikenal sejak di SD Mutiara Bunda, lima tahun silam dari suasana baru di SMP Mutiara Bunda. Berat rasanya untuk menghubungi orang tua untuk sekadar menanyakan bagaimana kondisi anaknya di rumah sampai-sampai Desta tidak dapat sempat mengerjakan tugasnya. Namun, dengan dorongan bahwa takkan terhubung satu tempat dengan tempat lain yang ditengahnya terdapat sungai atau jurang tanpa adanya jembatan. Saat ini jempatan yang paling tepat dalah komunikasi.


“Halo, Assalamu’alaikum… dengan ibunya Desta?”, pertanyaan standar memulai percakapan dengan orang tua Desta.

“Wa’alaikumsalam…. Betul, ini dengan siapa yah?, pertanyaan balik yang stadar pula dalam komunikasi via telpon, apalagi dengan orang asing.

“Begini bu, saya HBTnya Desta….saya hendak konfirmasi tentang beberapa tugas yang belum Desta selesaikan….”, “oh… iya pa, mohon maaf, biasanya saya selalu pantau Desta”, jawaban balik dari ibunya Desta memotong pertnyaan yang belum selesai.

“Saya sudah lebih dari seminggu berada di Singapura pa…jadi Desta belajar bersama adiknya di rumah, tapi nanti sayaa telpon dia biar tugasnya dikerjakan pa”, kalimat konfirmasi yang panjang, tapi yang penting dipahami dengan baik.

“ Baiklah ibu terma kasih atas konfirmasinya, mohon maaf mengganggu waktunya”. “sama-sama pa, saya yang terima kasih”.

Beberapa hari setelah percakapan tersebut, kembali Ms.Yuli menaynyakan tenang Desta. Hati kecilku bergumam,”loh..loh..loh…kok…??”.

“Bapa coba minta bantuan bu Elia deh untuk ketemu dengan Desta, barangkali bisa membantu”. Saran kedua dari Ms.Yuli tentang Desta mendarat dipikiran.

“Baiklah Ms…akan saya coba”. Jawaban agak meningkat tidak terlalu standar.


Bu Elia dengan sangat terbuka dengan permohonan untuk membantu mediasi antara Desta dengan Ms.Yuli dan HBT. Pertemuan dilaksanakan di kelas 8 strive, saat ini menjadi ruang TSI SMP Mutiara Bunda. Pertemuan sperti biasa diawali dengan salam daan ucapan terima kasih serta mohon maaf menggangu waktu. Pertanyaan bu Elia langsung mengenai Desta. Setelah diceritakan, dan ditambahkan pula oleh Ms.Yuli, yang dalam persepsi kami Desta tidak mau mengerjakan tugas.


Kemudian bu Elia bertanya kepada Desta apa yang terjadi, Desta mejawab,

“iya bu”, sangat singkat.

“Hahaha….”, tawa ibu Elia, seorang psikolog professional di Sekolah Mutiara Bunda membuat kami “gogodeg”. Luar biasa bu Elia. Kami berhari-hari memikirkan Desta, oleh beliau dalam waktu kurang satu jam, selesai lah persoalan.

“Jadi begini yah…Desta ini bukan tidak mau mengerjakan tugas..tapi ia tidak mengerti tugasnya…”.

kami hanya megucapkan “Ooooh….”.

“Mau bertanya ibunya tidak ada, mau bertanya ke gurunya ia malu….”.

Kami hanya berucap “Oooohh……”


Pertemuan selesai dengan dilanjutkan penjelasan secara detail dan dibimbing oleh Ms,Yuli, Desta pun mengerti. “Horeeeee….Alhamdulillah”, hati kecilku bergumam. Tentu saja terucap banyak terima kasih kepada ibu Elia saat itu yang sudah menjadi jembatan komunikasi kami dan Desta.


Cerita ini diakhiri dengan SMS Ms.Yuli sehari setelah pembangunan jembatan komunikasi antara siswa, guru, dan psikolog, dimana isi SMS itu menyatakan bahwa Desta telah mengumpulkan tugas bahasa Inggrisnya. - J -


-Bandung, November 2020-


Tantan Guntana

GBS IPS SMP Mutoara Bunda

7 tampilan0 komentar

Mutiara Bunda Group of Schools

Head Office : Jl Padang Golf No. 11, Arcamanik, Bandung

admin@sekolahmutiarabunda.com

Telp : (022) 721-1200

©2019 by Mutiara Bunda.