Mutiara Bunda Group of Schools

Head Office : Jl Padang Golf No. 11, Arcamanik, Bandung

admin@sekolahmutiarabunda.com

Telp : (022) 721-1200

©2019 by Mutiara Bunda.

  • bubu

Kerja Kelompok, Strategi Sederhana Mengatasi Keberagaman



Bagi sekolah yang mempercayai pendidikan adalah hak semua anak, tentu harus siap dengan berbagai konsekuensinya. Dalam mempersiapkan diri menghadapi konsekuensi, ada sistem yang didesain untuk memastikan pembelajaran sehari-hari berjalan sesuai dengan kebutuhan anak, memudahkan guru dalam menjalankan tugasnya, dan memungkinkan bagi manajemen sekolah melakukan pantauan dan perbaikan pada sistem berjalan.


Salah satu konsekuensi menjadi sekolah inklusif, adalah penerimaan siswa baru tidak berdasarkan uji tertentu. Calon siswa mengikuti kelas observasi untuk dilihat kebutuhan belajarnya, termasuk diantaranya memilihkan karakter guru yang tepat, lingkungan kelas yang menunjang cara belajarnya, serta aktivitas belajar yang diperlukannya agar bisa belajar dengan lebih optimal. Hasilnya, siswa yang diterima di sekolah kami beragam keadaannya.


Keberagaman ini juga mempengaruhi komposisi di kelas, termasuk dalam memilih strategi-strategi pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan siswa.

Masa 1 bulan pertama kelas baru biasanya merupakan masa perjuangan bagi guru-guru. Di tiap kelas sepulang sekolah, akan ada saja diskusi-diskusi kelompok guru yang sedang menceritakan tantangan yang dihadapi ketika kegiatan belajar. Tuntutan tuntas belajar untuk setiap materi yang dibawakan di kelas, diikuti kondisi kelas yang dihuni individu yang unik dan tak dapat dibandingkan satu sama lain, adalah hal paling seru bagi guru dimanapun. Ketersediaan waktu berbanding terbalik dengan gemuknya materi yang harus dikuasai siswa.



Tantangan level selanjutnya adalah kehadiran siswa berkebutuhan khusus di dalam kelas. Kebutuhan mereka yang seringkali beragam dan memerlukan penanganan individual lebih besar dibanding teman-teman sekelasnya, menjadikan tim guru di kelas perlu waktu dan tenaga ekstra merancang dan mendampingi mereka belajar.


Berbekal keyakinan kuat bahwa tak ada penyakit yang tak ada obatnya, pasti berlaku juga di ruang kelas. Tak ada tantangan yang tak ada solusinya. Begitupun, kami percaya bahwa tidak ada siswa yang hadir dalam keadaan kosong. Semua memiliki sesuatu yang bisa menjadi pengetahuan baru bagi yang lain. Kelas “hanya” memerlukan komposer yang tepat, yang dapat memastikan setiap kelebihan dan kekuatan siswa menjadi bermanfaat dan dapat dioptimalkan di kelas.



Berdasarkan diskusi dengan guru-guru di sekolah, strategi bekerja dalam kelompok sampai saat ini masih paling mujarab untuk mengatasi keberagaman. Studi mengenai bekerja dalam kelompok ini sudah digagas puluhan tahun lalu. Bahkan sekarang, dengan adanya keterampilan abad 21 yang perlu dikuasai siswa, yaitu kolaborasi, membuat pentingnya bekerja sama dalam kelompok menjadi hal yang tak bisa dihindari.


Strategi bekerja dalam kelompok (group work) telah dipraktikkan dalam pendidikan di Indonesia sejak lama, mungkin Anda masih mengingat istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Siswa duduk dalam kelompok-kelompok, dengan harapan dapat berinteraksi selama pembelajaran. Sayangnya, praktik bekerja dalam kelompok tidak semulus yang dibayangkan. Tidak hanya di Indonesia, pelaksanaan group work seringkali malah dijadikan alat bagi guru untuk mendapatkan waktu luang melakukan kegiatan lain. Siswa diberikan tugas untuk dikerjakan dalam kelompok, sementara guru menyelesaikan aktivitas lain, seperti menyelesaikan administrasi, menulis laporan, dan sebagainya (Quinn, 2013). Selain itu, kerja kelompok yang tidak terencana dan tidak dipantau prosesnya juga berpotensi menimbulkan hasil belajar yang tidak optimal.

Dalam bekerja kelompok, ada hal-hal mendasar yang terlebih dahulu harus sudah menjadi kebiasaan siswa dan guru, yaitu:

  1. Mendengarkan orang lain

  2. Kompromi, menghargai perbedaan

  3. Menetapkan tujuan bersama dan menentukan ukuran keberhasilannya

  4. Memahami peran dan tanggung jawab

  5. Memberi umpan balik

  6. Memantau kemajuan dari waktu ke waktu

Adanya siswa berkebutuhan khusus di dalam kelas seringkali dipandang sebagai hambatan bagi siswa lain untuk lebih cepat menguasai materi. Padahal riset membuktikan, meski penuh tantangan dan perlu perencanaan matang, berbagai keuntungan dapat diperoleh siswa, baik yang reguler maupun yang berkebutuhan khusus melalui kegiatan kerja kelompok ini. Siswa reguler mendapatkan pengalaman terutama dalam hal kepekaan terhadap lingkungan sekitar (Baines, Blatchford, & Webster, 2015).


Agar strategi bekerja dalam kelompok ini dapat berjalan dengan optimal, kami biasanya menentukan terlebih dahulu tujuan dari pengelompokan. Untuk memahami konsep-konsep abstrak, kami mengelompokkan siswa dengan kombinasi kemampuan menangkap dan menjelaskan hal baru. Anak-anak lebih mudah memahami sebuah konsep jika disampaikan dalam bahasa yang sesuai dengan kemampuannya. Di sini peran siswa berkemampuan verbal yang baik dapat berkembang, karena ia dapat menjelaskan kembali suatu konsep kepada temannya dalam kalimatnya sendiri, juga dengan bahasa yang biasanya lebih mudah dimengerti teman.


Lain lagi jika kami perlu melakukan remedial teaching. Siswa dengan kemampuan yang sudah baik dan sudah menguasai materi akan dikelompokkan untuk selanjutnya menerima pengayaan, sementara siswa yang belum menguasai materi akan mendapatkan penjelasan serta kegiatan diskusi terbimbing. Kelompok siswa yang mendapatkan materi pengayaan dapat diberi tanggung jawab untuk mempelajari secara mandiri terlebih dahulu, agar kami memiliki waktu untuk mendampingi kelompok remedial.


Untuk keperluan proyek dengan durasi pengerjaan agak panjang, kami mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuan bekerja sama dalam kelompok. Ada yang akan berperan sebagai pemimpin, pencurah gagasan, do-ers, bahkan motivator. Ada kalanya kami memberi kepercayaan kepada mereka untuk menentukan sendiri kelompoknya, yang dianggap sudah dapat saling memahami cara kerja masing-masing. Namun, sebelum diberi kepercayaan seperti ini, harus dipastikan siswa memang sudah paham tentang peran dan tanggung jawab, juga rasa empati sudah terbangun di antara mereka terutama berkaitan dengan keikutsertaan siswa berkebutuhan khusus.


Di waktu-waktu tertentu, kami mengharapkan siswa bisa bekerja sama dengan siapa saja. Ini biasanya dilakukan untuk membagi kelompok ketika akan melakukan sesi curah gagasan atau awalan sebelum memulai sebuah pembahasan. Dengan tujuan seperti ini, siswa dikelompokkan secara acak saja, misalnya melalui kriteria tertentu yang sifatnya tidak mengikat, seperti berkelompok dengan teman yang lahir di bulan yang sama, atau berhitung, dan sebagainya.



Pada praktiknya, masih saja ada siswa yang tidak bisa menerima salah satu teman kelompoknya. Bisa juga meski sudah dipikirkan dengan matang, hasil kerja kelompok tidak semaksimalkan yang diharapkan. Di saat seperti ini, kami akan mengajak siswa melakukan refleksi dan bersama-sama menilai keberhasilan kegiatan. Sebagai tim guru, setelah kegiatan selesai, kami pun melakukan refleksi. Tidak pernah ada satu strategi yang sempurna untuk semua kegiatan belajar. Guru perlu melihat kebutuhannya saat akan membagi kelompok, melihat tujuan belajar yang ingin dicapai, juga melihat juga kesiapan anak sebelum membuat kelompok.


Referensi

  • Baines, E., Blatchford, P., & Webster, R. (2015). The Challenges of Implementing Group Work in Primary School Classrooms and Including Pupils With Special Needs. International Journal of Primary, Elementary and Early Years Education, 43(1), 15-29. doi:10.1080/03004279.2015.961689

  • Nipp, M. B., & Palenque, S. M. (2017). Strategies for Successful Group Work. Journal of Instructional Research, 6, 42-45.

  • Quinn, T. (2013, January). G-R-O-U-P-W-O-R-K Doesn't Spell Collaboration. kappanmagazine.org, hal. 46-48.

Tulisan oleh Budiyanti Dwi Hardanie

Dokumentasi foto milik Kinkin Karimah Nursya'bani


(Artikel dimuat dalam Surat Kabar Guru Belajar 18 Edisi 4 Tahun Ketiga, November 2018)


#merdekabelajar #strategipembelajaran #pengembanganguru #hanyadimutbun

237 tampilan