KETIKA HASIL TIDAK AKAN MENGKHIANATI PROSES

1001 Cerita di Mutiara Bunda

By. Riri Eka Pratiwi


Saat itu tahun 2010, aku memutuskan untuk berkuliah di salah satu universitas swasta di Bandung. Apakah ini merupakan universitas yang ku inginkan? Tentu saja tidak. Jika saat itu aku hanya mengandalkan egoku saja, mungkin aku tidak akan pernah sampai pada titik teratas sebagai wanita karir.

...

Namaku Riri. Saat itu usiaku 19 tahun. Aku merupakan anak tunggal. Purwakarta, kota terkecil di Jawa Barat, Katanya! Di sanalah aku tinggal.


Aku datang ke Bandung dengan membawa segudang harapan “ingin jadi orang sukses”. Tidak munafik bukan, jika seseorang memutuskan untuk kuliah demi menghasilkan uang di kemudian hari. Selama kuliah aku aktif di organisasi fakultas yang bernama Himpunan Mahasiswa Bahasa, Sastra Indonesia (HMBSI). Ya, saya memutuskan untuk masuk Fakultas Keguruan jurusan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. Lagi-lagi ... apakah ini pilihanku sejak awal? Tentu jawabannya masih tidak! Aku berpikir mungkin ini kutukan dari guru Bahasa Indonesiaku dulu di SMA. Aku katakan bahwa Bahasa Indonesia membuat otakku pening. Jawaban apa pun yang ku pilih tetap saja salah.


“AKU TIDAK INGIN JADI GURU BAHASA INDONESIA”, ujarku dalam hati saat itu.

Namun, manusia hanya bisa berencana dan berego. Berpikir bahwa jalan yang akan ku pilih nanti merupakan hal terbaik. Ternyata? Hehehe...Aku lupa bahwa aku memiliki Allah yang Maha Berkuasa.


Selama namaku tercatat sebagai anggota himpunan, aku berusaha untuk mencari info beasiswa. Alhamdulillah...di tahun 2010 awal menjabat sebagai anggota sekbid 2 kerohanian, Allah membuka pintu rezeki seluas-luasnya. Aku pun mendapatkan beasiswa dari salah satu bank swasta di Indonesia. Semua biaya SPP saat itu gratis. Bersyukur? Kali ini jawabannya, Tentu saja aku sangat bersyukur.


Empat tahun sudah aku membangun pondasi ilmuku di universitas tersebut. Mulai dari merasa tidak memiliki teman, sampai dengan merasakan memiliki keluarga baru di Bandung. AKU BAHAGIA.

...

29 Agustus 2014. Hari yang ku nanti selama 4 tahun membangun pondasi ilmu demi cita-citaku menjadi seorang Guru. Ya, memang tidak mudah sampai titik ini. Demi meringankan pengeluaran orang tuaku, aku rela berjualan gorengan dan pakaian. Ternyata bakat bisnisku mulai terlihat saat itu, hehe.


Hari itu merupakan ulang tahunku ke 22 tahun. Tidak terasa selama 4 tahun aku hidup mandiri di Bandung. Hari itu juga sidang skripsiku. Aku dinyatakan lulus dengan IPK 3,57. Bangga??? Tidak. Itu hanya sebuah angka yang tidak sepenuhnya bisa menolong kehidupanku.

...

Perjalanan baruku dimulai sejak ketua prodi menyatakan kami semua lulus.

Sepintas dipikiranku..

Apa yang akan terjadi setelah ini?

Apa yang harus aku lakukan setelah ini?

Apakah aku masih harus menerima uang dari orang tuaku?

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang seakan berlari-lari kecil di otakku. Pertanyaan yang aku sendiri belum tahu harus mengambil langkah apa saja. Apakah aku harus kembali ke kota asalku? Atau tetap menetap di Bandung?

...

Tanggal 01 September 2014 aku dan temanku memutuskan untuk melamar ke beberapa sekolah negeri di Bandung walau tahu ijazah pun belum keluar, hehe. Kami sama-sama membuat 20 lamaran. Setiap sekolah kami kunjungi dan nekat untuk bertemu wakasek. Total 16 lamaran diterima. Apa? Diterima? Hmm...diterima surat lamarannya saja dan sisanya ada empat sekolah yang menolak kami.


Masih ingat dengan jelas sekolah terakhir yang kami kunjungi adalah SMPN 16 Bandung. Saat itu, sekitar pukul 13.00 bertepatan dengan jam pulang sekolah. Langit pun meneteskan air seolah-olah alam pun ikut merasakan perjuangan kami. Penjaga sekolah membiarkan kami menunggu lama di pos satpam. Sekitar 30 menit akhirnya kami putuskan untuk meminta izin kembali. Namun, tetap tidak boleh dan bapak tersebut berkata “Di sini semuanya PNS, tidak ada guru honorer, jadi mending neng pulang saja”. Lalu? Kalian tentu tahu apa yang kami rasakan saat itu.


Kami pun memutuskan untuk kembali ke rumah Fitri. Rumah temanku yang sejak pagi berjuang bersamaku. Total 16 surat lamaran diterima, kami pun tinggal menunggu panggilan. Saat hati sudah mulai gelisah karena berpikir “MALU” sudah lulus masih saja menyusahkan orang tua. Tiba-tiba pesan masuk. Ternyata itu adalah Tatang temanku dari jurusan PPKn. Ia memberikan kami informasi bahwa ada lowongan di sekolah SMP Mutiara Bunda. Tidak jelas info lowongan guru apanya, yang jelas kami langsung memutuskan pergi mencari lokasi sekolah tersebut. Patokan yang ia sampaikan adalah kita akan melewati jalan jelek. Hehe.


Sampailah kami di depan gerbang SMP Mutiara Bunda. Saat itu, satpam di sana sangat ramah dan langsung menerima surat lamaran kami.


“Baik, tugas kita selesai Fit. Yuk ke rumah lagi istirahat”, kataku sambil menaik nafas lega.

Hari berganti hari, tepat di tanggal 11 September 2014 belum ada satu pun yang menghubungi kami. Aku berpikir butuh biaya untuk tinggal di Bandung. Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang ke Purwak