“Kisah Tentang Satu Kata: Berkuda”

1001 Cerita di Mutiara Bunda

By M. Ariefianto



Titik awal (di) Berkuda

Bertutur tentang perjalanan bersama Mutiara Bunda bagi saya tidak akan mungkin lepas dari Berkuda. Sebelum membayangkan sebuah perjalanan menunggangi seekor kuda lengkap dengan pelana dan tali kekangnya, berkuda ini tentang sebuah kelas level dua dengan 25 anak-anak yang lucu dan ceria, wajah penuh antusiasme juga menerima orang yang baru dikenalnya dengan tanpa curiga, khas anak-anak harapan bangsa juga calon mertuanya kelak. Kelas 2 Berkuda adalah tempat pertama kali saya diminta tes mengajar (istilah lainnya micro teaching) saat seleksi penerimaan guru di SD Mutiara Bunda, salah satu tes yang paling menguras pikiran, mengusik rasa percaya diri juga keringat tentunya karena nervous yang otomatis dibawanya. Saat itu temanya tentang Unggas, dimana saya harus memilih pelajarannya namun tetap berkorelasi dengan tema unggas. Setelah merenung akhirnya saya memilih pelajaran IPA dengan bahasan tentang Jenis-jenis telur unggas.


Tidak sulit bagi saya memutuskan bahasan tentang jenis-jenis telur unggas, hal yang menantang sebetulnya adalah mencari berbagai jenis telur unggas yang sangat bervariasi ukurannya. Dimulai dari ukuran telur terkecil yaitu puyuh yang masih mudah didapat seperti halnya telur ayam kampung dan telur ayam negeri. Ukurannya keduanya lebih besar dari puyuh. Selanjutnya mencari telur yang lebih besar lagi yaitu telur bebek. Sampai telur bebek sejujurnya sudah bervariasi ukurannya, namun rasanya masih kurang membuat anak-anak dapat ‘wow moment’ karena biasa ditemui sehari-hari. Saya berupaya tuk membuat kesan menarik bagi anak-anak dengan mendapatkan telur unggas yang tidak biasa ditemui anak-anak yaitu telur angsa. Singkat cerita dengan perjuangan meyakinkan tetangga yang memelihara angsa untuk beramal soleh, dapatlah telur angsa di tangan saya tuk dibawa ke sekolah esok hari melakukan sesi tes mengajar. Kelas Berkuda menjadi tempat saya memulai perjalanan karir mengajar di Mutiara Bunda.


Tak Terlupakan (di) Berkuda

Entah mengapa kisah saya tentang Berkuda terus bergulir di Mutiara Bunda. Momen mengajar tentang berbagai jenis telur unggas telah terlewati dengan diterimanya saya menjadi guru di SD Mutiara Bunda. Saya tidak tau alasan bu Sara yang langsung menilai saya saat itu karena “mentah”nya gaya mengajar yang beliau toleransi atau karena telur puyuh mentah yang saya bagikan ke anak-anak kelas Berkuda, namun yang jelas momen itu sangat berkesan untuk saya semoga juga untuk anak-anak. Setelah diterima menjadi guru, tiba saatnya waktu untuk belajar. Saya termasuk beruntung diterima di Mutiara Bunda disaat 6 bulan sebelum tahun ajaran baru dimulai. Waktu yang luang selama 6 bulan sebagai saat belajar dengan cara praktik langsung menjadi asisten bagi tim kelas secara rotasi dengan periode seminggu sekali. Qodarullah, minggu pertama saya ditempatkan di kelas 2 Berkuda, momen minggu itu bertepatan dengan rencana Field Trip dengan tema unggas ke Kebun

Binatang. Momen di Berkuda ini tak terlupakan dalam hidup saya berikutnya setelah tes

mengajar, begini ceritanya.


Saya mendapat tugas mendampingi kelompok anak Berkuda yang saya ingat sampai saat ini namanya diantaranya Citra, Nadia, Ayesha, Dani dan Fikri. Kesemua anak itu baru pertama kali saya kenal saat tes mengajar, hingga perjalanan ke Kebun Binatang adalah perkenalan kami yang ketiga kalinya. Sebagai guru baru yang masih training tentu saya berupaya seoptimal mungkin tuk mengikuti semua prosedur dan rencana selama Field Trip, termasuk bekerjasama dengan bu Nunung dan bu Nia yang mendampingi Dani juga Fikri. Semua lancar sampai saatnya istirahat tuk makan snack. Kelompok kami berhenti di danau buatan yang di tengahnya ada “pulau” kecil yang berisi beberapa ekor monyet. Citra dan Nadia berdiri di sisi danau sambil melempar sejenis chiki ke danau yang tanpa diduga memicu banyak ikan berebut memakannya. lemparan chiki lainnya memicu lebih banyak ikan lagi yang muncul, tanpa diduga Fikri reflek mendorong Nadia yang ada di depannya ke kolam itu. Kisah selanjutnya menyisakan kehebohan saya menarik Nadia dari kolam, tangisan Nadia, baju ganti Citra yang dipinjam Nadia juga wajah pucat pasi dari semua guru kelas level 2. Kembali di Berkuda saya jadi mengenal anak yang fobia dengan ikan, dia adalah Fikri.


Akhirnya Saya Berkuda

Saya baru menyadari arti pucat pasinya para guru kelas khususnya bu Santi yang saat itu menangani kelas 2 Berkuda setelah tiba di sekolah. Ini berkaitan dengan Direktur Sekolah saat itu bernama pak Ali Abdullah yang sangat detail juga sedikit toleransinya apabila ada kejadian menimpa anak-anak. Sebelum kejadian di Kebun Binatang itu, insiden kecil saja yang menimpa anak-anak di sekolah akan menjadi bahasan yang besar, terlebih jika ada komplain resmi dari orangtua. Pucat pasinya para guru saat itu dipicu bayangan reaksi dari pak Ali akibat dari komplain orangtua Nadia yang kemungkinan besar memang akan terjadi, sampai momen itu benar-benar terjadi. Orang tua Nadia hadir ke sekolah untuk meminta kronologis kejadian, setelah dijelaskan detail peristiwanya mereka pun mafhum walau saya saat itu tidak tau apa yang mereka pikirkan sejatinya, namun yang jelas kisah saya dan Berkuda pun terus berlanjut.


Setelah kurang lebih 5 tahun berkarir di SD Mutiara Bunda saya mendapatkan undangan untuk masuk program Leadership. Program ini mempersiapkan para guru untuk menjadi pemimpin minimal untuk dirinya juga lebih besarnya bisa memimpin rekan-rekan guru lainnya. Program ini berlangsung beberapa bulan dengan berbagai sesi di kelas, dinamika kelompok, praktik lapangan sampai saat yang paling ditunggu-tunggu yaitu kegiatan praktik di lapangan. Saat itu kami mendapat lokasi praktik lapangan di Ciater-Subang. Begitu terkesannya ketika saya tau bahwa sesi penilaian di praktik lapangannya adalah Berkuda. Walau ini bukan pengalaman pertama dengan berkuda, namun tetap saja membuat dag dig dug ketika melakukannya, terutama ketika ada poin penilaian di dalamnya. Setelah mendapatkan ilmunya ternyata berkuda itu bukan pekerjaan sepele saja, sekedar naik ke punggung kuda dengan pelana di atasnyanya lalu menarik tali kekang otomatis kuda akan berjalan. Lebih dari itu, ternyata berkuda membutuhkan “komunikasi” dengan sang kuda sebagai sesama makhluk hidup yang dibekali rasa, sehingga butuh ketenangan diri tuk mengendalikannya. Modal ketenangan, kesabaran dan kepastian mengarahkan sang kuda akan menjadi syarat utama berkuda yang menyenangkan. Itu sekelumit kisah saya dengan Berkuda, yang membuat saya ada di Mutiara Bunda sampai saat ini. My Horse Riding, My Adventure.

9 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Mutiara Bunda Group of Schools

Head Office : Jl Padang Golf No. 11, Arcamanik, Bandung

admin@sekolahmutiarabunda.com

Telp : (022) 721-1200

©2019 by Mutiara Bunda.