Lahirnya Jiwa-Jiwa Merdeka, Kemerdekaan yang Sesungguhnya

Oleh Daina Asri Pradhita - XI Valiant


Sudah 75 tahun Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan dengan dibacakannya proklamasi oleh Ir. Soekarno dan Moehammad Hatta di Jl. Pegangsaan Timur, 17 Agustus 1945, tidak luput dari sorak-porak perjuangan seluruh rakyat dan bung-bung “kecil” lainnya. Sekarang, seluruh sudut Indonesia menjadi saksi bisu tumpah darah perjuangan menggapai kemerdekaan yang sudah lama diimpikan seluruh bangsa Indonesia. Hari itu, 17 Agustus 1945 seluruh masyarakat Indonesia berpesta ria dengan atas nama kemerdekaan yang akhirnya sudah diraih, yang saat itu “Berdirinya Negara yang Berdaulat Penuh” merupakan definisi yang hakiki dari “Kemerdekaan”. Maka, bertahun-tahun setelahnya pun bangsa Indonesia terus memperjuangkan kemerdekaan dengan definisi yang ditetapkan, dari peristiwa Hotel Yamato dengan berakhirnya Perang Surabaya, Bandung Lautan Api, dan seluruh perjuangan demi kesatuan Indonesia. 75 tahun kemudian, dengan perkembangan yang ada, apakah ada kemerdekaan yang harus diperjuangkan?


Indonesia merupakan negara kepulauan dengan alam yang terbentang luas, Laut dengan ikan-ikan beraneka ragam macamnya, terumbu karang untuk rumah para makhluk hidup laut. Gunung-gunung api yang menjadikan tanahnya subur, Manusia dengan senyum yang indah, beragam bahasa, beragam budaya, seperti permen nano-nano dengan rasa yang berbeda namun menjadi satu, membuat cita rasa baru. Indonesia dengan semua yang menjadi isinya, yang menjadikannya satu. Apakah semua itu yang menjadikannya sebagai “Macan Asia? Yang tertidur? Kenapa tertidur? Memangnya belum pagi?” Kemana sih ini “Ayam Jago” yang dapet shift? Ketiduran kali ya habis salat subuh. Anda pembaca adalah macan yang masih tertidur, Anda pasti berpikir “Kenapa? Kok Saya masih tertidur? Buktinya Saya lagi baca pasti bangun dong?” betul sekali! Tapi bukan itu, Anda ini adalah macan! kenapa macan? karena Anda memiliki banyak sekali potensi tapi Anda tidak siap meraung atau mungkin Anda belum diberi tempat untuk meraung. Maka Anda adalah macan yang terkurung, yang membutuhkan “Ayam Jago” untuk bersuara kukuruyuk agar Anda bangun! dan “Ayam Jago” pula yang memegang kunci rumah Anda, lebih tepatnya jiwa dan diri Anda. Sekarang, yang harus kita lakukan adalah mencari “Ayam Jago.”


Mungkin intepretasi terhadap “Ayam Jago” berbeda-beda, dapat muncul berbagai macam ide untuk membangunkan “seekor macan” atau mungkin 267 juta “macan” lainnya. Mungkin kenyataannya memang begitu “Ayam Jago” yang datang akan berbeda begitu pula setiap “macan” merupakan individu yang berbeda-beda, kita berbeda dengan kepalanya masing-masing, maka dari itu “Ayam Jago” yang datang juga berbeda-beda. Setiap individu akan melalui proses belajar bahkan proses itu berlangsung selama hidup manusia, dalam kehidupan manusia yang dapat menjadikan hidupnya merasa berarti atau hidup dengan sepenuhnya, adalah kebebasan. Seperti kupu-kupu yang akan terbang bebas, sebelumnya kita belajar teknik dan dasar dalam sebuah institusi pendidikan.


Sudah hampir bertahun-tahun lamanya institusi pendidikan adalah sebuah bui. Sistem sampai proses belajarnya adalah sebuah ketakutan dan tekanan berat untuk setiap individu yang ada di dalamnya, bukannya tergolong untuk berkembang malah pikiran dan mental menjadi sebuah regresi yang disembunyikan. Semuanya, terlalu disamarasakan padahal tidak satu. Hal yang kurang dari pendidkan di Indonesia adalah ketidaksadaran atas inklusifitas, penempatan sudut pandang dari sisi yang berbeda-beda.


Dalam mendapatkan kemerdekaan dalam belajar, sebuah intistusi pendidikan atau guru harus dapat menempatkan dirinya dari sudut pandang setiap siswa yang sudah jelas berbeda-beda. Maka ketika pendidikan sudah dapat berempati atas setiap indvidu, dengan kompetensi yang sesuai dan metode pembelajaran yang menunggulkan kebebasan dalam berbagai macam aspek. Siswa akan nyaman dengan dirinya sebagai seorang manusia yang mencari jalannya sendiri. Setiap siswa akan merasa unggul dengan apa yang menjadi potensi untuknya.


Ketika ruangan kelas menjadi sebuah ruang eksperimen, setiap ide dan pikiran diadu, dan dieksperimenkan, itulah proses setiap individu berkembang. Ketika ide-ide difasilitasi oleh dukungan teknis maupun jiwa, di situlah seorang individu menemukan apa yang bisa ia kontribusikan untuk lingkungannya. Ketika ujian datang, perasaan yang muncul adalah perasaan gairah untuk melalui petualangan dengan pikiran-pikiran liar yang dapat ditunjukkan untuk orang-orang di sekitarnya, tidak harus di kertas dengan pensil memilih antara A, B, C, D atau E. Ketika itu semua terjadi, “macan-macan” sudah dapat mendengar kukuruyuk “Ayam Jago,” sudah pagi waktunya, kita bangkit dengan bebas. Indonesia adalah “Macan Asia yang tertidur”, tetapi jika kemerdekaan dalam belajar sudah dirasakan, terbangunlah jiwa-jiwa yang bebas, yang siap untuk menjadi versi terbaiknya berkontribusi pada pembangunan negeri, keluarganya, dan juga dirinya sendiri, di situlah juga kita meraih kemerdekaan yang sesungguhnya.

19 tampilan

Mutiara Bunda Group of Schools

Head Office : Jl Padang Golf No. 11, Arcamanik, Bandung

admin@sekolahmutiarabunda.com

Telp : (022) 721-1200

©2019 by Mutiara Bunda.