Menata Diri, Yuk (Renungan di kala Tahun Baru Hijriyyah)

Intisari Halaqoh Mutbunders Bersama Ust. Darlis Fajar

By M. Ariefianto

 

Menata diri itu perlu pengorbanan

Bagaimana rasanya jika kita tiba-tiba harus pindah dari rumah milik sendiri meninggalkan harta benda yang sudah ada, dari wilayah tempat kita dilahirkan, lokasi dimana kita dibesarkan bersama keluarga, rekan juga sahabat, lalu pindah ke wilayah baru tanpa ada keluarga, rekan juga sahabat? Itu yang dirasakan Rasulullah dan para sahabatnya yang diperintahkan Allah untuk hijrah dari Makkah ke Madinah. Tujuan mereka hijrah bukan karena takut atau ciut nyali menghadapi kaum kafir Quraisy yang menekan fisik juga jiwanya, melainkan untuk menyelamatkan aqidahnya juga untuk menata diri dan kehidupannya. Namun ternyata untuk mewujudkannya butuh pengorbanan besar, kehilangan harta, juga berpisah dengan wilayah yang sangat mereka cintai sepenuh hati.


Begitulah esensi dari menata diri, butuh sebuah pengorbanan. Apapun bentuk pengorbanannya, bisa waktu, bisa tenaga juga menunda kesenangan bahkan berupa harta benda. Bisa dipastikan tidak akan ada hal yang berubah tanpa sebuah pengorbanan. Jika mengambil tuntunan dalam Al-Qur’an diistilahkan orang yang menata diri haruslah berbekal aamanu atau beriman, lalu wahajaru atau berhijrah/berubah menjadi lebih baik, syaratnya wajahadu atau bersungguh-sungguh berkorban segala hal. Jadi sebelum kita berkomitmen untuk menata diri maka hal pertama yang perlu kita pastikan ke diri kita adalah, siapkah kita berkorban? Jika siap, maka kita sudah di jalan yang tepat untuk mulai menata diri.


Menata diri itu perlu target

Kembali belajar dari kisah hijrahnya Rasulullah dan para sahabatnya untuk menata diri juga masyarakat maka yang dilakukan oleh Rasulullah adalah menetapkan target diantaranya adalah membuat perjanjian damai dengan penduduk asli Madinah, mempersaudarakan kaum muhajirin (sahabat dari Makkah) dan kaum anshar (sahabat dari Madinah), juga membangun ekonomi umat dengan membuat pasar. Ketiga target ini menjadi tolok ukur pembangunan peradaban yang luar biasa dicapai oleh Rasulullah dan para sahabatnya hingga kurang dari 2 dekade mampu mengalahkan hegemoni peradaban Persia dan Romawi yang sudah ribuan tahun eksis menguasai dunia. Sebuah pencapaian yang bahkan oleh ahli manajemen manapun tetap diluar nalar, semua kembali ke motivasi awalnya, termasuk ketika kita akan menata diri, apa target yang kita tetapkan?


Ketika kita berkomitmen akan menata diri maka kita perlu memiliki target. Lalu apa target kita? Al Qur’an dan sunnah Rasulullah juga jalan para sahabat memberi contoh pada kita bahwa target utama kita adalah masuk surgaNya Allah. Kita diberi kesempatan oleh Allah untuk masuk surga melalui banyak tingkatan, ada ratusan tingkatan untuk bisa masuk surgaNya Allah, dari senyum ketika bertemu saudara lainnya sampai berjuang di medan pertempuran yang sesungguhnya membela agama Allah, dari memungut duri atau ranting yang menghalangi jalan sampai membangun masjid, semua adalah jalan menuju tingkatan surgaNya Allah masing-masing. Jadi ketika kita sudah siap untuk berkorban, maka berikutnya targetkan surgaNya Allah sebagai motivasi kita untuk menata diri.


Menata diri itu perlu berjamaah

Masih dalam rangka belajar dari kisah hijrah Rasulullah dan para sahabatnya, maka hal yang perlu kita lakukan ketika menata diri adalah berjamaah atau bersama-sama. Manfaat utama dari berjamaah adalah kita mampu saling memotivasi dan mengingatkan jika diantara kita ada yang mulai kurang komitmen. Tentu saja saat kita menjalani proses menata diri pasti akan menemukan momen ketika kita merasa lelah, khususnya ketika mulai kurang mau berkorban ataupun ketika merasa target terlalu sulit diraih, saat inilah peran berjamaah terasa sekali. Peran sahabat kita untuk saling mengingatkan kembali esensi berkorban juga target utama yang perlu fokus diraih. Sehingga satu diantara kenikmatan hidup adalah ketika kita memiliki lingkungan yang senantiasa mengingatkan kita untuk selalu menata diri kita. Mulailah periksa siapa yang ada disekelilingmu untuk mengingatkanmu selalu.


Pada akhir tulisan singkat ini, kita renungkan sebuah ayat Al Qur’an di surat An-Najm 39-41 yaitu: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” Semoga ayat ini mampu terus memotivasi diri kita terus menata diri dengan kerelaan berkorban juga fokus menuju target utama sehingga mendapatkan balasan terbaikNya yaitu surgaNya Allah. Kita bisa mulai dari diri sendiri, mulai dari hal bermanfaat terkecil, mulai saat ini.


Salam menata diri untuk Mutbunders semua. Bismillah

Wassalam

33 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua