Mutiara Bunda Group of Schools

Head Office : Jl Padang Golf No. 11, Arcamanik, Bandung

admin@sekolahmutiarabunda.com

Telp : (022) 721-1200

©2019 by Mutiara Bunda.

Nadiem Makarim: Ketika Pendidikan Indonesia di Tangan Milenials

VPP SMP-SMA Notes: Edisi Desember 2019

By M. Ariefianto




Mas Menteri Tak Terduga Pilihan Jokowi

"Kita akan membuat terobosan yang signifikan dalam pengembangan SDM yang menyiapkan SDM siap kerja, siap usaha yang link and match antara pendidikan dan industri ada di wilayah Mas Nadiem," ucap Presiden Jokowi saat memperkenalkan Nadiem Makarim sebagai Mendikbud baru di Kabinet Indonesia Maju. Apabila menelaah dari pernyataan tersebut bisa dimaklumi bahwa presiden Jokowi ingin sekali Nadiem Makarim sebagai bagian dari tim Kabinet yang akan membantunya, walau kita sebagai masyarakat awam tentu belum paham dan kaget dengan pilihan tersebut. Bila melihat sepak terjang Nadiem Makarim beberapa tahun ke belakang khususnya selepas menyelesaikan studi S2 nya di Harvard University maka rangkaian karyanya di beberapa perusahaan startup sebagai langkah awalnya membuat perusahaan startup pribadinya tentu tidak akan mengherankan, terutama dalam hal mempersatukan antara kemampuan IT dengan solusi menjawab permasalahan sehari-hari, Gojek adalah salah satu contohnya. Sejarah penciptaan Gojek adalah gabungan antara insting bisnis Nadiem dengan kenyataan sehari-hari ketika dia masih bekerja di beberapa perusahaan dimana terkadang setiap harinya menggunakan ojek. Dari sanalah semua berawal sehingga terciptanya aplikasi Gojek.

Kedekatan Nadiem Makarim dengan RI 1 juga bisa ditelaah dari dukungan beliau ketika Gojek Go Internasional ke Vietnam dengan brand GoViet. Ketika peluncuran aplikasi tersebut Presiden Jokowi langsung hadir dengan beberapa jajaran menteri di kabinet saat itu. Bahkan di Tahun 2015, Nadiem pun menjadi pendamping RI 1 yang paling antusias ketika bertandang ke markas IT dunia di Silicon Valley, Amerika Serikat. Saat itu Nadiem menyampaikan bahwa misi utama kunjungan RI 1 ke Silicon Valley didampingi para pimpinan perusahaan Startup potensial dari Indonesia sebagai promosi bagi dunia internasional bahwasanya potensi pasar invesatsi Startup level dunia itu tidak hanya dikuasai Cina dan India saja, Indonesia pun cerah tuk investasi, begitu kira-kira ambisinya. Dari beberapa kali momen bersama ini tentu ada beberapa hal yang didiskusikan oleh Nadiem Makarim dan RI 1 terkait berbagai permasalahan bangsa Indonesia di era millenium ini, namun tuk menjadi orang nomor 1 di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan di negeri ini, tentu tidak semua orang bisa menduganya, termasuk saya tentunya.


Menteri Termuda dengan Anggaran 1000 Triliun Lebih

Bagaimana ya rasanya, anak muda 35 tahunan yang baru mengenal birokrasi berikut protokoler didalamnya langsung mengelola anggaran Ratusan Triliun dengan berjuta permasalahan mendidik Sumber Daya Manusia bangsa berikut budayanya yang ada dari ujung Aceh di Sumatera sampai Ujung Merauke di Papua? Saat ini hanya Nadiem Makarim yang bisa menjawabnya. Sesuai amanat dari UU Sisdiknas Tahun 2013 maka Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengelola cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa juga meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia yang berdaya saing dunia. Anggaran yang besar mencapai Ratusan Triliun harus dibarengi dengan berbagai program yang menuju sasaran juga cita-cita yang diharapkan, itu semua tentu ada di pikiran Nadiem Makarim saat ini.


Muda belum tentu tidak punya apa-apa, bahkan para pemuda lah yang selama ini memberikan berbagai sumbangsih nyatanya bagi bangsa Indonesia. Mulai dari Sumpah Pemuda di tahun 1928 yang menjadi titik awal bersatunya semua komponen bangsa untuk merdeka. Tekad para pemuda yang tergabung dalam Jong Sumatra, Jong Java, Jong Celebes, juga Jong lainnya inilah yang mempersatukan berbagai suku bangsa, bahasa juga budayanya ke dalam satu kesatuan, Negara Indonesia. Sikap pemuda yang spontan, berpikir jangka pendek dan mau ambil resiko dibutuhkan saat itu sebagai gerakan nyata tuk berjuang melawan penjajahan yang terasa semakin menyakitkan. Hal ini dilanjutkan dengan peristiwa persiapan Kemerdekaan Indonesia dimana sekali lagi peran para pemuda tidak bisa dinafikan, jasanya sangat besar bagi kemerdekaan Indonesia. Saat itu yang menjadi pemerannya adalah golongan yang dipimpin oleh Sukarni yang memaksa generasi Senior yaitu Soekarno dan Bung Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah Jepang saat itu, pada akhirnya di tangan para pemuda lah, 17 Agustus 1945 tercatat melalui tinta sejarah jadi momen proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia. Sekali lagi pemuda membuktikan karya dan jasanya bagi Indonesia.


Lepas merdeka bangsa Indonesia ternyata tidak mudah begitu saja menata dirinya. Kaum penjajah tidak rela bangsa Indonesia merdeka. Mereka masih ingin kembali menjajah dengan berbagai macam dalih dan cara. Salah satunya menumpang pasukan sekutu yang akan memeriksa Indonesia. Sekali lagi para pemuda yang sangat keras menolak kehadiran kembali kaum penjajah membuktikan perlawanannya sampai menukar nyawanya, peristiwa paling heroik di Surabaya sehingga setiap tahun diperingati sebagai hari Pahlawan, andil para pemuda. Takdir sang pencipta di akhir tahun 2019 pun seorang pemuda berusia 35 tahun diamanahi untuk memimpin sebuah kementrian strategis yang mengurus Sumber Daya Manusia bangsa Indonesia di masa mendatang meneruskan cita-cita para pejuang dan pendiri bangsa Indonesia ini. Di pundak mas Menteri inilah arah dan tujuan Pendidikan Nasional minimal 5 tahun mendatang diamanahkan dengan anggaran yang super besar Ratusan Triliun.


Arah Pendidikan Nasional Dalam Genggaman Mas Menteri

Tentu hanya anak milenial yang akan paham bagaimana keinginan para milenial. Tantangan masyarakat global saat ini tentu berbeda dengan 5 – 10 tahun ke belakang, sehingga masa yang akan dihadapi oleh anak-anak di usia sekolah saat ini perlu pendekatan yang juga berbeda dari apa yang dialami oleh orangtuanya. Mas menteri paham sekali akan hal ini, sehingga dengan penuh kerendahan hati dalam program 100 hari pertama tugasnya sebagai pengelola pendidikan nasional menempatkan diri sebagai murid yang akan belajar, menyerap aspirasi dan mendengarkan berbagai hal dari semua elemen pengelola pendidikan di negeri ini. Langkah yang tepat dan bijaksana mengingat begitu banyaknya permasalahan mendasar sampai yang mengemuka di ruang publik tentang potret pendidikan nasional yang tak kunjung selesai bentuknya. Belum tuntas kita membahas pergantian konsep pendidikan dari Berpusat pada guru (Teachers Centre) menuju berpusat pada siswa (Students Centre) yang saat ini sudah berkembang berpusat pada motivasi belajar siswa (Learning Drive), bangunan atap sebuah SD di Pasuruan rubuh sehingga menyebabkan 2 orang meninggal dunia.


Rasanya juga belum selesai kita menuntaskan dan menyepakati bersama terkait Ujian Nasional sebagai evaluasi akhir siswa secara nasional, apakah masih diperlukan ataukah memang bisa diganti dengan format lainnya, budaya tidak jujur dari hal terkecil yaitu mencontek teman sampai hal yang besar berupa plagiarisme karya ilmiah masih terjadi bahkan terkesan lumrah saja tanpa ada rasa dosa. Selain itu juga belum tuntas sepenuhnya pembahasan status para guru honorer yang selalu merasa dikecewakan juga diberi harapan tanpa akhir, ditambah tentang prosedur sertifikasi guru sampai saat ini pun belum ada ujungnya menjangkau seluruh guru yang ada di pelosok Indonesia, kita sudah dikagetkan dengan oknum guru yang mengajak siswi putrinya berbuat asusila seolah tidak pernah diajarkan tentang etika, moral juga pelajaran agama di kelasnya.


Pada akhirnya kita sedang menunggu bagaimana arah pendidikan nasional di genggaman mas menteri saat ini. Hal ini penting karena akan menjadi titik awal bagaimana generasi mendatang yang berkualitas akan diciptakan. Namun hal yang pasti mas Menteri yang terbiasa makan enak, tidur nyenyak di rumah yang nyaman, sekolah bersepatu banyak pilihan, mengenyam pendidikan luar negeri sampai ke Amerika dan pernah di Eropa saat ini harus memikirkan pendidikan terbaik tuk mayoritas anak Indonesia yang masih mengalami gizi buruk, tinggal di daerah konflik, belum beralas kaki ke sekolah, harus menempuh perjalanan berkilo-kilo meter bahkan melewati rawa juga sungai tuk diseberangi. Mampukah mas menteri menyelami kehidupan mayoritas anak bangsa saat ini yang sangat jauh dari apa yang beliau alami tinggal di kota? Haruskah mas menteri mengalami dulu tinggal beberapa waktu diantara mayoritas anak bangsa yang marjinal untuk menyerap semua kebutuhannya hingga membuat kurikulum nasional yang tepat sasaran? Hanya mas Menteri yang bisa menjawabnya. Kita tunggu bersama, apa yang akan diberikannya untuk pendidikan bangsa ini dan esok nanti.

36 tampilan