Nostalgia dan Dua Wah

1001 Cerita di Mutiara Bunda

By. Ade Fahrizal



Atas izin Allah, tahun ini adalah tahun ke-4 saya di SMP Mutiara Bunda. Izinkan saya sejenak bernostalgia, ceritanya saya bisa berada di Mutiara Bunda berawal ketika istri saya melihat info lowongan kerja (loker) guru Islamic Education (Pendidikan Agama Islam, PAI) untuk Mutiara Bunda junior high school di Instagram. Dia lalu memberi tahu saya dan menyarankan untuk mencoba melamar, karena menganggap saya cocok jadi guru. Saat itu saya tidak terlalu menanggapi serius saran istri saya. “Ah itu kan sekolah bagus dan mahal mi, gak mungkin kayaknya deh abi diterima”, kata saya. Selesai. Tapi beberapa hari kemudian, saya pun juga dapat info loker yang sama melalui broadcast Whatsapp dari salah satu teman kuliah saya, yang juga seorang guru di Mutiara Bunda yaitu Pak Heri. Lalu dia pun menjapri saya untuk mengajukan lamaran, karena katanya saya cocok untuk menjadi guru disana (Mutiara Bunda). Alasannya persis dengan istri saya. Sebenarnya kondisi saat itu saya tidak terlalu urgent untuk mencari pekerjaan baru, karena saya masih nyaman menjadi broadcaster di salah satu radio Islam di Kota Bandung. Selain itu, saya juga masih mengajar informal sebagai guru tahsin Qur’an.


Namun seolah-olah ada petunjuk dari Allah, hati saya berkata lain. Sebenarnya ada keinginan dalam diri ini untuk menjadi seorang pendidik, apakah itu guru atau dosen. Ada motivasi tersendiri jika diri ini dapat berbagi ilmu kepada banyak orang, dan itu pula yang menjadi strong why saya untuk menyempatkan mengajar tahsin Qur’an dari rumah ke rumah, masjid ke masjid, agar menjadi amal jariyah. Maka saya putuskan melakukan salat istikhoroh untuk memantapkan hati; mengajukan lamaran ke Mutiara Bunda atau tidak. Harapannya agar tidak ada penyesalan atas keputusan yang akan saya ambil, segala konsekuensinya harus siap saya terima. Seingat saya, di hari terakhir penyerahan berkas lamaran loker guru Mutiara Bunda akhirnya saya memutuskan untuk mengajukan lamaran. Pagi-pagi sebelum berangkat kerja ke studio radio, saya lengkapi seluruh persyaratannya. Saat break setelah siaran, saya menuju ke salah satu agen ekspedisi untuk mengirimkan lamaran ke Mutiara Bunda.


Gayung bersambut. Beberapa hari setelah mengirimkan lamaran, saya ditelpon bagian HRD Mutiara Bunda, yaitu Bu Rindu (inget banget ini mah). Dengan suaranya yang khas, beliau menginformasikan kepada saya bahwa ada undangan untuk interview sebagai calon guru PAI SMP. Jika tidak salah, jarak jadwal interview dengan pemberitahuan oleh Bu Rindu, tidak terlalu jauh, kurang lebih 2 hari. Saya sempat panik dengan pemberitahuan tersebut, karena saya ada jadwal siaran. Sempet terbersit, sepertinya saya agak susah minta izin, karena memang posisi saya sulit digantikan, hehehe. Tetapi memang semuanya designed by Allah, ada salah satu rekan siaran saya yang menawarkan tukeran jadwal karena dia ada keperluan keluarga di pekan depannya. “Oke, deal ya kita tukeran jadwal? Siipp”, alhamdulillah ucap saya dalam hati.


Tiba waktunya saya hadir ke Mutiara Bunda untuk interview. Dengan mengenakan peci hitam kesayangan saya, saya datang sekitar lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Tetapi ternyata sudah ada beberapa pelamar juga yang hadir, wah saingan nih, hehehe. Diawali dengan mengisi beberapa formulir (waktu itu di kursi-kursi taman depan wall climbing SMP/A), lalu dikumpulkan kepada Bu Rindu yang waktu itu mengenakan name tag Mutiara Bunda, keren juga. Satu per satu kami mulai dipanggil, hingga akhirnya tiba giliran saya. Sesi pertama, saya di-interview oleh Ms Tina dalam sesi bahasa Inggris. Sempat grogi, karena sebelumnya tidak pernah interview kerja menggunakan bahasa Inggris. Lalu dilanjutkan sesi kedua, saya di-interview oleh Pak Yudi Karviandi. Pada saat interview dengan beliau, saya banyak ditanya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan Islam. Oh mungkin ini sesi untuk mengetahui wawasan keislaman calon guru PAI, termasuk juga tes hafalan Qur’an. Saya ingat sekali surat yang diminta murajaah oleh Pak Yudi yaitu surat An Naziat. Setelah dari beliau, saya melanjutkan interview sesi ketiga yaitu dengan Bu Novi. Diantara para peng-interview, yang paling membekas di ingatan saya adalah Bu Novi, mungkin karena ketika saya hendak interview dengan beliau, Bu Rindu yang mengantarkan menuju ruang Bu Novi, mengatakan kepada saya, “Selanjutnya interview terakhir dengan Bu Novi, beliau kepala HRD Mutiara Bunda”. Memang benar, pertanyaan-pertanyaan Bu Novi sangat sulit serta dikemas dengan intonasi serta tatapan mata yang sangat tajam. Saat interview ini, dua pertanyaan yang beliau ajukan dan paling saya ingat sampai sekarang adalah; lima tahun lagi anda akan menjadi apa? Apa yang akan anda lakukan untuk mengembangkan keislaman di Mutiara Bunda?. Saya jawab sesuai dengan apa yang ada dipikiran saya saat itu, dan alhamdulillah di tahun ke-4 saya di Mutiara Bunda, jawaban-jawaban pertanyaan tersebut atas izin Allah dapat terlaksana. Sesaat sebelum mengakhiri interview, ada percakapan menarik, Bu Novi mengatakan, “Sepertinya bapak memang cocok untuk mengajar kelas atas”. Saya sempar bingung, lalu saya menjawab, “Maksudnya bagaimana bu kelas atas?”. “Oh maksudnya untuk jenjang SMP atau SMA pak”, jelas Bu Novi. Saya pun menjawab dengan polosnya, “Saya pikir kelas atas bangunan kelasnya ada di atas, di lantai 2 gitu”. Ya itulah keluguan dari seorang calon guru.


Setelah seluruh sesi interview berakhir, saya lihat para pelamar yang tadinya ada sekitar 8-10 orang, berkurang sisa 3 saja. Wow apakah yang lainnya sudah dinyatakan gugur? Entahlah. Sambil menunggu sesi selanjutnya, saya berkenalan dengan para pelamar yang tersisa, yaitu dua orang teteh, yang pertama lulusan ULIN dan satunya lagi lulusan UNPAT. Universitas-universitas top dan berskala nasional, sedangkan saya hanya dari sekolah tinggi Islam yang lokasinya dipinggir Jalan Gagak, Kota Bandung. Ah jangan mau kalah dan apriori terlebih dahulu, kita buktikan saja nanti siapa yang akan lolos, hehehe. Bu Rindu kembali muncul dari balik pintu, menyapa kami untuk masuk ke sebuah rungan dan mengerjakan psikotes. Setelah itu, kami kembali dminta keluar namun hanya dua, saya dan teteh yang dari UNPAT, sedangkan teteh yang dari ULIN. Sempat terpersit dalam hati, wah sepertinya teteh itu yang lolos karena saya lihat sedang berbicara serius dengan Bu Rindu. Tetapi setelah itu, eh tetehnya pulang sambil tertunduk. Entahlah apa yang disampaikan Bu Rindu kepadanya. Setelah itu, teteh yang dari UNPAD juga dipanggil oleh Bu Rindu dan berbicara beberapa saat. Apa yang terjadi selanjutnya? Tetehnya pulang juga. Dan... Lalu Bu Rindu memanggil saya, saya dipersilahkan duduk, dan beliau menyampaikan bahwa saya lolos sesi interview. Selanjutnya keesokan harinya, saya akan mengikuti observasi kegiatan belajar mengajar (KBM) di SMP Mutiara Bunda dan dilanjutkan micro teaching lusa. Itu artinya tinggal satu step bagi saya untuk bisa menjadi seorang guru. Saya bersyukur kepada Allah atas izin dan kehendak-Nya, saya dapat melanjutkan proses rekrutmen ini.


Esoknya saya memulai observasi KBM di SMP Mutiara Bunda. Saya ditemani oleh Pak Angga, guru PAI untuk semua kelas di SMP Mutiara Bunda. Ada pertanyaan dalam pikiran saya, apakah saya akan bermitra bersama beliau untuk mengajar PAI di SMP atau saya akan menggantikan peran beliau?. Saya mengikuti Pak Angga mengajar dari satu kelas ke kelas lainnya. Banyak hal-hal baru yang saya lihat, sepertinya adanya siswa berkebutuhan khusus, tipikal karakter siswa yang aktif dan kritis, serta suasana kelas yang sangat dinamis. Mengapa ini semua menjadi hal baru bagi saya? Karena sebelumnya saya tidak pernah mengajar di sekolah, dan memori saya masih terbawa masa lalu saya saat SMP, dimana relatif siswanya lebih kalem dibandingkan siswa masa kini. Saya juga belajar tentang media dan model pembelajaran yang digunakan oleh Pak Angga serta guru lainnya yang mengajar di ruang Pak Angga. Saya catat seluruh aspek yang perlu untuk menjadi referensi saya melakukan micro teaching besok.


Tiba hari dimana saya akan micro teaching, sebuah uji kemampuan untuk mengetahui cara mengajar seseorang. Saat itu, saya akan micro teaching di kelas 7 Courage. Saya diperkenalkan dengan wali kelas atau Home Based Teacher (HBT) kelas tersebut yaitu Pak Yedi, dengan stelan necis serba hitam termasuk dasinya. Saya meminta izin akan masuk ke kelas beliau di jam terakhir untuk micro teaching dan beliau mempersilahkan. Waktu terus bergulir, akhirnya sampai juga saatnya saya untuk tampil mengajar. Sudah hadir juga guru yang akan menilai saya, yaitu Bu Nunung (inget banget). Materi yang saya bawakan tentang sifat terpuji Tawakal. Saya menggunakan media pembelajaran audio visual seperti slide powerpoint, tayangan video, dan beberapa kertas untuk siswa menuliskan kesimpulan. Micro teaching berjalan baik dan lancar, alhamdulillah beberapa kali ada interaksi yang aktif juga dengan siswa. Selesai micro teaching, saya diarahkan ke ruang wakil kepala sekolah (yang sekarang jadi ruangan saya, hehehe) untuk feedback. Siapakah yang akan memberikan feedback kepada saya selain Bu Nunung? Ternyata Ms Yuli, yang sekarang menjabat sebagai Kepala SMP Mutiara Bunda. Beliau menanyakan perasaan saya setelah micro teaching, hal-hal berkesan yang dirasakan saat mengajar tadi, serta kekurangan-kekurangan yang perlu saya perbaiki dari mengajar. Bu Nunung juga menyampaikan hasil penilaian beliau mengenai performa saya saat mengajar. Syukur kepada Allah, semuanya memberikan tanggapan yan baik dan besoknya saya pun ditelpon Bu Rindu, memberi tahu bahwa saya diterima sebagai guru PAI di Mutiara Bunda, alhamdulillah.


Sekitar satu minggu kemudian saya dipanggil kembali oleh Bu Rindu untuk tanda tangan kontrak dengan status magang selama 3 bulan. Saya sempat terkejut ketika mengetahui lokasi magang saya, yaitu di SD Mutiara Bunda dan akan mengajar kelas 1-2. Ternyata hal ini dikarenakan guru PAI kelas 1-2 saat itu (Bu Heni) sedang cuti melahirkan, sehingga ditempatkan sementara di SD. Sempat ragu, waduh seumur-umur belum pernah mengajar anak-anak kelas 1-2. Biasanya murid saya yang belajar tahsin direntang kelas 6 SD hingga 9 SMP. Tapi saya anggap saja ini sebuah tantangan dari Allah untuk menguji kapasitas dan kualitas diri saya. Saya pun memulai kehidupan baru, menjadi seorang guru PAI (kelas 1-2 SD).

Hari pertama magang, saya berkesempatan untuk observasi situasi kondisi di SD, dan aktivitas KBM. Saya ditemani Pak Zuhdi untuk memantau lingkungan SD, kegiatan di dalam maupun luar kelas, termasuk diperkenalkan dengan rekan-rekan guru tim agama di SD. Berbeda dengan SMP, SD ternyata lebih luas. Padahal jika saya lihat dari depan (jalan Arcamanik Endah) sepertinya mustahil SD seluas ini. Saya sangat menyukai lingkungan di SD yang sejuk, rindang, dan teduh. Guru-gurunya pun juga ramah, hal itu terasa saat saya masuk ke kelas-kelas untuk observasi. Di SD saya juga melihat lebih banyak siswa berkebutuhan khusus dan para supporting teacher yang mendampingi. Luar biasa, sekolah ini memang menawarkan konsep yang berbeda.


Hari-hari berikutnya saya memulai peran saya sebagai guru PAI. Kelas pertama yang saya ajar yaitu 1 Hoki, dengan guru kelasnya Bu Lia dan Bu Gina (saya agak lupa, tapi semoga benar, mohon maaf). Wah pengalaman yang sangat berkesan mengajar siswa kelas 1. Saya lebih banyak menggunakan metode story telling yang ekspresif dan beberapa gerakan instruktif bersama. Semua ini adalah hasil riset saya dari observasi sebelumnya dan belajar dari Youtube cara mengajar siswa kelas 1 dan 2 SD. Bagi saya pandangan pertama adalah kesan yang tak terlupakan. Oleh karena itu saya berusaha menampilkan yang terbaik agar saya dapat diterima oleh para siswa. Alhamdulillah semunya berjalan dengan baik dan sesuai rencana.


Sebenarnya masih banyak hal-hal yang ingin saya ceritakan semasa magang di SD. Namun sepertinya saya akan singkat cerita saja dan mulai menceritakan kisah saya saat menjadi guru PAI di SMP. Di tahun pertama, saya diamanahi sebagai guru PAI kelas 8 dan 9 (totalnya ada 6 kelas). Jumlah yang tidak sedikit untuk seorang guru yang benar-benar baru menjadi guru. Tapi seperti yang sebelumnya saya sampaikan, ini tantangan dari Allah untuk ujian diri. Saya mulai kerjakan seluruh administrasi, menyiapkan materi-materi ajar, hingga menentukan media dan model pembelajaran. Tahun pertama ini saya hampir setiap hari pulang menjelang maghrib, karena mengerjakan segala sesuatunya yang saya butuhkan untuk mengajar.


Nah di pekan pertama saya di SMP, saya mengikuti salat Jumat berjemaah pertama saya di sekolah. Disebabkan belum adanya masjid, maka pelaksanaan salat dilakukan di lapangan futsal. Dengan beralaskan karpet, seluruh siswa SMP-SMA dan guru berkumpul untuk menunaikan salat Jumat. Sebenarnya rangkaian salat Jumat berjalan dengan lancar, namun ada satu hal yang kurang pas menurut saya. Selama khutbah berlangsung, suasana jamaah tidak kondusif. Saya melihat banyak sekali siswa yang mengobrol, bahkan ada juga beberapa guru melakukan hal yang sama. Jika melihat kondisi seperti ini, saya suka greget dan seperti ada tanggung jawab moral untuk memperbaikinya. Beberapa saat setelah imam mengucapkan salam sebagai akhir shalat Jumat, saya bangkit dari tempat duduk saya dan mengambil mic yang ada di mimbar khatib. Lalu saya menyampaikan, “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Telah rugilah jamaah salat Jumat yang tadi ketika khutbah dibacakan, tetapi mereka mengobrol dan bermain. Semoga pada salat Jumat selanjutnya, kita semua dapat lebih baik mendengarkan khutbah dengan tidak mengobrol dan tidak bermain”. Sontak penguman singkat saya pun menjadi buah bibir di SMP, hehehe. Bahkan ada rekan guru yang mengatakan kepada saya, “Kirain ada yang meninggal pak”. Saya jawab, “Sebelum meninggal, harus disadarkan dulu pak tentang kebaikan”. Siswa pun juga ada yang membicarakan, “Eta guru anyar wanian pisan euy. Naon sih maksudna”.


Saya pun mencoba mengkomunikasikan mengenai kondisi khutbah Jumat yang tidak kondusif ke beberapa rekan guru. Menurut mereka, kondisi ini memang selalu terjadi, padahal sudah diingatkan. Saya tanya seperti apa cara mengingatkannya, dari informasi yang saya dapatkan, biasanya hanya sekedar himbauan agar tertib yang disampaikan oleh guru sesaat sebelum shalat Jumat dimulai. Menurut saya tidak bisa hanya seperti itu saja. Perlu adanya dakwah dan qudwah untuk merubah ini semua. Dakwah berarti mengajak orang lain untuk mengerjakan kebaikan dan mencegah keburukan, qudwah yaitu keteladanan untuk dicontoh dan ditiru. Maka saya mulai gerilya untuk mengajak guru-guru (khususnya yang bapak-bapak) untuk sama-sama peduli dan memperhatikan ketertiban pelaksanaan salat Jumat, khususnya saat khutbah. Saya jelaskan bahwa menyimak isi khutbah adalah salah satu bagian dari rukun salat Jumat. Itu artinya jika ada orang yang mengobrol, bermain-main, atau tidur saat khutbah yang menyebabkan ia tidak menyimak apa yang disampaikan khatib, maka shalat Jumatnya sia-sia alias tidak mendapatkan pahala (rugi). Sebagaimana sabda Rasulullah, Jika kamu berkata kepada temanmu, “Diamlah” sementara imam sedang berkhutbah di hari jumat, sungguh ia telah berbuat sia-sia.” (Muttafaqun ‘alaihi). Tidak hanya ke guru, ke siswa pun juga saya sampaikan hal yang sama. Sebelum memulai pelajaran, saya nasehatkan agar bersama-sama dapat menjaga suasana kondusif dan menyimak khutbah ketika salat Jumat.


Pada pelaksanaan salat Jumat berikutnya, kondisi mulai lebih baik. Tidak lagi segaduh seperti jumat sebelumnya. Guru-guru mulai lebih kompak untuk khidmat menyimak khutbah. Namun dari siswa, masih ada beberapa dari mereka yang asyik sendiri. Saya sengaja duduk agak belakang untuk dapat memantau siapa-siapa saja siswa yang masih mengobrol saat khutbah berlangsung. Oke berarti, harus ada langkah selanjutnya, tidak boleh putus asa. Mungkin dakwahnya harus lebih kuat dan menyentuh lagi, qudwahnya perlu lebih solid. Saya putuskan untuk melakukan pendekatan personal kepada siswa yang masih mengobrol saat khutbah. Dengan seizin HBT, saya ajak mereka bicara face to face. Saya dengarkan apa yang membuat mereka tidak menyimak khutbah dan lebih memilih mengobrol. Ada yang menyampaikan khutbahnya sering kelamaan dan ngebosenin, guru-gurunya juga ada yang ngobrol atau main HP. Saya katakan bahwa untuk alasan yang kedua, sebenarnya sudah tidak ada lagi guru yang seperti itu. “Silahkan nanti dilihat saat salat Jumat berikutnya apakah ada guru yang masih tidak menyimak khutbah. Jika ada, laporkan ke bapak siapa gurunya”, jawab saya. Sedangkan untuk alasan yang pertama, saya janjikan kepada mereka, bahwa akan disaampaikan kepada khatib agar lebih efektif dari segi waktu dan tema yang diangkat perlu menarik perhatian siswa.


Kembali saya pun bergerilya ke guru-guru menyampaikan untuk dapat mempertahankan teladan yang sudah baik saat menyimak khutbah. “Siswa pasti akan menjadikan kekurangan pada kita untuk sebagai celah menjadi pembenaran. Apalagi ini dalam masalah syariat”, jelas saya. Selain itu, untuk guru-guru yang mendapatkan tugas khatib, saya juga mengajak diskusi tentang khutbah yang efektif dan menarik. Sesungguhnya khutbah itu tidak perlu lama, yang penting bermakna dan berkesan. Saya dan guru agama lainnya, menawarkan kepada guru-guru yang akan bertugas sebagai khatib, agar dapat konsultasi terlebih dahulu mengenai tema yang akan diangkat. Hal ini sebagai langkah menciptakan khutbah yang berkualitas di sekolah.


Tiba di pelaksanaan salat Jumat pekan ketiga pasca perbaikan kondisi saat khutbah. Suasanya sudah sangat baik, siswa-siswa yang sudah diajak bicara face to face, kini kondusif menyimak isi khutbah. Khatib pun menyampaikan isi khutbah dengan padat dan jelas, tidak bertele-tele seperti sebelum-sebelumnya. Bisa dikatakan 90% jemaah salat Jumat tidak mengobrol, 10% lagi masih ada yang mengobrol. Baiklah, diajak secara terbuka sudah, dinasehati secara personal sudah, maka selanjutnya jika masih belum berubah, perlu ada tindakan tegas yang diambil. Saya kembali memanggil beberapa siswa yang masih mengobrol saat khutbah Jumat, jumlah sudah tidak sebanyak sebelumnya. Saya kumpulkan mereka saat itu di lapangan basket dan minta mereka membawa kertas dan alat tulis. Saya tanyakan kepada mereka, mengapa mereka saya panggil dan kumpulkan di lapangan basket. Semuanya tahu dan sadar, dikarenakan mengobrol saat khutbah Jumat. Saya tanya lagi tentang konsekuensi syariat yang mereka terima jika melakukan seperti itu, mereka pun tahu bahwa salat jumat mereka sia-sia. “Jika kalian tahu semua tentang itu, sekarang silahkan tulis di kertas yang kalian bawa, komitmen untuk menyimak khutbah dan tidak mengobrol saat khutbah. Serta jika kalian masih melanggar, tuliskan konsekuensi kedisiplinan apa yang akan kalian kerjakan, lalu kalian tanda tangan di bawahnya, bapak juga akan tanda tangan dan minta tanda tangan ke kepala sekolah juga”, tegas saya. Setelah semuanya sudah tanda tangan, komitmen mereka yang sudah dituliskan dikumpulkan ke saya. Saya baca konsekuensi kedisiplinan yang mereka tuliskan, ada yang akan menulis istighfar 100 kali, ada juga yang akan piket selama 1 bulan, dan lain-lain.


Dampaknya? Salat Jumat keempat, suasananya sudah 100% kondusif. Seluruh jemaah dapat menyimak khutbah Jumat dengan sangat baik. Dari semua ini, saya belajar bahwa untuk merubah dan memperbaiki suatu keadaan atau individu butuh proses. Selama proses tersebut butuh kesabaran, istiqomah, dan melibatkan Allah (niat untuk dakwah dan menjadi qudwah). Terlebih bagi seorang guru kepada peserta didik, manusia berhadapan dengan manusia. Maka cara-cara untuk mendidiknya pun harus dengan cara manusiawi, sdan cara terbaik adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh teladan kita Nabi Muhammad.

8 tampilan0 komentar

Mutiara Bunda Group of Schools

Head Office : Jl Padang Golf No. 11, Arcamanik, Bandung

admin@sekolahmutiarabunda.com

Telp : (022) 721-1200

©2019 by Mutiara Bunda.