Pendidikan Perilaku Kunci Masa Depan (PPKM) Multi Level

By M. Ariefianto

 

Perilaku Terjaga, Hidup Bermakna

Sejak awal Allah SWT menciptakan manusia, yaitu Nabi Adam a.s. berikut anak keturunannya, maka perilaku menjadi tolok ukur pembeda. Perilaku baik diwujudkan oleh Habil, sementara perilaku tidak baik ditunjukkan oleh Qabil. Puncak dari perseteruan perilaku tersebut adalah sejarah pertamakali darah tertumpah di muka bumi dengan terbunuhnya Habil di tangan Qabil. Peristiwa ini menggambarkan sebuah realitas dalam hidup bahwa perilaku tidak baik itu bukan berarti lebih kuat karena berhasil mengalahkan perilaku baik, namun justru sebaliknya, peristiwa ini menunjukkan kelemahan perilaku dengan kebimbangan, berikut rasa bersalah yang selalu mengiringi kehidupan Qabil selanjutnya. Perilaku tidak baik akan menghukum pelakunya dengan rasa bersalah karena sumbernya bukan dari Allah SWT. Hanya perilaku baik saja yang bersumber dari nur ilahi, pencipta kita semua makhlukNya.


Setiap manusia yang terlahir di bumi akan mendapatkan bekal nur ilahiah atau biasa dikenal sebagai fitrah. Hal ini yang menjadikan setiap manusia pada dasarnya akan cenderung berperilaku baik serta senantiasa mengacu pada dzat yang menciptakannya yaitu Allah SWT. Hanya saja dalam perjalanan kehidupan setiap manusia banyak faktor yang menjadikan fitrah untuk selalu berperilaku baik itu pudar bahkan terkadang hilang sinyalnya. Faktor orangtua, juga keluarga di rumah, lingkungan, juga rekan di luar rumah, media, bahkan orang yang tidak dikenalnya sekalipun dapat memberi dampak dalam memperkuat atau melemahkan fitrah perilaku baik yang kita miliki. Tidak heran apabila Rasulullah sudah menekankan sejak awal melalui haditsnya, untuk berhati-hati dalam memilih teman dan lingkungan, karena teman dan lingkunganmu adalah cerminan perilakumu.


Urgensi Pendidikan Perilaku

Saat ini perilaku baik seolah menjadi barang langka dan mahal harganya. Lebih banyak kita diperlihatkan dengan perilaku tidak baik daripada perilaku baik, terkhusus di media sosial atau lebih dikenal dengan dunia maya dan tidak nyata. Imbalan viral dan bisa terkenal secara instan membuat sebagian besar manusia berlomba-lomba untuk berperilaku tidak baik. Ironisnya mereka melakukannya dengan bangga juga penuh kesadaran bahwa perilaku tidak baik yang dilakukannya adalah lumrah saja. Terlalu banyak dan gamblang contoh perilaku tidak baik yang terlanjur viral di masyarakat, kalau pun harus diambil contoh, satu di antaranya adalah pemuda yang menipu para fakir miskin dijalanan dengan memberikan dus yang tampak berisi makanan, namun kenyataannya mayoritas diisi batu dan tanah saja. Sungguh sangat tercela perilaku tidak baik yang pemuda itu lakukan. Viral tentu saja, bahkan sampai ke penjara urusannya.


Bercermin dari perilaku tidak baik yang ditunjukkan oleh pemuda yang dimaksud maka pendidikan perilaku baik menjadi sesuatu yang perlu untuk diwujudkan juga diperjuangkan. Terlalu banyak waktu belajar selama ini, fokus pada konten materi Matematika, Sains, dan Teknologi yang pada akhirnya tidak juga berdampak pada ranking capaian keterserapan materi dimaksud dalam survey Lembaga apapun di dunia, terlebih lagi dalam ranking PISA yang menjadi acuan ketercapaian siswa dari berbagai kurikulum bangsa di dunia. Setelah kita sadar bahwa pendidikan yang kita jalankan selama ini tidak juga menghasilkan target tertentu, maka sudah seyogianya kita merumuskan kembali target utama capaian pendidikan untuk anak-anak didik kita, yaitu perilaku yang baik. Tidak ada kata terlambat untuk merubah target dalam pembelajaran, selama ada tekad juga niat kuat maka Allah SWT akan memberikan jalannya.


Pendidikan Perilaku Baik Dimulai dari Diri

Pertanyaan penting untuk mulai menyimpulkan isi tulisan ini adalah bagaimana memulai Pendidikan perilaku baik? Awalnya kita akan menyangka pendidikan perilaku ini membutuhkan perangkat kurikulum terstruktur, lalu ada perencanaan pembelajaran yang runut, penyampaian materi dengan metode yang variatif di kelas, di ujungnya ada evaluasi yang efektif. Kenyataannya tidak perlu kita siapkan itu semua, rumus 3 M (Mulai dari Diri Sendiri, Mulai dari hal terkecil, Mulai saat ini) juga refleksi diri sebelum kita tidur (lebih banyak perilaku baik atau perilaku tidak baik yang kita lakukan sepanjang hari) menjadi kunci utamanya. Jika kita runut sejak bangun tidur, maka perilaku baik yang bisa kita lakukan adalah: merapikan tempat tidur, membersihkan diri dan berwudhu, ibadah shalat subuh, sedekah, baca qur’an, olahraga pagi, senyum-salam-sapa-sopan-santun pada siapapun yang kita temui, niat beribadah sepanjang hari ketika bekerja/sekolah, melakukan segala sesuatu yang terbaik sepanjang hari, selalu ceria berkomunikasi dalam keluarga, sampai menjelang tidur kita hitung, berapa banyak perilaku baik yang sudah kita lakukan di hari itu.


Konsistensi kita untuk senantiasa melakukan perilaku baik di sepanjang hari, akan menjadi sebuah pendidikan yang kontinyu. Bahkan bila terus menerus dilakukan akan berdampak pada orang-orang terdekat di sekeliling kita yaitu keluarga kita. Selanjutnya jika masing-masing keluarga terus menerus menunjukkan perilaku baiknya, maka akan membuat lingkungan tempat tinggalnya juga berperilaku baik. Lalu ujungnya akan berimbas pada sebuah bangsa yang senantiasa berperilaku baik. "Anda bisa mati sebagai pahlawan, atau hidup begitu lama sehingga bisa melihat diri sendiri menjadi penjahat." Itu diucapkan oleh Harvey Dent, karakter Two Face di akhir film Batman: The Dark Knight, yang disutradarai oleh si jenius Christopher Nolan. Kutipan itu memang ekstrem, antara pahlawan dan penjahat. Tapi kutipan itu sebenarnya mengingatkan pada kita semua akan akhir dari diri kita semua, kita semua berpotensi menjadi pahlawan berperilaku baik atau penjahat yang berperilaku tidak baik, pilihan di tangan kita, ayo segera ambil sikap, untuk masa depan.


Bersahabat di Mutbun, bertetangga di Surga. Salam semangat sahabat!

Wassalam

24 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua