Superiorlah Budaya Negeriku Janganlah Inferior

(Tema: Gelora Budaya)

Oleh: Mochamad Raditya Hermawan XII Victory

“Superiorlah bangsaku segera, inferior janganlah muncul. Rakyatmu haruslah superior.” Apakah kalimat tersebut terdengar ekstrim? Jika iya mungkin Anda belum benar-benar bangga dengan negeri Anda. Buanglah rasa inferior dari diri Anda terhadap budaya yang ada di Indonesia. Negeri ini membutuhkan sikap superior atas budaya nasional dari segenap warganya. Superior artinya bangga atau punya harga diri, inferior? Kebalikan dari superior. Dengan sikap superior kita bisa menbanggakan seluruh kebudayaan yang ada di negeri kita. Lalu, budaya apakah yang harus kita banggakan dan gelorakan? Buang sampah sembarangan, korupsi, malas, dan hal buruk yang sayangnya marak ditemui di Indonesia? BUKAN ITU, budaya yang paling harus dibanggakan dan digelorakan adalah budaya sikap yang sudah ada sejak dahulu, yakni gotong royong, kekayaan moril, dan kekayaan pangan, sandang, serta papan bangsa ini. Hanya satu yang dibacakan secara khusus? Kunci dari bergeloranya budaya bangsa di negerinya sendiri itu adalah gotong royong. Dengan gotong royong kita bisa saling membangun kebanggaan dan kemudian menggelorakan budaya kita dengan bidang kita masing-masing.


Kembali lagi soal menggelorakan budaya, apakah menggelorakan budaya itu sulit? Iya jika kita harus menari piring saat kita terjun payung atau saat kita harus memasak tengkleng di dalam kandang beruang. Menggelorakan budaya itu harus didasarkan sikap superior atas bangsa kita sendiri. Bayangkan bagaimana jika suatu saat nanti para generasi muda di Indonesia tak begitu mengenal lagi kebudayaan tradisionalnya, namun mereka malah jauh lebih mengenal kebudayaan yang sama sekali bukan dari bangsanya. Aneh? Ya, tapi tak aneh jika jiwa inferior terhadap bangsa kita muncul. Agar kebudayaan kita menggelora dengan rasa superior, maka tanamkan bahwa setiap bangsa memiliki budaya yang secara hierarki kehormatan adalah horizontal, alias setara. Jika kita berhadapan dengan para penerus bangsa, sebutlah bahwa budaya kita adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dipahami. Sugestikan pada mereka kalau tempe itu lebih lezat dari nugget ayam, batik itu tidak pernah membosankan, alias elok, dan cepot itu adalah karakter yang bersahabat bagi anak (setelah ada penyesuaian dari para dalang yang kami banggakan.) Dalam repersepsi dan proses pewarisan diperlukan penggeloraan dengan gotong royong, bagaimana caranya? Mudah saja, gotong royong. Bagaimana prinsipnya? Satu orang membangunkan kembali es selendang mayang, satu orang menyiarkan keindahan batik, satu orang lainnya membangunkan kearifan-kearifan bangsa selain yang tertera tadi. Sebenarnya superioritas budaya bangsa itu bisa dipupuk dengan sang kunci kegemilangan budaya, ya Anda sudah tahu kan jawabannya?


Terkadang kita isin terhadap Indonesia, negeri kita sendiri, seharusnya tak wajar, namun jika diketahui dengan seksama, sebabnya sangat wajar. Iya wajar jika sebabnya adalah sikap inferior, sikap yang kita harus buang jauh-jauh dan ambil antonim dari kata tersebut. Sikap inferior adalah bukti kita merasa lemah disandingkan bangsa lain, akibatnya? Kita sebisa mungkin mengubah pola budaya yang biasa ada pada kita. Pola budaya yang kurang baik yang memang harusnya diubah memang ada, sebagai contoh: Budaya ngaret dan budaya menyerobot. Sayangnya yang ikut terubah seringkali adalah pola budaya bangsa yang arif. Contohnya? Gotong royong, semangat menonton pagelaran wayang dan semangat kebersamaan di tempat umum. Lalu mengapa budaya yang arif ikut-ikutan terpudarkan? Anda bisa jawab sendiri. Saya yakin Anda bisa menjawabnya dalam hitungan detik.


Lemah menjadi yakin, pesimis menjadi yakin, bimbang menjadi yakin, dan sekali lagi putus asa menjadi yakin. Yakin? Yakin apa? Yakin kebudayaan bangsa akan jaya dan bergelora di jiwa dan raga anak bangsanya dengan jiwa penuh rasa bangga atau bisa disebut superior. Memang tampak berputar-putar dan membosankan perkataannya, namun apa daya toh memang itu kuncinya, andil besarnya. Ya Anda tahu sendiri apa andil besarnya, sesuatu yang kini terpudarkan oleh individualitas. Individualitas yang merenggut kunci geloranya budaya kita. Lalu apa sebab individualitas itu merongrong hidup kita? Saya tak tahu, lebih baik tanyakan pada rumput yang bergoyang. Mungkin rumput yang bergoyang pun tak tahu jawabannya.


Satu, dua, tiga! Satu, dua, tiga! Satu, dua, tiga! Semangat! Semangat! Semangat! Saya sedang apa? Memberi semangat pada Anda semua. Mengapa? Sederhana saja, saya tak mungkin memasak rendang sambil memacu karapan sapi dan Anda tak bisa makan kupat saat Anda bawa sisingaan kan? Anda tahu artinya? Saya harap Anda mengerti maksud saya. Sebentar, bicara soal kesenian sisingaan apakah Anda tahu filosofisnya? Jika belum tahu maka saya jelaskan. Sisingaan adalah kesenian yang digunakan untuk menyindir penjajah. Isi sindirannya adalah: Singa, tokoh yang gagah perkasa ditunggangi anak kecil. Apa maknanya? Maknanya, sesuatu yang kuat, dengan secercah harapan bisa ditaklukkan sosok yang dianggap kurang kuat. Sekali lagi, Anda pasti paham mengapa saya menjelaskan analogi sisingaan di artikel ini. Ya, para praktisi sisingaan sudah bisa menyuperiorkan pola pikirnya meski dalam masa penjajahan.


Sebagai epilog, saya memohon maaf jika ada perkataan yang tak berkenan di hati Anda semua. Sebagai pengingat sajalah saya membuat artikel ini. Singkatnya saya mengingatkan Anda semua bahwa superioritas bangsa berasal dari bergeloranya sang budaya bangsa. Dan, kunci dari bergeloranya budaya adalah galakan gotong royong. Sekian dari saya, salam adidaya dan sampai jumpa di artikel saya berikutnya!

9 tampilan

Mutiara Bunda Group of Schools

Head Office : Jl Padang Golf No. 11, Arcamanik, Bandung

admin@sekolahmutiarabunda.com

Telp : (022) 721-1200

©2019 by Mutiara Bunda.