Mutiara Bunda Group of Schools

Head Office : Jl Padang Golf No. 11, Arcamanik, Bandung

admin@sekolahmutiarabunda.com

Telp : (022) 721-1200

©2019 by Mutiara Bunda.

TAAT DALAM KEBAIKAN

Oleh Moh. A. Iskandar



Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. An-Nisa/4: 59).


MAKNA TAAT

Taat berasal dari kata tha'a, yatuu'u-yathaa'u, thau'an yang artinya tunduk, patuh. Allah Swt menciptakan alam semesta dan seluruh isinya, termasuk jin dan manusia, untuk tunduk, patuh dan taat kepada-Nya. Banyak ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang hal ini, diantaranya Q. S. Ali-Imran: 83, Allah Swt berfirman: “Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang ada di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?”. Ayat lain, dalam Q. S. Al-Baqarah: 116, Allah Swt berfirman: “Dan mereka berkata, “Allah mempunyai anak”. Mahasuci Allah, bahkan milik-Nyalah apa yang di langit dan di bumi. Semua tunduk kepada-Nya”. Masih banyak ayat-ayat lain yang menyatakan tentang ketundukan dan ketaatan alam semesta ini kepada setiap perintah Allah. Seluruh ayat-ayat itu menunjukkan tentang wajibnya taat terhadap perintah Allah baik dengan sukarela maupun terpaksa. Dalam ayat-ayat tersebut juga berbicara tentang peringatan kepada manusia yang mempertanyakan mengapa manusia tidak mau tunduk kepada Allah padahal seluruh alam semesta ini tunduk dan patuh kepada-Nya.


Setiap perintah ataupun larangan Allah kepada manusia pasti mengandung hikmah dan kebaikan. Sedangkan pengingkaran terhadap perintah dan larangan-Nya, dapat berakibat kerusakan tidak hanya terhadap pelakunya sendiri akan tetapi bagi orang lain dan alam sekitarnya. Dalam Q. S. Ar-Rum: 41, Allah Swt berfirman: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).“ Sehubungan dengan ayat tersebut, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan firman Allah Swt.: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia” yaitu dengan berkurangnya hasil tanam-tanaman dan buah-buahan karena banyak perbuatan maksiat yang dikerjakan oleh para penghuninya. Abul Aliyah mengatakan bahwa barang siapa yang berbuat durhaka kepada Allah di bumi, berarti dia telah berbuat kerusakan di bumi, karena terpeliharanya kelestarian bumi dan langit adalah dengan ketaatan (Tafsir Ibnu Katsir).


Karena itu setiap manusia wajib untuk taat, tunduk, dan patuh kepada perintah maupun larangan Allah Swt. agar terhindar dari kerusakan yang akan menimpa manusia itu sendiri. Sebaliknya ketika manusia benar-benar melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan sungguh-sungguh disertai keikhlasan maka Allah akan memberikan ganjaran yang berlipat. Kesungguhan untuk taat, tunduk, dan patuh kepada perintah Allah bisa disebut takwa artinya menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangannya. Balasan bagi orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah adalah melimpahnya keberkahan dari langit dan bumi (Q. S. Al-A’raf: 96).


BENTUK KETAATAN

Ketaatan terbagi dalam dua bentuk yaitu, pertama, ketaatan kepada Allah yaitu melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya. Kedua, ketaatan kepada manusia. Ketaatan kepada Allah adalah ketaatan yang mutlak dan wajib tak bisa ditawar lagi. Ketaatan kepada Allah ini kemudian disandingkan dengan ketaatan kepada Rasul (Muhammad Saw) dengan penegasan kata athiiullaha wa athiiu rasul sebagaimana telah disebutkan dalam Q. S. Annisa di atas. Taat kepada Rasulullah adalah dengan mengikuti semua perintah, larangan, dan apa-apa yang dibenarkan olehnya. Dengan ittiba (mengikuti) kepada Rasulullah berarti kita taat kepada Allah sebagaimana firman Allah dalam Q. S. Ali Imran: 31, “Katakanlah: jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.


Manusia membutuhkan contoh nyata sebagai panduan dalam rangka menjalankan ketaatannya kepada Allah Swt. Karena itu, Allah menjadikan Rasulullah sebagai seseorang yang harus diikuti secara mutlak. Sedangkan ketaatan kepada manusia selain Rasulullah adalah bentuk ketaatan atas perintah Allah dan Rasulnya. Maka dari itu, ketaatan kepada manusia tidak mutlak. Ketaatan kepada manusia tidak boleh menyelisihi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Untuk itu, ketaatan kepada manusia hanyalah ketaatan terhadap apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya bukan atas apa yang menyelisihinya.


TAAT KEPADA PEMIMPIN

Taatnya manusia kepada pemimpin adalah sebuah keharusan. Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan: “Di dalam ayat ini (Q. S. An-Nisa: 59. red) Allah memerintahkan untuk taat kepada-Nya, kemudian kepada Rasul-Nya, kemudian kepada para Umara, menurut perkataan jumhur, Abu Hurairah, ibnu Abbas, dll.” Sedangkan Ibnu Khuwaidzi menjelaskan: “Adapun taat kepada sultan maka wajib dalam rangka taat kepada Allah dan tidak wajib dalam perkara maksiat kepada Allah…” (Al-Jami’ lil Ahkamil Qur`an 5/167, 168). Ulama lain yaitu Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di mengatakan: “(Dalam ayat ini) Allah memerintahkan (kaum mukminin) untuk taat kepada-Nya dan taat kepada Rasul-Nya yaitu dengan mengerjakan perintah keduanya baik yang wajib maupun yang sunnah dengan menjauhi larangan keduanya. Dan Allah juga memerintahkan (kepada kaum mukminin) untuk taat kepada Ulil Amri, yaitu orang yang mengurusi kepentingan umat, baik itu Umara, pemerintah maupun mufti-mufti karena sesungguhnya tidak akan konsisten urusan Dien dan dunia kecuali dengan taat kepada mereka dan tunduk kepada perintah-perintah mereka dalam rangka taat kepada Allah dan mengharap pahala yang ada di sisi-Nya. Akan tetapi dengan syarat mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Apabila mereka memerintahkan kepada kemaksiatan, maka tidak ada taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.”


Berdasarkan pendapat para ulama di atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa taat kepada pemimpin adalah suatu kewajiban. Akan tetapi ketaatan terhadap pemimpin tidaklah mutlak. Ketaatan kepada pemimpin karena merekalah yang telah mengurusi segala kepentingan umat. Ketaatan kepada pemimpin juga dibatasi atau didasarkan kepada ketaatan kepada Allah dan Rasulnya. Sehingga jika pemimpin memberi perintah yang menyalahi aturan Allah dan Rasulnya maka tidak wajib ditaati.


Pertanyaan selanjutnya, siapakah pemimpin itu atau siapa sajakah pemimpin yang harus ditaati? Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di menjelaskan yang dimaksud pemimpin adalah orang yang mengurusi umat baik itu umara, pemerintah, maupun mufti-mufti. Beliau mengatakan: “Dan Allah juga memerintahkan (kepada kaum mukminin) untuk taat kepada Ulil Amri, yaitu orang yang mengurusi kepentingan umat, baik itu Umara, pemerintah maupun mufti-mufti karena sesungguhnya tidak akan konsisten urusan Dien dan dunia kecuali dengan taat kepada mereka dan tunduk kepada perintah-perintah mereka dalam rangka taat kepada Allah dan mengharap pahala yang ada di sisi-Nya. Akan tetapi dengan syarat mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Apabila mereka memerintahkan kepada kemaksiatan, maka tidak ada taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” Berdasarkan pendapat ini maka yang dimaksud dengan ulil amri (pemimpin) adalah orang-orang yang mengurusi kepentingan umat.

MANFAAT KETAATAN

Sebagaimana yang telah diterangkan di atas, yang dimaksud dengan ulil amri adalah para pemimpin yang mengurusi segala urusan kepentingan umat. Artinya mereka yang telah menjadi pemimpin, baik itu melalui penunjukkan, pemilihan atau apapun yang menyebabkannya menjadi pemimpin, tentu memiliki hak dan kewajiban membuat aturan dalam rangka mengurusi kepentingan umat. Aturan yang sudah dibuat oleh para pemimpin harus ditaati demi kemaslahatan bersama. Yang terpenting aturan tersebut tidak menyalahi aturan Allah dan Rasul-Nya, seperti misalnya melarang sholat, melarang puasa, melarang ibadah haji, dsb.


Aturan dibuat untuk dilaksanakan dengan tujuan menjaga ketertiban dan keteraturan itu sendiri. Melaksanakan aturan berarti menjaga ketertiban dan keteraturan. Sebaliknya jika aturan itu tidak dilaksanakan atau dilanggar bisa menyebabkan kekacauan dan kerusakan. Dengan melaksanakan aturan, berarti kita telah menjaga kepentingan umat dari hal-hal yang bisa merusaknya.


Lalu bagaimana agar kita bisa taat dalam menjaga aturan? Pertama, yang harus ditekankan adalah melaksanakan aturan merupakan perintah dari Allah Swt. Tidak melaksanakan aturan berarti melanggar perintah Allah dan itu termasuk ke dalam perbuatan dosa. Jika kita ingin dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa maka wajib untuk taat terhadap aturan serta melaksanakannya dengan ikhlas sesuai dengan perintah Allah Swt. Kedua, taat kepada aturan dengan melaksanakannya dapat menciptakan ketertiban dan keteraturan sehingga manusia bisa menjalani hidupnya dengan aman dan damai. Ketiga, dengan selalu berperilaku taat dapat membimbing pelakunya untuk senantiasa memegang teguh keimanan kepada Allah Swt.

39 tampilan