Tahun Baru Islam sebagai Momentum Hijrah Sesungguhnya

VPP SMP-SMA Notes: Edisi September 2020

By M. Ariefianto



Hubungan Tahun Baru Islam dan Hijrah

Merunut pada sejarahnya, saat penentuan darimana momentum Tahun Baru Islam dimulai, para sahabat yang saat itu dipimpin oleh Khalifah Umar bin Khattab berbeda pendapat. Usulan awal para sahabat di momen kelahiran nabi Muhammad SAW, namun usul ini dikontra dengan opini sahabat lainnya yang khawatir akan menimbulkan kultus yang berlebihan apabila momen tahun baru di momen kelahiran nabi Muhammad. Perlu diakui pendapat ini sangat cerdas dan futuristik dari para sahabat saat itu yang seolah mampu menjangkau masa depan, dimana umat di akhir zaman akan makin mudah mengkultuskan pribadi nabi Muhammad, sesuatu yang beliau sendiri hindari di saat hidup bahkan sampai akhir hayatnya yang tetap ingin diperlakukan seperti pemimpin versi beliau tanpa penghormatan yang berlebihan seperti raja-raja dan penguasa dunia lainnya. Selanjutnya usul berikutnya tahun baru dikaitkan dengan momen nabi Muhammad menerima wahyu pertama kali, segera usul ini pun dikontra sahabat lainnya dengan berbagai argumen yang masuk pemahaman sahabat lainnya. Begitupun usul dikaitkan dengan tanggal wafatnya nabi Muhammad SAW.


Diskusi para sahabat saat itu sampai ke usulan momen tahun baru Islam dikaitkan dengan momen hijrah nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah. Usulan ini diterima oleh mayoritas para sahabat yang saat itu berdiskusi. Momen hijrah yang dilakukan para sahabat di Makkah saat itu memang tidak akan pernah bisa dirasakan emosinya oleh kita saat ini yang tidak mengalaminya, namun satu kata yang bisa menggambarkannya adalah berat. Meninggalkan kenyamanan hidup yang sudah dirasakan menuju ke sebuah kondisi ketidaknyamanan yang mewujud secara naluri manusia adalah hal yang paling dihindari dalam hidup ini. Namun saat itu para sahabat di Makkah benar-benar meninggalkan semua kenyamanan berupa harta benda, sebagian sanak famili, bahkan kenangan hidup di Makkah untuk pergi ke sebuah tempat baru yang mana kehidupan akan dimulai dari nol lagi di Madinah. Semua itu tidak akan bisa dilakukan tanpa bekal keimanan yang sangat tebal juga ketaqwaan pada Allah SWT melalui rasulNya. Sehingga wajar apabila semua sahabat sepakat momen hijrah digunakan sebagai penanda awal tahun baru Islam, karena momen ini sangat istimewa dan tak tergantikan di hati para sahabat semuanya.

Keistimewaan Hijrah dalam Sejarah

Semua sahabat sepakat bahwa peristiwa besar dalam hidupnya yang pernah dialami selain keislaman mereka adalah momen hijrah dari Makkah ke Madinah. Berbagai tipe sahabat ketika melakukan hijrahnya, sebagian berkelompok dengan sembunyi-sembunyi. Sebagian lagi sahabat masih berkelompok dengan terang-terangan. Tentu yang paling fenomenal adalah sahabat Umar bin Khattab dan Hamzah bin Abdul Mutthalib yang memang terkenal pemberani yang melakukannya sendiri-sendiri dengan didahului thawaf di Baitullah di hadapan para pembesar Quraisy saat itu, setelah selesai thawaf masih sempat berbincang ke para pimpinan Quraisy, bahwa barangsiapa yang ingin istrinya jadi janda dan anaknya jadi yatim silahkan cegat keberangkatannya di balik bukit Jabal Qubaisy di sekitar Makkah. Tentu saja tidak ada satu pun para pemimpin Quraisy itu yang menerima tantangan sahabat Umar dan Hamzah saat itu karena konsekuensi yang akan dirasakannya. Apapun tipe keberangkatan hijrah para sahabat saat itu semuanya meninggalkan harta benda, sanak famili, bahkan cerita hidup di tanah kelahiran yang tidak mudah tuk dihilangkan. Sangat berat untuk ukuran manusia, kecuali manusia yang beriman dan bertaqwa. Pengorbanan besar dari para sahabat muhajirin yang pindah dari Makkah dan Madinah saat itu.


Perasaan dan pengorbanan yang dilakukan oleh para sahabat di Madinah atau dikenal dengan sebutan anshar yang menerima kedatangan para sahabatnya dari Makkah juga tak kalah besar. Menerima seseorang yang baru tuk menempati wilayahnya dengan berbagai latar belakang juga pribadi yang berbeda sudah menjadi sebuah tantangan, ditambah lagi kelapangan hati tuk berbagi harta dan tempat tinggal dengan orang yang baru datang tersebut. Bahkan beberapa sahabat anshar yang dipersaudarakan dengan sahabat Abdurrahman bin Auf selain menawarkan membagi harta benda juga menawarkan berbagi keluarganya. Namun karena kualitas keimanan sahabat Abdurrahman bin Auf yang tinggi, maka dengan halus beliau tolak semua tawaran saudara ansharnya, beliau hanya ingin ditunjukkan dimana pasar, maka setelah ditunjukkan pasar tidak sampai beberapa bulan harta benda Abdurrahman bin Auf yang ditinggalkannya di Makkah kembali berkali-kali lipat. Semua ini juga membuktikan bahwa apa yang dilakukan sahabat anshar yang menerima saudara muhajirin dari Makkah juga tidak mudah. Semua hanya bisa terjadi karena kualitas keimanan mereka yang sangat tinggi, khususnya ingin mengamalkan apa yang Allah anjurkan melalui rasulNya, nabi Muhammad SAW.


Berikutnya peristiwa hijrah juga menjadi semacam penyaring juga bukti nyata diantara para sahabat, mana yang masih berat oleh urusan duniawi serta mana sahabat yang memilih untuk mempertahankan keimanan dan ketaqwaannya. Semua jelas setelah hijrah ini. Bahkan ada seseorang yang hijrahnya karena ingin selalu bertemu dengan wanita yang diidamkannya, bukan karena Allah dan RasulNya, maka ini mendasari sebuah hadits yang terkenal tentang niat.


Hikmah Hijrah dan Tahun Baru Islam untuk Kita

Sebagai akhir dari kisah hijrah dan tahun baru Islam memberikan berbagai hikmah yang sangat banyak bagi kita, diantaranya ada 3 poin penting yang perlu kita teladani untuk menjalani kehidupan di akhir zaman ini. Hikmah-hikmah dimaksud adalah:


pertama semua amal atau perbuatan kita sangat bergantung kepada niatnya. Momen hijrah ini membuktikan siapa saja yang niatnya untuk mempertahankan aqidah juga ibadah kepada Allah dengan bimbingan RasulNya maka akan mendapatkan Allah dan RasulNya. Begitupun ketika ada sahabat yang hijrahnya karena berniat ingin selalu dekat dengan wanita idamannya yang ikut hijrah maka akan mendapatkan hanya wanita idamannya saja tanpa balasan kebaikan dari Allah melalui RasulNya. Niat ini begitu pentingnya bagi kaum muslimin. Hal ini yang akan menentukan proses berikut kualitas hal yang akan dikerjakan, apakah itu terkait ibadah langsung kepada Allah ataupun ibadah yang terkait hubungan antar manusia dalam bermasyarakat. Oleh karenanya momen tahun baru khususnya yang berhubungan dengan peristiwa hijrah memberikan hikmah untuk memperhatikan kembali niat di setiap hal yang akan kita lakukan. Niatkan semua hal untuk ibadah kepada Allah sesuai tuntunan RasulNya, supaya setiap hal yang kita kerjakan selalu dalam ridho dan kebaikan dari Allah.

kedua setelah kita memperhatikan niat di setiap aktivitas, hikmah berikutnya ketika kita akan berhijrah kita perlu mempersiapkan segala sesuatu dengan perencanaan yang matang dan terukur. Rasulullah SAW dan para sahabat mempersiapkan hijrah dari beberapa waktu sebelumnya dengan mempertimbangkan berbagai hal termasuk resiko dan konsekuensinya. Oleh karenanya dibuat sistem hijrah bertahap tidak sekaligus, menyesuaikan dengan karakter, kesiapan juga mental dari masing-masing sahabatnya. Hal ini jadi penting tuk kita teladani saat ini untuk selalu mempersiapkan perencanaan yang menyeluruh berikut resiko dan konsekuensi ketika akan melakukan sesuatu.

ketiga adalah setelah niat diikuti dengan perencanaan yang matang maka ketika pelaksanaan hijrah tetap harus memohon petunjuk serta perlindungan dari Allah SWT. Peristiwa yang dialami Rasulullah dan sahabat Abu Bakar AshShiddiq di gua Tsur ketika rombongan Quraisy nyaris menemukan tempat persembunyiannya dimana ditengah kepanikannya, Rasulullah menenangkan sahabatnya dengan kalimat “Laa Tahzan, Innallaha maana” Jangan Takut dan Khawatir, Allah bersama kita, memberi bukti bahwa Rasulullah sangat pasrah dan bergantung kepada Allah, karena kita manusia yang tiada daya dan upaya melainkan karena kehendakNya.

15 tampilan

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Budayaku Indonesia

Oleh Navin - X Modest Indonesia adalah negara yang memiliki aneka ragam kebudayaan, yaitu kebudayaan etnik dan kebudayaan asing. Setiap suku bangsa memiliki banyak kebudayaan yang sangat unik, bahkan

Mutiara Bunda Group of Schools

Head Office : Jl Padang Golf No. 11, Arcamanik, Bandung

admin@sekolahmutiarabunda.com

Telp : (022) 721-1200

©2019 by Mutiara Bunda.