Media Pembelajaran Anak Usia Dini

Oleh: Rani Yuniarti (Playschool Teacher)


Pendidikan Anak Usia Dini

Menurut The National for the Education of young Children (NAEYC) Pendidikan Anak Usia dini (PAUD) adalah Pendidikan yang ditujukan kepada anak usia 0 sampai 8 tahun yang mendapatkan layanan PAUD dan sekolah dasar kelas awal, yang mana pada masa ini disebut juga masa golden age, dimana pada masa ini kemampuan otak anak dalam berpikir berkembang pesat hingga mencapai 80%. Hal ini menjadi dasar utama mengapa pentingnya Pendidikan untuk anak usia dini, sebagaimana tahap-tahap perkembangan anak terdapat enam aspek perkembangan yang dapat di stimulasi dalam Pendidikan anak usia dini yaitu aspek perkembangan nilai moral dan agama, fisik motorik, Bahasa, sosial emosional, kognitif dan aspek perkembangan seni.


Menurut Permendikbud 137 tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rancangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.


Mengacu pada Pedoman Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, guru perlu memahami tentang pendekatan saintifik agar guru dapat memilih pendekatan pembelajaran yang paling sesuai dengan cara belajar anak.


Sebelum kita membahas bagaimana pembelajaran untuk anak usia dini, metode dan media apa saja yang diberikan. Terlebih dahulu kita akan membahas karakteristik belajar anak usia dini.

Karakteristik Belajar Anak Usia Dini


Karakteristik Belajar Anak Usia dini diantaranya adalah:

  1. Anak belajar secara bertahap
    Anak merupakan pembelajar alami. Anak memulai belajarnya sejak lahir dan terus berkembang secara bertahap, sesuai pengalaman yang mereka miliki. Mereka belajar dengan cara bertahap, sesuai dengan tingkat kematangan perkembangan berpikirnya mulai dari hal yang bersifat konkret ke abstrak dengan menggunakan seluruh inderanya yaitu melihat, mendengar, menghidu, merasa dan meraba.
  2. Cara berpikir anak bersifat khas
    Cara anak berpikir didapat dari pengalamannya sehari hari. Sumber pengalaman anak didapat dari pengalaman sensori, yaitu saat anak menggunakan indranya (penglihatan, pendengaran, penghidu, perasa/pengecap, peraba). Pengalaman berbahasa yang didapatkan anak saat mereka berkomunikasi dengan teman, orang tua, guru, atau orang lain. Pengalaman budaya yang didapatkan anak melalui kebiasaan di rumah, nilai yang diterapkan dalam keluarga termasuk yang berlaku di lingkungannya. Pengalaman sosial yang diperoleh dari teman sepermainan, perilaku orang dewasa, dan lain-lain. Pengalaman yang bersumber dari buku dan media massa, seperti surat kabar, majalah, televisi, radio, dan lain-lain.
  3. Anak belajar dengan berbagai cara
    Anak senang mengamati dan menggunakan mainannya dengan berbagai cara. Misalnya, mobil-mobilan dapat digerakkan maju mundur, dimainkan rodanya, dibongkar, dll. Sebaiknya, anak perlu diberi kesempatan untuk memainkan alat permainan dengan berbagai cara sehingga menemukan pengetahuan atau pengalaman baru.
  4. Anak belajar saat bersosialisasi
    Anak memperoleh banyak pengetahuan dan keterampilan melalui interaksi dengan lingkungannya. Kemampuan berbahasa, kemampuan sosial-emosional, dan kemampuan lainnya berkembang pesat bila anak diberi kesempatan bersosialisasi dengan teman, benda/alat main, dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Prinsip Pembelajaran PAUD

  1. Belajar melalui bermain
    Pemberian rangsangan pendidikan dengan cara yang tepat melalui bermain dapat memberikan pembelajaran yang bermakna pada anak.
  2. Berorientasi pada perkembangan anak
    Guru harus mampu mengembangkan semua aspek perkembangan sesuai dengan usia anak. Perkembangan anak tergantung pada kematangan anak. Kematangan anak dipengaruhi oleh status gizi, kesehatan, pengasuhan, pendidikan, dan faktor bawaan.
  3. Berorientasi pada kebutuhan anak secara menyeluruh
    Guru harus mampu memberi rangsangan pendidikan atau stimulasi sesuai dengan kebutuhan anak, termasuk anak yang mempunyai kebutuhan khusus.
  4. Berpusat pada anak
    Anak diberi kesempatan untuk mencari, menemukan, menentukan pilihan, mengemukakan pendapat, dan aktif melakukan serta mengalami sendiri. Dengan demikian, anak berperan sebagai pusat pembelajaran.
  5. Pembelajaran aktif
    Guru perlu menciptakan banyak kegiatan menarik yang dapat membangkitkan rasa ingin tahu serta memotivasi berpikir kritis dan kreatif pada anak. Anak didorong untuk menjadi pembelajar aktif, yaitu melakukan aktivitas belajar atas dasar ide anak, bukan hanya mengikuti instruksi atau arahan guru. Ketika menjadi pembelajar aktif, seluruh pancaindra, anggota tubuh, dan proses berpikir anak juga aktif.
  6. Berorientasi pada pengembangan karakter
    Pemberian rangsangan pendidikan dan pembelajaran diarahkan untuk mengembangkan nilai-nilai karakter. Pengembangan nilai-nilai karakter dilakukan secara terpadu baik melalui pembiasaan dan keteladanan yang bersifat spontan maupun terprogram.
  7. Berorientasi pada pengembangan kecakapan hidup
    Pemberian rangsangan pendidikan dan pembelajaran diarahkan untuk mengembangkan kecakapan hidup anak yang mencakup kompetensi abad 21 (berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis dan kreatif). Pengembangan kecakapan hidup dilakukan secara terpadu baik melalui pembiasaan, keteladanan, maupun kegiatan bermain yang
    terprogram.
  8. Lingkungan kondusif
    Lingkungan pembelajaran diciptakan sedemikian rupa agar menarik, menyenangkan, aman, dan nyaman bagi anak. Lingkungan yang kondusif atau yang mendukung mencakup suasana yang baik, waktu yang cukup, dan penataan yang tepat.
  9. Berorientasi pada pembelajaran demokratis
    Pembelajaran yang demokratis sangat diperlukan untuk mengembangkan rasa saling menghargai. Pembelajaran demokratis memupuk sikap konsisten pada gagasan sendiri, namun tetap menghargai orang lain dan mentaati aturan.
  10. Menggunakan berbagai media dan sumber belajar
    Penggunaan media dan sumber belajar yang beragam memiliki tujuan agar pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna, serta lebih dekat dengan kehidupan anak.

5 Metode Pembelajaran PAUD

Mengutip dari paud.id, secara umum, setidaknya ada lima teknis mengajar dan metode pembelajaran PAUD, yaitu metode bermain, metode bercerita, metode menyanyi atau musik, metode karyawisata, dan metode demonstrasi.

  1. Metode Bermain
    Dunia anak usia dini berpusat pada bermain. Sesuai dengan namanya, metode bermain menerapkan permainan sebagai pembelajaran siswa. Metode ini efektif dan banyak sekali manfaatnya. “Melalui bermain, anak-anak sedang mengumpulkan pengalaman-pengalaman sebagai fondasi yang kuat untuk perkembangan optimal mereka ke depannya,” ujar Damar dalam keterangan resmi Hei School Senayan, Sabtu (8/4/2023)
  1. Metode Bercerita
    Metode bercerita adalah metode pembelajaran anak usia dini yang menggunakan teknik guru bercerita tentang suatu cerita, dongeng, atau suatu kisah yang di dalamnya disisipkan pesan-pesan moral tertentu.
  1. Metode Menyanyi atau Musik
    Metode menyanyi adalah metode pembelajaran anak usia dini yang menggunakan media nyanyian sebagai wahana belajar anak.
  1. Metode Karyawisata
    Menurut Sagala (2007), karyawisata sebagai metode pembelajaran peserta didik di bawah bimbingan guru mengunjungi tempat – tempat tertentu dengan maksud belajar.
  1. Metode Demonstrasi
    Demonstrasi berarti menunjukkan dan menjelaskan. Jadi, dalam demonstrasi kita menunjukkan dan menjelaskan cara-cara mengerjakan sesuatu. Melalui demonstrasi, anak diharapkan dapat megenal langkah-langkah pelaksanaan.

Media Pembelajaran

Pentingnya Media Pembelajaran Untuk Anak Usia Dini

Media merupakan alat yang dapat digunakan sebagai perantara dalam menstimulasi semua aspek perkembangan pada anak usia dini baik aspek moral dan agama, fisik motorik, Bahasa, sosial emosi, kognitif dan aspek seni. Dalam menstimulasi aspek perkembangan anak usia dini harus disesuaikan dengan usia dan tahapan perkembangannya karena setiap anak walaupun usianya sama tapi terkadang memiliki tahap perkembangan yang berbeda.


Untuk merangsang semua aspek perkembangan anak usia dini tidak lepas dari media pembelajaran karena bagi anak usia dini belajar dilakukan melalui bermain dengan menggunakan media pembelajaran baik media nyata, audio, visual, media lingkungan sekitar maupun media audio visual, sehingga kegiatan pembelajaran pada anak usia dini berjalan efektif.


Menurut Hurlock anak usia dini memiliki daya konsentrasi yang singkat yaitu 10-15 menit. Dalam belajar anak uisa dini memerlukan perantara atau biasa disebut dengan media pembelajaran, dimana dengan adanya media pembelajaran mampu mengalihkan perhatian anak untuk tidak cepat bosan atau mampu konsentrasi dalam suatu kegiatan dengan waktu yang cukup lama dibandingkan dengan tidak menggunakan media pembelajaran.


Media banyak memberikan dampak positif bagi anak, baik yang berkenaan dengan proses perkembangan otak maupun yang berhubungan dengan kreativitas (Hasnidah, 2015).

Jenis-jenis Media Pembelajaran Anak Usia Dini

Berikut ini adalah jenis media dalam kegiatan bermain sambil belajar pada anak Taman Kanak-kanak (Thoiruf, 2008:20) antara lain:

  • Media audio biasa disebut dengan media dengar yang dapat menyampaikan pesan melalui suara dan bunyi seperti suara bahasa, musik, dan sound effect dapat dikombinasikan untuk menguatkan isi pesan.
  • Media visual yaitu media yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan/informasi melalui penglihatan yang berbentuk simbol-simbol visual.
  • Media audio visual adalah media yang dapat menyampaikan pesan melalui suara, gambar, dan tulisan. Media audio visual di bagi menjadi dua macam, yaitu media televisi dan film
  • Media lingkungan. Menurut Mariyana Lingkungan adalah suatu tempat atau suasana (keadaan) yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. Dengan kata lain, menurut Yaumi (2013:214) lingkungan belajar dapat diartikan sebagai laboratorium anak usia dini atau tempat bagi anak usia dini untuk bereksplorasi, bereksperimen dan mengekspresikan diri untuk mendapatkan konsep dan informasi baru sebagai wujud dari hasil belajar.

“Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi”. (Sardiman, dkk 2007)

Media pembelajaran berguna untuk beberapa hal, seperti dibawah ini:

  1. Menstimulasi perkembangan fisik motorik, yaitu kegiatan- kegiatan yang dapat menunjang atau merangsang gerakan motorik halus dan motorik kasar contohnya bola kecil sampai bola besar.
  2. Menstimulasi perkembangana bahasa, perkembangan Bahasa dapat di stimuasi melalui kegiatan latihan berbicara, mendengarkan dongeng, bermain peran dan membaca cerita bergambar atau berseri. Contohnya buku bergambar, buku cerita, dan alat bermain peran.
  3. Menstimulasi perkembangana kognitif, yaitu dengan pengenalan ukuran, bentuk, Warna, dll. Contoh alat permainan : Puzzle.
  4. Menstimulasi perkembangana sosial emosional, khususnya hubungannya antara ibu dan anak, keluarga dan masyarakat
  5. Menstimulasi perkembangana seni, menumbuhkan minat anak dalam bidang seni baik yang berhubungan dengan tari, menggambar, melukis dan mewarnai.
  6. Menstimulasi perkembangana nilai moral dan agama. Mengajarkan anak untuk disiplin, saling menghargai dan menghormati orang yang lebih tua.

Adapun contoh media pembelajaran yang dapat digunakan pada anak usia dini guna mengembangkan
aspek perkembangan anak, yaitu:

  1. Balok/kotak bangunan memperkenalkan kepada anak- anak berbagai bentuk geometri tiga dimensi misalnya, bulat, lingkaran, segi empat, segi tiga, setengah lingkaran, persegi panjang dan lain-lain. Dari balok anak mampu berimajinasi membuat satu bangunan kokoh
  2. Kotak-kotak huruf: untuk menarik minat baca dan menyusun huruf dalam kata yang bermakna. Melalui media ini anak dapat mengembangkan kemampuan bahasanya namun bukan hanya sekedar itu, melalui kotak ini anak akan belajar mengembangkan kemampuan logika dan berpikir.
  3. Boneka: untuk alat peraga dalam bermain sandiwara yang berkaitan dengan perkembangan kognitif
  4. Puzzle: melatih daya pengamatan dan daya konsentrasi

Untuk memberikan media pembelajaran yang tepat pada anak usia dini tentunya harus mengetahui ciri media yang sesui dengan tahap perkembangan anak, sebagimana dibawah ini yaitu:

  1. Alat permainan yang tidak bahaya untuk anak. Misalnya tidak menggunakan bahan yang tajam, media tidak memiliki sudut yang dapat membahayakan anak.
  2. Mengandung unsur pendidikan. Maksudnya adalah media pembelajaran yang disampaikan memiliki unsur pengetahuan bagi anak usia dini yaitu mengandung 6 apek perkembangan anak.
  3. Alat permainan yang beraneka macam, sehingga anak dapat bereksplorasi dengan berbagai macam alat permainannya yang menjadi sumber belajar anak.
  4. Memiliki tingkat kesulitan yang sesuai dengan kemampuan anak, tidak terlalu mudah sehingga anak termotivasi untuk menggunakannya namun juga tidak terlalu sulit sehingga anak masih mampu atau tidak putus asa dalam menggunakan media pembelajarannya.
  5. Menggunakan alat permainan yang sederhana, dan ada disekitar anak. Media pembelajaran tidak selalu harus mahal karena media bisa dibuat sendiri oleh guru untuk menghemat biaya karena banyak sekali media yang ada dilingkungan sekitar yang mampu dimodivikasi oleh guru sehingga menjadi media yang menarik dan menyenangkan bagi anak usia dini.
  6. Alat permainan yang tidak mengandung bahan pengawet sehingga, aman saat digunakan oleh anak.
  7. Alat permainan yang menjadi media harus memiliki keamanan, agar tidak membahayakan anak. Misalnya alat permainan yang memiliki sisi-sisi yang tumpul
  8. Alat permainan yang mempunyai desain yang sederhana tapi menarik.
  9. Alat permainan yang memiliki warna-warna yang mencolok sehingga menarik minat anak
  10. Alat Permainan yang bisa mengembangkan 6 aspek perkembangan anak sesuai dengan tahap perkembangannya

Terdapat beberapa media pembelajaran yang khusus di desain oleh guru untuk mengembangkan atau menstimulasi kemampuan anak tersebut namun banyak juga media yang dijual dipasaran sehingga mudah bagi guru untuk mencarinya. Berikut ini adalah salah satu media pembelajaran yang sudah saya siapkan untuk anakusia dini diantaranya:

  1. kotak warna-warni
  2. jepit jemuran warna-warni
  3. kartu angka
  4. kotak polos

Berikut ini adalah cara penggunaan dari media tersebut:

Permainan kotak warna-warni menggunakan jepit jemuran.

Cara permainannya:
Anak diajak untuk memasangkan jepit jemuran tersebut di kotak sesuai warnanya. Dari media tersebut banyak aspek perkembangan anak yang bisa distimulasi diantaranya aspek motorik halus, kognitif, kemandirian, sosial emosi dan Bahasa.
Manfaat dari permainan tersebut diantaranya adalah:

  1. Anak dapat mengenal warna dari permainan tersebut.
  2. Anak dapat mengelompokkan jepitan sesuai warnanya
  3. Jari-jari tangannya terstimulasi dengan cara menekan jepitan yang merupakan salah satu cara stimulasi pra- tulis juga
  4. Konsentrasi dan kesabarannya pun terlatih dengan ia harus memasangkan jepitan
    tersebut di kotak sesuai warnanya

Mengambil jepitan sesuai simbol angka

Cara permainannya:
Permainan ini bisa dikombinasikan dengan aspek lainnya seperti motorik kasar yaitu merayap/ berjalan di garis lurus dll. Sebelumnya anak diajak untuk merayap/ berjalan di garis lurus terlebih dahulu kemudian anak mengambil kartu angka yang sudah disimpan di lantai dalam keadaan terbalik. Anak diminta untuk mengambil kartu angka tersebut, kemudian diminta untuk menyebutkan symbol angkanya dan mengambil jepitan sesuai angka tersebut.
Manfaat dari permainan tersebut diantaranya adalah:

  1. Anak dapat mengenal symbol angka
  2. Anak dapat berhitung secara berurut
  3. Anak dapat mengenal konsep bilangan dengan cara mengambil jepitan sesuai
    angka/symbol angkanya.
  4. Motorik kasarnya pun terlatih dengan permainan merayap/ berjalan di garis lurus
    yang dilakukannya diawal

Membuat pola menggunakan jepitan warna-warni

Cara permainannya:
Anak diajak untuk membuat pola warna dari jepitan tersebut, dan menjepitkannya ke kotak polos. Ia menyusun pola tersebut mulai dari 2-4 pola sesuai dengan usia anak (PG-KA-KB).
Manfaat dari permainan tersebut diantaranya adalah:

  1. Anak dapat mengenal warna dengan menyebutkan warna-warna jepitan
  2. Anak dapat Menyusun jepitan sesuai pola warnanya
  3. Motorik halus anak semakin terlatih dengan membuka/menekan jepitan-jepitan
    tersebut
  4. Konsentrasi dan kesabaran anaknya pun semakin terlatih karena ia harus fokus
    ketika menyusun warna jepitan sesuai polanya

Kesimpulan

Itulah beberapa media pembelajaran anak usia dini yang sudah saya siapkan, dari media tersebut terdapat banyak aspek perkembangan yang dapat distimulasi. Anak-anak pun senang ketika mengikuti pembelajarannya karena di lakukan dengan cara bermain dan mereka pun tidak cepat merasa bosan ketika mengikuti permainannya terlebih saat permainannya di lakukan secara bersama-sama. Dengan kegiatan tersebut diharapkan selain bermain aspek perkembangan pada anak dapat terstimulasi sesuai dengan usianya dan tahapan perkembangannya.


Lihat seputar informasi mengenai pendaftaran, biaya pendidikan dan lainnya pada link berikut :

5 Responses

Leave a Reply